Sabtu, 28 Maret 2009

Kh achmad sidiq jember

A.HIDUP YANG ISTIQOMAH
Kyai Shiddiq atau lebih dikenal dengan julukan Mbah Shiddiq. adalah seorang tokoh panutan. Mungkin, tidak banyak tokoh seperti beliau, dimana semua putranya yang masih mencapai usia muda/dewasa telah menjadi kyai dalam arti yang sebenarnya. Demikian pula para menantunya

Putera-putranya yang sejak usia muda telah menjadi Kyai. antara lain: KH. Mansur, KH. Achmad Qusyairi, KH Machmud, KH. Mahfudz Shiddiq, K.H. Abdul Halim Shiddiq, KH. Abdullah bin KH. Umar, KH. Muhammad bin KH. Hasyim dan KH. Dhofir Salam. Keberhasilan tersebut tentu dipengaruhi pula oleh pola kehidupan sehari-hari dimasa hayatnya. Mungkin kita bertanya, bagaimana pola kehidupan Kyai Shiddiq sehingga Allah memberinya taqdir dengan dikaruniainya keturunan yang selanjutnya menjadi ibarat mutiara-mutiara

Ternyata, Kyai Shiddiq adalah sosok yang sangat "istiqomah", yaitu: tekun, telaten, ajeg, terus-menerus dengan tidak bosan-bosan dan mengamalkan apa saja yang dapat diamalkan. Dalam Surat Fushilat disebutkan:

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan "Tuhan kami Allah" " keniudian beristiqamah (meneguhkan pendirian-pendirian mereka tentang iman, melakukan kewajiban dan menjahui larangan-laranganNya), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan sorga yang telah dijanjikan A lloh kepadamu, (di dunia lewat rosul- rosul-Nya). Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia (dengan mengilhamkan kebenaran dan kebaikan kepadamu), dan akhirat (dengan pemberian syafa'at dan kemudahan). dimana kamu memperoleh yang kamu inginkan (dari segala kenikmatan) dan memperoleh pula yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penvayang ".

Hampir setiap hari Kyai Shiddiq selalu bangun pada jam 3 malam untuk sholat sunat tahajjud, riyadhah maupun sholat� sholat sunnah lainnya. Menjelang subuh, kyai keliling pondok membangunkan santri. Beliau keliling sambil membawa tongkat penjalin, damar ublik (obor) dan teko berisi air. Dengan tongkatnya beliau ketok pintu-pintu pondok para santri.Terkadang kyai membangunkan santri dengan cara menabuh blek gembreng, sehingga bersuara gaduh dan memekakkan telin�ga. Bahkan setiap santri yang terlelap tidurya, pasti akan menjadi sasaran guyuran air ceret yang selalu dibawanya.

Sesudah adzan (santri bernama Ryas yang ditugaskan sebagai Mu'adzin), kyai sendiri selalu memimpin pujian (dzikir) sebelum sholat subuh, setelah sebelumnya kyai melaksanakan sholat Qobliyah terlebih dahulu. Setelah berzikir/pujian kemudian melakukan sholat jamaah Subuh.

Untuk pedoman atau prinsip hi dup yang mudah diingat oleh anak cucu dan santrinya, Kyai Shiddiq memerintahkan Kyai Halim (putranya) menulis bebeapa dalil di tembok mussholla. tulisan yang ada ditembok sebelah atas pengimaman yaitu hadits sbb:

"Sebaik-baik perbuatan umatku adalah membaca .41 Quran dengan menyimak?melihat".

Imam Al Ghozali menjelaskan dalam Ihya' Uluumuddin: Bahwa keutamaan orang yang membaca Al Quran dengan melihat/menyimak�seraya merenungkan maknanya� adalah lebih baik dari pada dengan cara tidak melihat/menghafal. Membaca Al Quran dengan melihat tersebut memiliki 3 manfaat yaitu: Membaca, menyimak dan merenungkan artinya. Sedangkan dalam membaca Al Quran seraya menghafal hanyalah mendapat satu manfaat yakni membaca saja.
Disisi tembok sebelah kanan atas terdapat tulisan yang dikutip dari Idtab Jauharul Tauhid:

"Semua kebaikan itu terdapat pada pengikutan �kepada�orang-o terdahulu. Dan semua keburukan itu ada pada reka-reka orang kemudian�

Imam Al Ghozali memberikan argumentasi tentang diatas yakni karena orang salaf (terdahulu) telah memiliki kelebihan dari pada orang kemudian (Kholaf). Kelebihan ada pada 3 hal:
a. lebih faham (Mam)
b. lebih hati-hati (Wara')
c. lebih tajam pandangan hatinya (Abshar)

Disisi tembok sebelah kiri atas terdapat tulisan yang dikutip dari kitab kifayatul Atqiyak:

"Kamu sungguh jangan meninggalkan sholat berjamaah yang keutamaan pahalanya setinggi 27 derajat"

Banyak sekali manfaat Sholat jamaah. Dalam kitab Dzurotun Nasihin Rasulullah bersabda: "barang siapa melakukan sholat ( lima waktu berjamaah akan memperoleh lima hal yaitu kesatu ia tidak akan mengalami kemiskinan didunia, kedua dibebaskan oleh Allah dari azab kubur, ketiga: menerima kitab catatan amalannya dengan tangan kanan, keempat; akan melalui shirot secepat kilat dan kelima akan dimasukkan surga tanpa hisab dan azab". Dalil di atas mempertegas sabda Rasul sbb:

"Tiap tiga orang yang bertempat didesa dan pegunungan lalu mereka tidak melakukan sholat jama 'ah, maka mereka akan dipermaikan syetan".

B. AURAT AMALIYAHNYA
Pada umumnya, wiridan baru akan selesai sampai surya muncul agak tinggi, baru kemudian kyai masuk ke "kamar khusus" di sebelah utara tempat imam di musholla. Di "Kamar khusus" itulah tempat Kyai Shiddiq menyepi, beribadah sholat sunnat dan lain-lain. Santri tak seorangpun yang berani masuk kamar tersebut. Karena dalam "kamar khusus" itu Kyai Shiddiq melakukan sholat Dluha dan sholat-sholat sunnah lainnya. Selesai sholat Kyai biasanya melanjutkan dengan mengaji Al-Qur'an dan membaca dalailul khairot. Selain sebagai seorang hafids, Kyai Shiddiq sangat istiqamah menghatamkan Alqur'an setiap minggu.

Secara runtut, batas-batas bacaan Al-Qur'an dalam seminggu sebagai berikut:
1. Hari Jum'at membaca Al Fatihah s. d Al-Maa idah
2. Hari Sabtu membaca Al-An' am s.d At-Taubah
3. Hari Ahad membaca Yunus s. d Maryam
4. Hari Senin membaca Thaha s.d Al-Qashash
5. Hari Selasa membaca Al-Ankabut s.d Shaad
6. Hari Rabu membaca Az-Zumar s.d Ar-Rakhman
7. Hari Kamis membaca Waqi'ah s. d An-Naas


Sekitar pukul 08.00 sampai jam 09.00 pagi, Kyai mengajar Fasholatan dan Al-Qur'an. Kitab Fasholatan yang diajarkan adalah hasil karangan beliau senchn'. Biasanya ketika mengajar Fasholatan dan AI-Qur'an banyak menggunakan cara-cara sorogan. Usai sorogan Fasholatan dan Al-Qur'an, barulah Kyai masuk ke ndalem untuk sarapan pagi. Setelah itu, Kyai masih meneruskan kembali sholat-sholat sunnah, mengaji Al-Qur'an dan membaca Dalail.

Baru pads sekitar jam 10.00 sampai jam 12.00 siang Kyai Shiddiq mengajar ngaji kitab kuning. Banyak kitab yang beliau ajarkan, namun demikian Kyai membaginya menjadi:

1. Kitab-kitab yang tetap (permanen) diajarkan. Bila kitab ini sudah selesai lalu diulang kembali dari awal (dijadikan wiridan). Kitab-kitab yang tetap ini antara lain:
a. Fatchurrahman
Kitab Fatchurrahman ini berisi materi Tauhid yang pokok (semacam Aqidatul Awam) dan fiqih (semacam Safinatun Najah). Kitab ini ditulis oleh beliau sendiri dan diwajibkan bagi santri menghatamkannya sebelum ngaji kitab lainnya (kitab standard awal).

b. Kitab Fiqh antara lain
- Safinatun Najah
- Sullam Taufiq
- Taqrib

c. Kitab Tasawuf antara lain
- Bidayatul Hidayah
- lhya' Ulumuddin

d. Kitab Tafsir Jalalain

e. Kitab Shohih Bukhori


2. Kitab-kitab yang tidak tetap (temporer) antara lain
a. Kitab-kitab Alat antara lain
- Alfiyah
Kitab Alfiyah terjemahan berbahasa Madura ini ditulis ketika mondok di Bangkalan.
- Ajurumiah
- Imrity
b. Kitab Tasawuf antara lain
- Nashoihud Diniyah
- Adabul Mar'ah yang ditulis dalam bahasa Jawa.
c. Kitab Rojabiyah
d. Kitab Bifadlol dan lain-lain.

Dalam pengajian kitab kuning ini, Kyai Shiddiq banyak menggunakan cara weton/bandongan. Cara Weton adalah cara pengajian kitab yang berasal dari istilah jawa, karena pada umumnya waktu pengajian disesuaikan dengan waktu-waktu tertentu seperti usai waktu sholat, dan sebagainya. Secara teknis, dalam pengajian cara weton ini Kyai membaca dan menerangkan kitab yang diperuntukkan secara massal. Para santrinya memperhatikan kitabnya sendiri sambil membuat catatan-catatan (tentang arti maupun keterangan dari kyai).

Selesainya pengajian, Kyai Shiddiq makan siang bersama� sama keluarga dan khaddamnya. Kemudian mengerjakan sholat Dzuhur secara berjama'ah. Sebelum sholat dzuhur, bersama� sama melakukan dzikir/pujian dan sholat sunnah Qobliyah.

Selesai sholat, lalu wiridan dan yang bacaannya lebih pendek dari dzikir ba'da subuh. Disambung dengan sholat sunnah Ba'diyah dzuhur dan mengajar ngaji Al-Qur'an dan Fasholatan. Santri yang dibolehkan ngaji Al-qur'an adalah yang sudah lulus (fasih/tartil bacaan) Syahadati, Fatihati, Tahiyyati, Sholati, adzan dan lqamah. Bila bacaan masih belum tartil tetap masih harus mengaji Fasholatan saja. Selesai mengajar, barulah Kyai Shiddiq istirahat (tidur) sebentar. Begitu bangun, Kyai Shiddiq melakukan sholat sunnah berkali-kali, mengaji Al-Qur'an dan membaca dalail. Amalan sholat sunnah yang istiqamah dilakukannya 100 rakaat dalam sehari-semalam serta mengkhatam dalail (matane) sehari sekali.

Waktu ashar tiba, beliau sholat sunnah berkali-kali dan para santri membaca syi'ir "Aqidatul 'Awam". Lalu sholat jama'ah Ashar dan Dzikir. Dzikir ba' da sholat Ashar sama dengan dzikir ba'da sholat subuh.

Kemudiandilanjutkan dengan pengajian kitab Ihya 'Ulumudin dan Shohih Bukhori". Selesai mengajar, Kyai masuk ndalem melanjutkan mengaji Al-Qur'an dan dalail sampai masuk waktu Maghrib. Sebelum sholat jama'ah Maghrib, bersama-sama santri membaca pujian.

Dzikir ba'da sholat Maghrib sama dengan dzikir bada subuh. Selesai berdzikir dilanjutkan sholat sunnah Ba'diyah dan ngaji. pengajian ba'da sholat Maghrib adalah AI-Qur'an dan Fasholatan yang teknisnya diatur sebagai berikut:

1.Santri dewasa dan tartil bacaannya harus membaca Quran 1 juz, sehingga dalam sebulan sudah harus hatam. Tempat mereka di dalam musholla.
2.Santri bocah harus ngaji Al-Qur'an dan Fasholatan di luar langgar. Mereka diajar Badal Kyai yaitu Haji Baidlowi (lurah pondok asal Madura) dan Abdul Azis.

Selesai ngaji (tanpa turun dari langgar) lalu bersama-sama pujian qobliyah sholat Isya' dan sholat sunnah rawatib.Kemudian melaksanakan sholat Isya' berjama'ah dan dilanjutkan dengan wiridan dan sholat sunnat rowatib. Wiridannya sama dengan wirid ba'da sholat Ashar. Di ndalem Kyai Shiddiq melakukan sholat sunnat berkali-kali, ngaji Qur'an dan dalail sampai "sare" (tidur). Khusus pada malam Jum'at ba'da maghrib, kyai Shiddiq memimpin bacaan Barzanji. Dan pada malam Senin ba'da Maghrib, membaca Diba'. Semula pemba�caan Diba' dilakukan malam Jurn'at dan Barzanji pada malam Senin.

Suatu saat ketika sedang memimpin pembacaan (pada malam Senin) itu, tiba-tiba Kyai Shiddiq melihat kehadiran Rasulullah Saw hadir dan berdiri di pintu. Spontan, Kyai Shiddiq merobah bacaannya dengan Diba'. Maka sejak peristiwa inilah, pembacaan Diba' dilakukan setiap malam Senin dan malam Jum'at untuk Barzanji. Kemudian dilanjutkan dengan membaca Rotibul Haddad (Rotib Sayyid Abdullah Alawi Al-Haddad).

Aktivitas mengajar Kyai Shiddiq yang sangat padat itu dilakukan tatkala telah banyak santri yang ngaji pada beliau. Sebelumnya, Kyai Shiddiq membagi waktunya dengan berda�gang sebagai ma'isahnya (mata pencahariannya hidupnya). Kegiatan mengajar yang full tersebut membuat Kyai Shiddiq harus mengalihkan perhatian dan' aktivitas berdagang pada santrinya dan putra-putranya.

Suatu waktu, Mbah Shiddiq akan berdagang kain sarung, songkok, dan lain-lain ke Arjasa. Nampaknya Kyai terlambat di stasiun kereta api, sehingga kereta yang pagi sudah berangkat. Menurut keterangan kepala stasiun, kereta berikutnya baru akan berangkat jam 10 siang. Ketika ditunggu kereta berikutnya, Kyai Shiddiq bertemu seorang Penghulu yang rumahnya di depan stasiun. Penghulu tersebut menawarkan jasa, agar Kyai Shiddiq berkenan menunggu kereta di rumahnya saja.

Menjelang jam 10.00 Kyai Shiddiq minta idzin untuk pamit,dan tanpa diduga temyata Penghulu tersebut memberi salam �tempel satu rupiah (serupiah saat itu, kira-kira sama nilainya dengan Rp 100. 000,� sekarang/thn 2007). "Lho, kok sompean. shodagah satu rupiah pada saya. Maka saya nggak jadi ke Arjasa. Lha Wong niat saya ke Arjasa tersebut untuk mencari untung satu rupiah ini", kata Mbah Shiddiq pada Penghulu itu, kemudian beliau pulang. Namun demikian, sebelum pulang, uang itu dihabiskan untuk belanja urusan dapur, karena memang Kyai Shiddiq sendirilah yang selalu berbelanja urusan dapur ke pasar. bukan Nyai. Tiba di ndalem, beliau tertidur karena kepayahan Dalam tidumya,, beliau bermimpi bertamu ke rumah Penghulu tadi. Di sana beliau disuguhi hidangan babi. Ketika bangun. kagetlah Kyai Shiddiq dan cepat-cepat memerintahkan santri untuk membuang semua "hasil belanja dapur tersebut"

Nampaknya, Kyai Shiddiq terus dijaga oleh Allah SWT dari makanan basil perbuatan haram karena sifat wiro'i beliau. Wiro'i adalah sikap yang selalu menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela, seperti makruh dan subhat (tidak jelas, apakah dibolehkan oleh agama atau tidak), terlebih lagi haram yang jelas dilarang. Mbah Siddiq tidak berkenan mengajar kitab menggunakan papan tulis, sebab ayat-ayat Al-Quran yang ditulis papan yang kemudian dibapus.. berjatuhan. Ini kan sama dengan menelantarkan lembaran Mushaf yang robek

Kyai Shiddiq juga sangat perhatian terhadap penampilan or�ang. Pada suatu hari Kyai Yusuf dari Madura sowan kepada Kyai Shiddiq. Kyai Yusuf tetap membiarkan rambutnya agak panjang (gondrong) dan kumisnya lebat hingga melebihi bibir. Setelah bersalaman, langsung beliau berkata: "Poron panje�nengan eparingah ilmu/maukah kau kuberi ilmu? "Alhamdulillah ?" jawab, si tamu dengan suka citanya. Lalu Kyai Shiddiq berkata: "Tak sahe panjenengan Kyahe, ngobuh obuk/Tidak baik bagi kyai, memelihara rambut". Kemudian beliau berikan gunting dan Kyai Yusuf diminta menggunting rambutnya saat itu juga. Semua anak dan menantu serta santri� santrinya diwajibkan oleh Kyai Shiddiq "menggundul rambut" kepala. Yang diperkenankan/disunnahkan hanyalah memelihara janggut. Bahkan, Kyai Muhammad bin Hasyim (menantunya) dimarahi Kyai Shiddiq karena mernelihara rambut sedikit seperti tentara di kepalanya.

Demikian pula dengan merokok, Kyai Shiddiq kurang senang jika ada orang/tamu apalagi santri ataupun anaknya yang merokok di hadapan beliau. Kyai Mahfudz Shiddiq pernah merelakan sak celananya bolong terbakar, karena menyimpan rokok yang sedang menyala, tatkala Kyai Shiddiq menemuinya. Kyai Shiddiq memang kurang senang ada yang merokok, ketika masih ngaji pada Kyai Abdurrohim, Sepanjang Sidoarjo.

Sebagaimana keblasaannya di pondok, Kyai Shiddiq selalu mengisi jeding Kyai Rohim pada pagi buta. Suatu hari, selesai mengisi jeding, Kyai Shiddiq pergi ke sungai sambil merokok klobot. Sedang asyik merokok, menyebabkan ketinggalan Sholat berjama'ah Subuh. Kyai Shiddiq akhirnya bersembunyi takut kena marah Kyai Rohim karena tidak berjama'ah.

Sejak peristiwa itulah, Kyai Shiddiq berjanji menghindari merokok. "Tak ada barang yang melebihi kejelekan merokok. Demi Allah aku mengharamkan diriku merokok" katanya. Mbah Shiddiq memiliki sikap, kesenangan dan perilaku sebagai benikut:
I. Ahli silaturrohim, khususnya pada para Sayyid/Habib, `Aulia' dan Ulama. Diantara kesenangan bersilaturohmi ini antara lain '.
a. Selalu gembira dan bersyukur bila kedatangan tamu, bahkan selalu menghidangkan makan pada tamunya.
b. Senang mengawinkan jejaka-gadis.
c. Bila silaturrohmi pada orang miskin, hanya minta air putih saja.

2. Mengerjakan hal-hal yang sunnah antara lain :
a. Sholat-sholat sunnah, ngaji Alqur'an, Dalail dan selalu berdzikir
"Bagi orang-orang yang berakal (yaitu) orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan telanjang ". (QS AIi Imron: 190-191)

b. Memotong rambut, kumis dan kuku pada hari. Kamis.
c. Membersihkan sisa-sisa nasi yang dimakan. Bahkan selalu menjilat tangan, bila selesai makan. Itu menunjukkan syukur terhadap nikmat/karunia Allah Swt.

�Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu". (QS Ibrohim: -7)
d. Saat makan, beliau selalu mencicipi garam sebelum dan sesudahnya. karena ini disunnahkan oleh agama. Pada suatu hari, Kyai Shiddiq, Kyai Yasin (Pasuruan) dan Kyai Nu'man (Lumajang) sedang makan jambu. Ada di antara 2 kyai itu yang, berkomentar "tidak manis-nya jambu tersebut. Spontan Kyai Shiddiq menegur: "Yang menentukan manis-tidaknya jambu ini adalah Allah. Jambu ini merupakan nikmat Allah pada kita. Jadi wajib bagi kita mensyukurinya.
d. Mematikan lampu pakai kipas (tidak dltiup).
3. Menjauhi hal-hal yang makruh, muru'ah dan Haram, misal
a. Merokok
b. Tidak suka melihat orang lain memiliki rambut, kumis dan kuku yang panjang.
c. Marah bila tahu ada orang, kentut sambil tertawa.
d. Marah, bila tahu laki-laki dan wanita yang bukan muhrimnya bertemu muka.
e. Dalam bepergian selalu menghindari lewat depan gereja.
f. Tidak membolehkan Kusir mencambuki kudanya.
g. Tidak senang musik/lagu-lagu, misal .- gambus.

4. Mendo'akan anaknya, cukup dengan memohon agar kelak menjadi orang yang bertaqwa.

5. Yang sangat diperhatikan pada anak dan santrinya adalah sholat. Bila putranya tak nampak dalam sholat berjama'ah, maka akan diusut sedetailnya tentang "kenapa tidak sholat jama'ah".

6. Dan lain-lain.


Menurut beberapa informasi, Kyai Shiddiq 4 kali bertemu dengan Rasulullah Saw dan berkali-kali bertemu Rasulullah dalam mimpi. Sulit sekali ditakdirkan bertemu Rosulullah SAW kecuali Waliyullah. Imam Ghozali berkata "bertemu Rasulullah secara Ya Qodlo maka ia memiliki kasyqf'. Sayyid Ahmad Al Badawi ra. berkata: -Syarat yang harus di perbuat oleh orang yang ingin menjadi Waliulloh adalah benar benar dalam syari'at. Ada dua belas tanda-tanda yaitu :

1. Benar-benar mengenal Allah Swt (yakni, benar benar mengerti tauhid dan mantab iman keyakinan kepadaAllah).
2. Benar-benar menjaga perintah Allah Swrt.
3. Berpegang teguh pada sunnah Rasulullah Saw.
4. Selalu berwudhu (jika berhadas segera memperbarui wudhu�)
5. Rela menerima hukum qadla' Allah SWT. dalam suka duka.
6. Yakin terhadap semua janji Allah Swt.
7. Putus harapan dari semua apa yang ada di tangan manusia
8. Tabah. sabar menanggung bebagai derita dan gangguan orang.
9. Rajin mentaati perintah Allah SWT
10. Kasih sayang terhadap semua makhluq Allah SWT
11. Tawadlu, merendah diri terhadap yang lebih tua atau lebih muda.
12. Selalu menyadari bahwa setan itu musuh utama, sedang sarang setan itu dalam hawa nafsu dan selalu berbisik mempengaruhi.

C. PEMAKAMAN TURBAN CONDRO
Kyai Shiddiq, akhirnya wafat pada hari Ahad Pahing jam 17 40 tanggal 2 Romadlon 1533H (9 Desember 1934 M) pada usia +80 tahun. Saat jenazah, disemayamkan di ndalem Talangsari, datanglah 11 orang yang menawarkan tanahnva sebagai makam beliau. Sebelas orang itu antara lain:
1 . H. Ilyas, Gebang
2. Sadinatun, Gebang
3. Sa'id, Gebang
4. Riynah, Gebang
5. Samiroh, asal Bulu Tuban
6. Amir, asal Bulu Tuban
7. Sakiman, asal Bulu Tuban
8. KH. Yusuf, asal Bulu Tuban (mertua Kyai Shiddiq)
9. H. Anwar, Jatian � Pakusari
10. H. Abdul Hamid, Rowo - Wirowongso.
11. H Samsul Arifin, Talangsari.

Namun agar adil maka akhirnva dilotre/diundi sebanyak 3 kali. Ternyata undian jatuh pada tanah H. Samsul Arifin di Turbah - Condro. Ribuan orang melayat Mbah Shiddiq menuju peristirahatannva di turbah Condro Jember. Hingga sekarang, banyak kaum muslimin ziarah di maqam Kyai Shiddiq. Para penziarah selalu membaca Al-qur'an. Tahlil dan bertawassul pada beliau. Kyai Shiddiq bagaikan "mutiara", yang menurunkan banyak mutiara, menyinari kegelapan kota Jember.

GARIS KETURUNAN MBAH SIDDIQ
1. KH. Muhammad Shiddiq
2. bin Raden Pangeran Mas Sayyid KH. Abdullah (Lasem)
3. bin Raden Pangeran Sayyid KH. Sholeh (Raden Tirto Widjoyo, Lasem)
4. bin Sayyid KH. Asy�ari (Raden Pangeran Asyri, Lasem)
5. bin Sayyid KH. Muhammad Adzro�i (Raden Pangeran Bardla�i, Lasem)
6. bin Sayyid KH. Yusuf (Raden Yusuf, Pulandak Lasem)
7. bin Sayyid Abdurrachman (Mbah Sambu)
8. bin Sayyid Muhammad Hasyim (sunan Ngalogo)
9. bin Sayyid Abdurrachman Basyaiban (Mangkunegoro III)
10. bin Sayyid Abdullah
11. bin Sayyid Umar
12. bin Sayyid Muhammad
13. bin Sayyid Achmad
14. bin Sayyid Abu Bakar Basyiban
15. bin Sayyid Muhammad Asy�adullah
16. bin Sayyid Hasan At - Taromi
17. bin Sayyid Ali
18. bin Sayyid Muhammad Al Faqih Muqoddam
19. bin Sayyid Ali
20. bin Sayyid Muhammad Shohibi Mirbat (Zafar, Hadramaut)
21. bin Sayyid Ali Khaliq Qosim (Tarim, Hadramaut)
22. bin Sayyid Alwi (Bait Zubair, Hadramaut)
23. bin Sayyid Muhammad (Bait Zubair, Hadramaut)
24. bin Sayyid Alwi (Samal, Hadramaut)
25. bin Sayyid Abdullah Ubaidillah (Al - Ardli Burt Hadramaut)
26. bin Sayyid Ahmad Al - Muhajir (Basra Tarim, Hadramaut)
27. bin Sayyid �Isa An Naqib (Basrah, Iraq)
28. bin Sayyid Muhammad An - Naqib (Basrah, Iraq)
29. bin Sayyid Ali Al �uraidi (Madinah)
30. bin Sayyid Ja�far Ash - Shodiq (Madinah)
31. bin Sayyid Muhammad Al - baqier (Madinah)
32. bin Sayyid Ali Zainal Abidin (Madinah)
33. bin Sayyidina Husein
34. binti Fatimah Az Zahroh (Isteri Sayyidina Ali Al - Murtadlo)
35. bin Rosulullah Muhammad SAW

Kh hamid 2

Kiai Hamid lahir pada tahun 1333 H (bertepatan dengan 1914 atau 1915 M) di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Tepatnya di dukuh Sumurkepel, desa Sumbergirang. Sebuah pedukuhan yang terletak di tengah kota kecamatan Lasem. Begitu lahir, bayi itu diberi nama Abdul Mu’thi. Itulah nama kecil beliau hingga remaja, sebelum berganti menjadi Abdul Hamid.

Abdul Mu’thi kecil biasa dipanggil “Dul” saja. Tapi, seringkali panggilan ini diplesetkan menjadi “Bedudul” karena kenakalannya.

Mu'thi memang tumbuh sebagai anak yang lincah, extrovert, dan nakal. “Nakalnya luar biasa,” tutur KH. Hasan Abdillah Glenmore, adik sepupu beliau. Tapi nakalnya Mu’thi tidak seperti anak-anak sekarang: yang sampai mabuk-mabukan atau melakukan perbuatan asusila. Nakalnya Mu'thi adalah kenakalan bocah yang masih dalam batas wajar, tapi untuk ukuran anak seorang kiai dipandang “luar biasa”. Sebab, sehari-hari dia jarang di rumah. Hobinya adalah bermain sepak bola dan layang-layang. Beliau bisa disebut bolamania alias gila sepak bola, dan ayahandanya tak bisa membendung hobi ini. Karena banyak bermain, ngajinya otomatis kurang teratur walaupun bukan ditinggalkan sama sekali. Dia mengaji kepada KH. Ma’shum (ayahanda KH. Ali Ma’shum Jogjakarta) dan KH. Baidhawi, dua “pentolan” ulama Lasem.

Kiai Hamid Pasuruan: Kini Sulit Dicari Padanannya

Kiai Hamid lahir pada tahun 1333 H (bertepatan dengan 1914 atau 1915 M) di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Tepatnya di dukuh Sumurkepel, desa Sumbergirang. Sebuah pedukuhan yang terletak di tengah kota kecamatan Lasem. Begitu lahir, bayi itu diberi nama Abdul Mu’thi. Itulah nama kecil beliau hingga remaja, sebelum berganti menjadi Abdul Hamid.

Abdul Mu’thi kecil biasa dipanggil “Dul” saja. Tapi, seringkali panggilan ini diplesetkan menjadi “Bedudul” karena kenakalannya.

Mu'thi memang tumbuh sebagai anak yang lincah, extrovert, dan nakal. “Nakalnya luar biasa,” tutur KH. Hasan Abdillah Glenmore, adik sepupu beliau. Tapi nakalnya Mu’thi tidak seperti anak-anak sekarang: yang sampai mabuk-mabukan atau melakukan perbuatan asusila. Nakalnya Mu'thi adalah kenakalan bocah yang masih dalam batas wajar, tapi untuk ukuran anak seorang kiai dipandang “luar biasa”. Sebab, sehari-hari dia jarang di rumah. Hobinya adalah bermain sepak bola dan layang-layang. Beliau bisa disebut bolamania alias gila sepak bola, dan ayahandanya tak bisa membendung hobi ini. Karena banyak bermain, ngajinya otomatis kurang teratur walaupun bukan ditinggalkan sama sekali. Dia mengaji kepada KH. Ma’shum (ayahanda KH. Ali Ma’shum Jogjakarta) dan KH. Baidhawi, dua “pentolan” ulama Lasem.

Ketika mulai beranjak remaja (ABG), dia mulai gemar belajar kanoragan (semacam ilmu kesaktian). Belajarnya cukup intensif sehingga mencapai taraf ilmu yang cukup tinggi. “Sampai bisa menangkap babi jadi-jadian,” tutur KH. Zaki Ubaid Pasuruan.

Meski begitu, sejak kecil ia sudah menunjukkan tanda-tanda bakal menjadi wali atau, setidaknya, orang besar. Ketika diajak kakeknya, KH. Muhammad Shiddiq (Jember), pergi haji, Mu’thi bertemu dengan Rasulullah s.a.w. Pada saat haji itulah namanya diganti menjadi Abdul Hamid.

Dipondokkan

Pada usia sekitar 12-13 tahun, Hamid dikirim ayahandanya, K.H. Abdullah Umar, ke Pondok Kasingan, Rembang. Maksud ayahandanya, untuk meredam kenakalannya. Dia tidak lama di pondok ini. Satu atau satu setengah tahun kemudian dia pindah ke Pondok Tremas, Pacitan. Pondok pimpinan KH. Dimyathi ini cukup besar dan berwibawa. Dari pondok ini terlahir banyak kiai besar. Di antaranya adalah KH. Ali Ma’shum Jogjakarta (mantan rais am PB NU), KH. Masduqi Lasem, KH. Abdul Ghofur Pasuruan, KH. Harun Banyuwangi, dan masih banyak lagi.

Walaupun kegemarannya bermain sepak bola masih berlanjut, di pesantren ini beliau mulai mendapat gemblengan ilmu yang sebenarnya. Uang kiriman orangtua yang hanya cukup untuk dipakai makan nasi thiwul tidak membuatnya patah arang. Dia tetap betah tinggal di sana sampai 12 tahun, hingga mencapai taraf keilmuan yang tinggi di berbagai bidang.

Tidak Suka Dipuja

Setelah 12 tahun belajar agama di Pondok Tremas, tokoh kita itu dipinang oleh pamandanya, KH. Achmad Qusyairi, untuk dikawinkan dengan putrinya, Nafisah.

Konon, Kiai Achmad pernah menerima pesan dari ayahandanya, KH. Muhammad Shiddiq, supaya mengambil Hamid sebagai menantu mengingat keistimewaan-keistimewaan yang tampak pada pemuda tersebut. Antara lain, saat pergi haji dulu, dia bisa berjumpa dengan Rasulullah s.a.w. Sayang, sang kakek tak sempat melihat pernikahan itu karena lebih dulu dipanggil Sang Mahakuasa.

Seperti disebut dalam surat undangan, akad nikah akan dilangsungkan pada 12 September 1940 M, bertepatan dengan 9 Sya'ban 1359 H, selepas zhuhur pukul 1 di Masjid Jami’ (sekarang Masjid Agung Al-Anwar) Pasuruan. Namun, rencana tinggal rencana. Pada waktu yang ditentukan, para undangan sudah berkumpul di Masjid Jami’, namun rombongan penganten pria tak kunjung muncul hingga jam menunjuk pukul 2. Terpaksa acara melompat ke sesi berikutnya, yaitu walimah di rumah Kiai Achmad Qusyairi di Kebonsari, di kompleks Pesantren Salafiyah.

Di sana kembali orang-orang dibuat menunggu. Ternyata, rombongan penganten pria baru datang sore hari, setelah acara walimah rampung dan para undangan pulang semua. “Anu, penganten kuajak mampir ke makam (para wali),” kata Kiai Ma’shum, yang dipercaya menjadi kepala rombongan. Apa boleh buat, akad nikah pun dilangsungkan tanpa kehadiran undangan, dan hanya disaksikan para handai tolan.

Prihatin

Sejak itu, Haji Abdul Hamid tinggal di rumah mertuanya. Lima atau enam tahun kemudian, Kiai Achmad pindah ke Jember, lalu pindah ke Glenmore, Banyuwangi. Tinggallah kini Kiai Hamid bersama istrinya harus berjuang secara mandiri mengarungi samudera kehidupan dalam biduk rumah tangga yang baru mereka bina. Untuk menghidupi diri dan keluarga, Kiai Hamid berusaha apa saja. Dari jual beli sepeda, berdagang kelapa dan kedelai sampai menyewa sawah dan berdagang spare part dokar.

Hari-hari mereka adalah hari-hari penuh keprihatinan. Makan nasi dengan krupuk atau tempe panggang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Terkadang, sarung yang sudah menerawang (karena usang) masih dipakai (dengan dilapisi kain serban supaya warna kulitnya tidak kelihatan). Tapi, Kiai Hamid tak kenal putus asa, terus berusaha dan berusaha.

Kala itu beliau belum terlibat dalam kegiatan Pesantren Salafiyah, meski tinggal di kompleks pesantren. Di tengah hidup prihatin itu, beliau mulai punya santri -- dua orang -- yang ditempatkan di sebuah gubuk di halaman rumah. Beliau juga mulai menggelar pengajian di berbagai desa di kabupaten Pasuruan: Rejoso, Ranggeh dan lain-lain.

Sekitar 1951, sepeninggal KH. Abdullah ibn Yasin yang jadi nazhir (pengasuh) Pondok Salafiyah, beliau dipercaya sebagai guru besar pondok, sementara KH. Aqib Yasin, adik Kiai Abdullah, menjadi nazhir. Meski demikian, secara de facto, beliaulah yang memangku pondok itu, mengurusi segala tetek bengek sehari-hari, day to day karena Kiai Aqib yang muda itu, masih belajar di Lasem.

Fenomenal

Kiai Hamid benar-benar berangkat dari titik nol dalam membina Pondok Salafiyah. Sebab, saat itu tidak ada santri. Para santri sebelumnya tidak tahan dengan disiplin tinggi yang diterapkan Kiai Abdullah.

Walaupun tak ada promosi, satu demi satu santri mulai berdatangan. Prosesnya sungguh natural, tanpa rekayasa. Perkembangannya memang tidak bisa dibilang melesat cepat, tapi gerak itu pasti. Terus bergerak dan bergerak hingga kamar-kamar yang ada tidak mencukupi untuk para santri dan harus dibangun yang baru; hingga jumlah santrinya mencapai ratusan orang, memenuhi ruang-ruang pondok yang lahannya tak bisa diperluas lagi karena terhimpit rumah-rumah penduduk; hingga pada akhirnya, terdorong oleh perkembangan zaman, fasilitas baru pun perlu disediakan, yaitu madrasah klasikal.

Perkembangan fenomenal terjadi pada pribadi beliau. Dari semula hanya dipanggil “haji” lalu diakui sebagai “kiai”, pengakuan masyarakat semakin membesar dan membesar. Tamunya semakin lama semakin banyak. Terutama setelah wafatnya Habib Ja’far As-Segaf (wali terkemuka Pasuruan waktu itu yang jadi guru spiritualnya) sekitar 1954, sinarnya semakin membesar dan membesar. Kiai Hamid sendiri mulai diakui sebagai wali beberapa tahun kemudian, sekitar awal 1960-an. Pengakuan akan kewalian itu kian meluas dan meluas, hingga akhirnya mencapai taraf -- meminjam istilah Gus Mus -- “muttafaq ‘alaih” (disepakati semua orang, termasuk di kalangan mereka yang selama ini tak mudah mengakui kewalian seseorang).

Lurus

Ketika Kiai Hamid mulai berkiprah di Pasuruan, tak sedikit orang yang merasa tersaingi. Terutama ketika beliau menggelar pengajian di kampung-kampung. Maklumlah, beliau seorang pendatang. Ada kiai setempat yang menuduh beliau mencari pengaruh, dan menggerogoti santri mereka. Padahal, Kiai Hamid mengajar di sana atas permintaan penduduk setempat.

Ibarat kata pepatah Jawa “Becik ketitik, ala ketara”, lambat laun beliau dapat menghapus kesan itu. Bukan dengan rekayasa atau “politik pencitraan” yang canggih, melainkan dengan perbuatan nyata. Dengan tetap berjalan lurus, dan terutama dengan sikap tawadhu’, kehadiran beliau akhirnya dapat diterima sepenuhnya. Bahkan mereka menaruh hormat pada beliau justru karena sikap tawadhu’ itu.

Beliau memang rendah hati (tawadhu’). Kalau menghadiri suatu acara, beliau memilih duduk di tempat “orang-orang biasa”, yaitu di belakang, bukan di depan. “Kiai Hamid selalu ndepis (menyembunyikan diri) di pojok,” kata Kiai Hasan Abdillah.

Hormat

Beliau bersikap hormat pada siapapun. Dari yang miskin sampai yang kaya, dari yang jelata sampai yang berpangkat, semua dilayaninya, semua dihargainya. Misalnya, bila sedang menghadapi banyak tamu, beliau memberikan perhatian pada mereka semua. Mereka ditanyai satu per satu sehingga tak ada yang merasa disepelekan. “Yang paling berkesan dari Kiai Hamid adalah akhlaknya: penghargaannya pada orang, pada ilmu, pada orang alim, pada ulama. Juga tindak tanduknya,” kata Mantan Menteri Agama, Prof. Dr. Mukti Ali, yang pernah menjadi junior sekaligus anak didiknya di Pesantren Tremas.

Beliau sangat menghormat pada ulama dan habaib. Di depan mereka, sikap beliau layaknya sikap seorang santri kepada kiainya. Bila mereka bertandang ke rumahnya, beliau sibuk melayani. Misalnya, ketika Sayid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki, seorang ulama kondang Mekah (yang baru saja wafat), bertamu, beliau sendiri yang mengambilkan suguhan, lalu mengajaknya bercakap sambil memijatinya. Padahal tamunya itu lebih muda usia.

Sikap tawadhu’ itulah, antara lain, rahasia “keberhasilan” beliau. Karena sikap ini beliau bisa diterima oleh berbagai kalangan, dari orang biasa sampai tokoh. Para kiai tidak merasa tersaingi, bahkan menaruh hormat ketika melihat sikap tawadhu’ beliau yang tulus, yang tidak dibuat-buat. Derajat beliau pun meningkat, baik di mata Allah maupun di mata manusia. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah s.a.w., “Barangsiapa bersikap tawadhu’, Allah akan mengangkatnya.”

Sabar

Beliau sangat penyabar, sementara pembawaan beliau halus sekali. Sebenarnya, di balik kehalusan itu tersimpan sikap keras dan temperamental. Hanya berkat riyadhah (latihan) yang panjang, beliau berhasil meredam sifat cepat marah itu dan menggantinya dengan sifat sabar luar biasa. Riyadhah telah memberi beliau kekuatan nan hebat untuk mengendalikan amarah.

Beliau, misalnya, dapat menahan amarah ketika disorongkan oleh seorang santri hingga hampir terjatuh. Padahal, santri itu telah melanggar aturan pondok, yaitu tidak tidur hingga lewat pukul 9 malam. Waktu itu hari sudah larut malam. Beliau disorongkan karena dikira seorang santri. “Sudah malam, ayo tidur, jangan sampai ketinggalan salat subuh berjamaah,” kata beliau dengan suara halus sekali.

Beliau juga tidak marah mendapati buah-buahan di kebun beliau habis dicuri para santri dan ayam-ayam ternak beliau ludes dipotong mereka. “Pokoknya, barang-barang di sini kalau ada yang mengambil (makan), berarti bukan rezeki kita,” kata beliau.
Pada saat-saat awal beliau memimpin Pondok Salafiyah, seorang tetangga sering melempari rumah beliau. Ketika tetangga itu punya hajat, beliau menyuruh seorang santri membawa beras dan daging ke rumah orang tersebut. Tentu saja orang itu kaget, dan sejak itu kapok, tidak mau mengulangi perbuatan usilnya tadi.

Beliau juga tidak marah ketika seorang yang hasud mencuri daun pintu yang sudah dipasang pada bangunan baru di pondok.

Penyakit Hati

Melalui riyadhah dan mujahadah (memerangi hawa nafsu) yang panjang, beliau telah berhasil membersihkan hati beliau dari berbagai penyakit. Tidak hanya penyakit takabur dan amarah, tapi juga penyakit lainnya. Beliau sudah berhasil menghalau rasa iri dan dengki. Beliau sering mengarahkan orang untuk bertanya kepada kiai lain mengenai masalah tertentu. “Sampeyan tanya saja kepada Kiai Ghofur, beliau ahlinya,” kata beliau kepada seorang yang bertanya masalah fiqih. Beliau pernah marah kepada rombongan tamu yang telah jauh-jauh datang ke tempat beliau, dan mengabaikan kiai di kampung mereka. Beliau tak segan “memberikan” sejumlah santrinya kepada KH. Abdur Rahman, yang tinggal di sebelah rumahnya, dan kepada Ustaz Sholeh, keponakannya yang mengasuh Pondok Pesantren Hidayatus Salafiyah.

Bergunjing

Menghilangkan rasa takabur memang sangat sulit. Terutama bagi orang yang memiliki kelebihan ilmu dan pengaruh. Ada yang tak kalah sulitnya untuk dihapus, yaitu kebiasaan menggunjing orang lain. Bahkan para kiai yang memiliki derajat tinggi pun umumnya tak lepas dari penyakit ini. Apakah menggunjing kiai saingannya atau orang lain. Kiai Hamid, menurut pengakuan banyak pihak, tak pernah melakukan hal ini. Kalau ada orang yang hendak bergunjing di depan beliau, beliau menyingkir. Sampai KH. Ali Ma'shum berkata, “Wali itu ya Kiai Hamid itulah. Beliau tidak mau menggunjing (ngrasani) orang lain.”

Manusia Biasa

Kiai Hamid, seperti para wali lainnya, adalah tiang penyangga masyarakatnya. Tidak hanya di Pasuruan tapi juga di tempat-tempat lain. Beliau adalah sokoguru moralitas masyarakatnya. Beliau adalah cermin (untuk melihat borok-borok diri), beliau adalah teladan, beliau adalah panutan. Beliau dipuja, di mana-mana dirubung orang, ke mana-mana dikejar orang (walaupun beliau sendiri tidak suka, bahkan marah kalau ada yang mengkultuskan beliau).

Bagaimanapun beliau manusia biasa (Rasulullah pun manusia biasa), yang harus merasakan kematian. Sabtu 9 Rabiul Awal 1403 H, bertepatan dengan 25 Desember 1982 M, menjadi awal berkabung panjang bagi msyarakat muslim Pasuruan, dan muslim di tempat lain. Hari itu, saat ayam belum berkokok, hujan tangis memecah kesunyian di rumah dalam kompleks Pesantren Salafiyah. Setelah jatuh anfal beberapa hari sebelumnya dan sempat dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya karena penyakit jantung yang akut, beliau menghembuskan nafas terakhir. Inna lillahi wa inna lillahi raji’un.

Umat pun menangis. Pasuruan seakan terhenti, bisu, oleh duka yang dalam. Puluhan, bahkan ratusan ribu orang berduyun-duyun membanjiri Pasuruan. Memenuhi relung-relung Masjid Agung Al-Anwar dan alun-alun kota, memadati gang-gang dan ruas-ruas jalan yang membentang di depannya. Mereka, dalam gerak serentak, di bawah komando seorang imam, KH. Ali Ma’shum Jogjakarta, mengangkat tangan “Allahu Akbar” empat kali dalam salat janazah yang kolosal. Allahumma ighfir lahu warhamhu, ya Allah ampunilah dosanya dan rahmatilah dia.

kh Hamid pasuruan

njing pun diperlakukan baik
Siapa pun (orang Islam) tidak suka bila melihat anjing berada di sekitarnya. Bahkan orang akan mengusirnya dengan cara kasar. Melemparinya dengan batu, memukuli dan hal-hal lain yang menjurus pada perlakuan kasar.

Perbuatan ini bertolak belakang dengan kiai Hamid. Di samping beliau menebar cinta ke semua orang, beliau juga menebar cinta kepada binatang. Termasuk anjing yang oleh orang awam tadi dipandang dengan kebencian karena najis mughallazhahnya. Berkali-kali anjing datang, duduk-duduk diteras rumah beliau atau bermain ditempat wudlu pondok. Oleh beliau, binatang itu dibiarkan, malah tak boleh diusir.
Suatu kali ada seekor anjing masuk ke dalam pesantren. Karuan saja para santri segera mengepungnya, memukulinya dan menjerat lehernya. Keesokan harinya, dalam pengajian ahad, Kiai Hamid marah besar. “Anjing itu juga mahkluk Allah, tidak boleh diperlakukan semena-mena,” katanya dengan penuh tekanan.
Sumber: H. Misbah (Miskat), Pasuruan

Pencuri datang, dihormati sebagai tamu
Kiai Hamid adalah sosok yang halus pembawaannya. Suaranya pelan, sangat lirih, nyaris berbisik. Pelan ketika mengajar, pelan ketika membaca kitab, pelan ketika salat, pelan ketika berzikir, pelan juga ketika bercakap-cakap. Baik bercakap dengan tamu, dengan santri, maupun dengan keluarganya sendiri. “sejak dulu, Kiai Hamid kalau membaca Qur’an sendiri tak pernah terdengar suaranya,” kata KH. Zaki Ubaid, yang sejak kecil sudah mendampingi Kiai Hamid, “hanya kalau tadarus terdengar suaranya.”

Gus Zaki Ubaid bercerita, jemuran di pekerangan belakang rumah beliau sering raib. Setelah berhari-hari melakukan pengintaian bersama sejumlah santri, akhirnya sang pencuri tertangkap basah. Maka digelandanglah sang pencuri itu ke halaman depan, untuk menjadikan bancakan, pesta bogem mentah. Tapi sial, begitu keluar dari pintu lorong, mereka kepergok Kiai Hamid. “O, ada tamu ya. Silakan, silakan“ kata beliau. Maling dibilang tamu. Urusan pun berpindah tangan, sementara ”pesta besar” batal dilaksanakan. Gus Zaki Ubaid dkk. Tak bisa berbuat apa-apa.
Akan halnya Kiai Hamid, beliau memperlakukan si pencuri seperti layaknya tamu. Disuguhi minuman , diberi makan, diajak bercengkrama. Ketika pulang, diantar hingga ke halaman, sambil berpesan agar mampir lagi kalau ada waktu.1

Sumber: KH. Zaki Ubaid (al Marhum), Pasuruan
Sepuluh Ribu Untuk Kyai Hamid
Kota Pasuruan merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang menyimpan banyak nilai religi dan kental dengan aroma keislamannya. Berbagai kegiatan islami di kota yang terkenal dengan sebutan “ kota santri” ini sangat beragam dan tak terhitung jumlahnya. Namun dibalik itu, siapa sangka kota yang banyak para kekasih Allah tersebut, menyimpan segudang cerita unik yang cukup menggelitik hati yang justru muncul dari para tokoh agama di kota itu.

Alkisah di kota Pasuruan dahulu hidup seorang kyai yang terkenal dengan kewaliannya dan memilki kharismatik tinggi di mata masyarakat Pasuruan. Ya, siapa lagi kalau bukan KH. Abdul Hamid atau yang lebih akrabnya biasa dipanggil romo kyai Hamid . Pada suatu hari ada seorang pengusaha bernama Sukir yang hendak sowan kepada kyai Hamid yang terkenal dengan sikap tawadlu’ dan lemah lembutnya itu. Sukir-pun akhirnya mendatangi temannya terlebih dahulu sambl bertanya, ”biasanya kalu sowan kepada kyai Hamid perlu memberi “salam templek” apa tidak ?”
Temannya pun menjawab:
“kadang ya, kadang juga tidak.” Jawabnya singkat.
Merasa belum puas, sang pengusaha tadi kembali bertanya:
“kalau memberi salam templek, kira-kira berapa ya ?” tanyanya dengan nada penasaran.
“ah...... saya tidak tahu, karena saya sendiri tidak pernah memberi salam templek. Malahan kyai Hamid sendiri yang sering memberi tamunya.” Jelasnya cukup panjang lebar.
Mendengar keterangan dari temannya tersebut, akhirnya Sukir memutuskan untuk memberi salam templek, karena ia tahu biasanya kalu sowan kepada kyai-kyai manapun, kebanyakan memberi salam templek, meskipun jumlahnya nggak terlalu besar. Sesaat kemudian ia pun bingung karena berapa jumlah uang yang pantas untuk diberikan kepada kyai Hamid. Tanpa panjang lebar ia pun merogoh sakunya dan mengambil uang sebesar sepuluh ribu, lalu dimasukkan ke dalam amplop dan ditutupnya rapat-rapat. Dalam benaknya ia berfikir, kalau nanti banyak orang yang sowan sementara yang diberikannya itu kurang “kan tidak tahu kalu itu dari saya.”
Selang beberapa saat, Sukir pun berangkat menemui sang kyai di Ponpes Salafiyah Pasuruan. Setibanya di sana ia langsung bertemu dengan kyai Hamid, dan Sukir pun bersalaman sambil menyelipkan amplop yang dibawanya ke tangan kyai Hamid.
“sepuluh ribu juga boleh,” kata kyai Hamid dengan nada datar.
Pengusaha itupun spontan merasa heran yang dibarengi dengan keluarnya keringat dingin dari sekujur tubuhnya, ia merasa malu karena merasa tertebak isi amplop yang diberikannya kepada kyai Hamid. (Jar)

Melarang Memakai Cincin Pun Dengan Halus
Dalam pemahaman kiai Hamid, kegiatan ajar-mengajar adalah kegiatan dakwah, bukan sekedar transfer ilmu dari guru ke murid. Dengan demikian, mengajar adalah suatu kegiatan untuk mengubah perilaku dari yang menyalahi syariat, menjadi sesuai dengan syariat.

Dalam dakwahnya, beliau kalau mengingatkan atau menasehati orang caranya harus sekali. Beliau lebih mengutamakan harmoni, diusahakan hal itu tidak akan menimbulkan kejutan.
Seperti ketika ada tamu pria dari Kalimantan yang memakai cincin emas. Beliau tak suka melihat hal ini karena pria dilarang (haram) memakai aksesori dari emas. Tapi beliau tak langsung mengingatkan, hanya mengamati dengan seksama.
"Cincinnya bagus, saya ambil boleh?" Tanya beliau.
"Oh ya, silahkan," jawab si pemakai sambil melepaskan cincinya, dan menyerahkannya kepada beliau.
"Sekarang cincin ini saya titipkan sampeyan untuk diberikan kepada istri sampeyan," kata beliau sambil mengembalikan cincin tersebut. "Masukkan ke sapu sampeyan," ujar beliau lagi. Orang tersebut menurut.
Tapi ketika keluar dari rumah beliau, cincin itu dipakainya lagi. Ketika bersua lagi di musholla, beliau melihat cincin tesebut melingkar manis di jari orang tersebut. "Lho, kok dipakai lagi?" kata beliau. "Lepas saja, masukkan ke saku, kasihkan pada istri sampeyan." Sebuah dakwah yang halus, dan tidak merugikan. Coba kalau cincin itu langsung dibuang atau disita.

Menjadi Bapak Dari Masyarakat
Sebagai seorang pengasuh pondok, beliau bukan hanya menjadi bapak dari santri-santrinya. Tetapi beliau juga menjadi bapak dari masyarakat. Seorang bapak yang merasa punya tanggung jawab untuk melayani mereka di kala mereka sedih ataupun ditimpa masalah.

Kholil yang berusia hampir 70 tahun warga kebonsari, adalah pemilik warung kaki lima yang menyediakan minuman dan makanan kecil. Warung ini bka tiap malam hari, sehabis isya' sam'pai subuh, di pinggir jalan dekat langgar arghob (jalan jawa). Setiap malam, sambil membangunkan orang pada pukul 3 dini hari, beliau selalu menyempatkan diri untuk mampir di warung tersebut. Bukan untuk makan minum, melainkan bercengkrama dengan pemiliknya. Terkadang beliau juga memberi saran-saran untuk perbaikan. Misalnya, beliau menyarankan kholil untuk agar mengganti tiang warungnya yang terbuat dari bamboo. "Ini diganti besi saja biar tak mudah roboh," kata beliau sambil memegang tiang tersebut. Kholil menuruti nasehat tersebut.
Betapa besar perhatian beliau pada individu. Besar pula perhaian beliau pada masyarakat. Cerita berikut ini memperlihatkan orientsi beliau kepada umat. Pada 1975 ta'mir Masjid Jami' Al-Anwar sepakat bahwa menara lama harus dirobohkan karena kondisinya mengkhawatirkan. Maka diputuskan menara itu akan dibongkar dan diganti yang baru. Mengenai yang baru, rapat ta'mir sepakat lokasinya agak ke barat, artinya menempel ke bangunan induk. Tapi ada satu peserta rapat yang tidak sutuju yaitu gus Zaki saya ngotot agar ditaruh dekat jalan raya ujar gus zaki maksudnya bagaimana kira-kira orang lewat itu yang dilihat pertama kali bukan tugu di alun-alun depan masjid tapi menara pokoknya bagaimana menara itu bisa menonjol usul ini akhirnya disetujui peserta rapat hasil rapat seperti biasa dilaporkan pada kyai hamid beliau nerkata begini ki penduduk itu jumlahnya tambah lama tambah banyak kalau orang bertambah banyak ya butuh rumah yang besar ya butuh jalan yang lebar lha kalau sekarang (menara) ditaruh di sana kalau kelak jalan dilebarkan bagaimana?" mendengar jawaban itu kontan gus zaki merasa malu sekali betapa tidak saya yang biasa lewat di jalan raya kok tidak pernah berpikir tentang kebutuhan masyarakat akan jalan kiai Hamid yang tidak pernah lewat jalan raya (kalau ke masjid beliau lewat gang pen.) kok bisa mikir sampai ke sana," kata gus zaki. (Abd)

Mana kulit pisangnya?
Salah satu bukti kekasyafan (ilmu waskita; weruh sakdurunge winarah) Kiai Hamid adalah satu cerita dari Bapak H. Misykat.

Suatu hari Misykat diberi pisang oleh kiai Hamid. "ini makan , kulitnya kasihkan kambing," katanya. Padahal tak ada kambing, ta kulitnya dia buang.
Setelah Asar, dia dipanggil.
"Mana kulit pisangnya?" tanyanya.
"Saya buang, Yai."
"Lho, dusuruh kasihkan kambing, dibuang."
Ternyata tak lama kemudian ada orang mengantar kambing.
(Sumber: H. Misykat Kebonsari Pasuruan)

Mengajari Umat Untuk Membiasakan Sholat
Keheningan dan kedamaian di komplek Pondok Pesantren Salafiyah hari itu masih terasa dan begitu menyentuh hati para santri yang ada di dalamnya. Tak terkecuali santri yang beranama Zuhdi asal Kota Pasuruan. Zuhdi yang saat itu masih berstatus santri dan menjadi khodam dari KH. Abdul Hamid, pada satu kesempatan didatangi tamu dari Banyuwangi, kota yang terletak di ujung timur propinsi Jawa-Timur.
Tamu tersebut jauh-jauh datang ke Pasuruan hanya ingin bersilaturrahmi atau sowan kepada KH. Abdul Hamid yang berada di Pon-Pes Salafiyah. Sebelumnya Zuhdi tidak menyangka bakal kedatangan tamu, namun dengan kekaromahan yang dimilki romo Kyai Hamid (sapaan akrab yang digunakan orang Pasuruan untuk memanggil beliau), Zuhdi ditimbali (dipanggil) sang kyai di pintu gerbang timur pondok sebelum tamu tersebut datang. Perlahan zuhdi melangkahkan kaki untuk menghampiri panggilan gurunya, tanpa ngomong panjang lebar, KH. Hamid berkata kepada Zuhdi: “Di…..,maringene onok tamu soko Banyuwangi, tolong yo! omongno Aku ndak gelem nyalami (Di….., sebentar lagi ada tamu dari Banyuwangi, tolong ya! Katakan saya tidak mau menyalami). Setelah itu, kyai meninggalkan Zuhdi, dapat tiga langkah dari tempat Zuhdi, kyai bergumang: “lha wong omae pinggir menara masjid, tapi ndak tau gelem jama’ah neng masjid” ( rumahnya di pinggir menara masjid, tapi kok tidak pernah berjama’ah di masjid). Tanpa komentar si Zuhdi hanya mengatakan “iya” dengan isyarat menganggukkan kepala. Setelah itu Kyai Hamid masuk ke dalam dan Zuhdi pun meninggalkan tempat tersebut. Dalam benaknya, Zuhdi berkata. “Siapa ya, kira-kira tamu yang dimaksud Kyai tadi, Ah … sebentar lagi aku pasti tahu siapa tamu yang dimaksud”.
Semilirnya angin ketika itu terus berlalu-lalang dan senantiasa menyapa tubuh Zuhdi dengan kedamaian. Selang beberapa saat, ternyata apa yang dikatakan kyai sungguhan. Zuhdi kedatangan seseorang. Dalam ingatan Zuhdi. “Ah… mungkin ini tamu yang dimaksud Romo Kyai (KH. Abdul Hamid).” Setelah itu tamu tersebut langsung mendatangi Zuhdi dan menanyakan apakah KH. Abdul Hamid ada dan bisakah ia menemuinya? dengan ramah Zuhdi menjawabnya: maaf mas! KH. Abdul Hamid memang ada, namun beliau tidak bisa menemui dan bersalaman dengan anda Dengan langkah gontai si tamu-pun pergi tanpa menanyakan mengapa KH. Abdul Hamid tidak bisa menemuinya? Zuhdi pun ingat pesan gurunya, supaya mengantar tamu sampai ke gang menuju jalan raya. Nah di tengah-tengah perjalanan inilah si Zuhdi mencoba menghibur si tamu atas rasa kekecewaannya karena tidak bisa bertemu KH. Abdul Hamid. Dengan sikap sok akrap, Zuhdi menanyakan di mana rumah tamu tersebut? Tamu itupun menjawab: saya dari kota Banyuwangi mas! Spontan si Zuhdi heran, karena asal kota pria tersebut sesuai dengan apa yang di katakan Kyai kepadanya. Sembari demikian si Zuhdi-pun kembali menanyakan apakah rumah sampean dekat menara masjid? Orang tersebut kembali menjawab: iya mas !, lalu Zuhdi bertanya kembali, apakah sampean sering jama’ah di sana? Tamu itu menjawab: rumah saya memang berdekatan dengan masjid, tapi saya tidak pernah jama’ah di sana. Kembali si Zuhdi menimpali pernyataan dari tamu tersebut dengan mengatakan: “lha … ! itu sebabnya mas, mengapa kyai tidak kerso dan tidak mau menemui sampean !!.” dengan perasan malu dan menyesal, tamu tadi undur diri kepada Zuhdi untuk pulang.
Selang beberapa hari, lelaki yang berasal dari Banyuwangi tersebut kembali lagi dengan menata niatnya berangkat ke kota santri yakni Pasuruan untuk menemui KH. Abdul Hamid. Ia optimis kedatangnnya kali ini pasti akan di terima oleh kyai yang di masa kecilnya bernama Abdul Mu’thi. Ia mempunyai keyakinan seperti itu karena dia berfikir kedatangannya dahulu ke Pon-Pes Salafiyah untuk silaturrahmi ke KH. Abdul Hamid ditolak/tidak ditemui lantaran ia tidak pernah shalat di rumah Allah (Masjid) didekat rumahnya, alias tidak pernah jama’ah di sana. Maka dari itu, Kyai enggan untuk menemuinya, dari peristiwa itulah, seseorang tersebut sadar atau insyaf akan tindakannya yang kurang pantas dan kini ia pun telah membalik atau merubah keadaan drinya dengan rajin berjama’ah di masjid. Nah… dengan perubahan seperti itulah KH. Abdul Hamid pasti mau menerimanya dan alhamdulillah, ternyata omongan dan firasatnya mujarab, ia datang ke KH. Abdul Hamid dan ternyata beliau pun mau menemuinya sebagai tamu.
Sumber: Ustadz Khodlori- Pasuruan)

Disembuhkan Dengan Cara yang Aneh
Suatu ketika Gus Zaki (KH. Zaki Ubaid) diserang sakit maag yang parah. Serasa tidaka kuat, dia sampai menggelepar-gelepar. Semua anggota keluarga pada datang, mendoakan. Kiai Aqib, Nyai Nafisah Hamid, Nyai Maryam Ahmad Sahal. Semua sudah membesuk, kecuali Kiai Hamid. Dr. Han pun sudah dipanggil. Karena sakitnya masih tak ketulungan, Gus Zaki menyuruh orang untuk memanggil Dr. Han lagi. "Buat apa? Suntik sudah, obat sudah, sekarang sabar saja," kata dr. Han. Dia tak mau datang. Lalu Gus Zaki minta Kiai Hamid di-aturi datang, diundang. Ternyata beliau tak ada di rumah.
Sekitar pukul 23.30, Maimunah, istrinya yang setia menunggui, pergi ke dapur untuk menjerang air. Sebab, air yang di botol sudah dingin. (Oh ya, untuk mengurangi rasa sakit, botol yang berisi air hangat ditempelkan di perut.)
Ketika ditinggal sendirian itulah, Gus Zaki dikejutkan oleh kehadiran Kiai Hamid yang begitu tiba-tiba di dalam kamar. Entah dari mana masuknya. Setelah mengubah posisi kursi dan bantal, beliau memperlihatkan telapak tangannya, Gus Zaki melihat di telapak tangannya itu seperti ada kabel-kabel. "Ini biar saya ganti saja, ya, sudah lapuk," katanya. Entah apa maksudnya. Lantas telapak tangan kanan itu ditempelkan di perut si pasien. Tiba-tiba dia merasakan perutnya enakan, hingga hilang rasa sakitnya. Dia disuruh duduk, eh, tak apa-apa. Padahal sebelumnya, jangankan duduk, bergerak sedikitpun sudah sakit.
"Keburu ada orang. Ini biarkan saja, Ki, nanti nyambung sendiri," kata beliau sambil menunjuk ke perut Gus Zaki, sebelum bergegas pergi. Setelah ditinggal pergi, barulah Gus Zaki merasakan kejanggalan. Dari mana masuknya? pikir dia. Apa betul itu Kyai Hamid? "Kalau betul Kyai Hamid, kok nggak ngasih uang?". Sebab, biasanya Kyai Hamid tidak pernah absent memberi uang.
Sejurus kemudian, Neng Muna masuk kamar. Dia kaget melihat suaminya sudah duduk. "Sampean ini bagaimana, kok duduk?!" tegurnya. Dia lebih sewot lagi melihat posisi kursi dan bantal yang sudah tak karuan. Kalau jatuh bagaimana? Pikirnya. "ini siapa yang mindah?" tanyanya. Gus Zaki yang masih terlongong-longong tak menggubris kata-kata istrinya. "Coba kamu lihat pintu depan dan belakang." Katanya dengan penuh tanda Tanya. Neng Muna menurut. "Semua terkunci! Memangnya ada apa?" tanyanya begitu kembali. "Barusan ada Kyai Hamid" jawab Gus Zaki sembari menceritakan semua yang dialaminya.
Esoknya, habis shalat subuh Kyai Hamid datang "Bagaimana keadaanmu?" Tanya beliau. "Alhamdulillah, sudah baik. Ya tadi malam ….". Sampai di situ kata-katanya dipotong "sudah-sudah" kata beliau sembari meletakkan telunjuk tangannya di mulut. Beliau kemudian memberi Gus Zaki uang Rp 500.- lantas pergi lagi.
(Sumber: KH. Zaki Ubaid)

Dibenak Ingin diberi Makan, Kiai Hamid pun Menyediakan
Kiai Hamid adalah orang yang kasyaf (ilmu Waskita; weruh sak durunge winarah). Salah satunya adalah cerita Sa'id Amdad dari Pasuruan yang dulunya tidak percaya pada wali. Dia orang rasional. Mendengar kewalian Kiai Hamid yang tersohor di mana-mana, dia jadi penasaran. Suatu kali ia mengetes. "Saya ingin diberi makan Kiai Hamid". Coba, dia tahu apa tidak," katanya dalam hati, ketika plang dari Surabya. Setiba dari Surabaya, dia langsung ke pondok Salafiyah.
Waktu itu pas mau jam'ah shalat Isya'. Usai shalat Isya', dia tak langsung keluar, membaac wirid dulu. Sekitar pukul setengah sembilan, jamaah sudah pulang semua. Lampu teras Kiai Hamidpu sudah dipadamkan. Dia melangkahkan kaki keluar. Dia melihat ada yang melambai dari rumah Kiai Hamid. Diapun menghampirinya. Ternyata yang melambai adalah tuan rumah alias Kiai Hamid. "makan di sini ya," kata beliau.
Di ruang tengah, hidangan sudah ditata. "maaf ya, lauknya seadanya saja. Sampeyan tidak bilang dulu sih," kata kia Hamid dengan ramahnya. Said merasa disindir. Sejak itu dia pe

kh ಹಮಿದ್ ಪಸುರುಯನ್

njing pun diperlakukan baik
Siapa pun (orang Islam) tidak suka bila melihat anjing berada di sekitarnya. Bahkan orang akan mengusirnya dengan cara kasar. Melemparinya dengan batu, memukuli dan hal-hal lain yang menjurus pada perlakuan kasar.

Perbuatan ini bertolak belakang dengan kiai Hamid. Di samping beliau menebar cinta ke semua orang, beliau juga menebar cinta kepada binatang. Termasuk anjing yang oleh orang awam tadi dipandang dengan kebencian karena najis mughallazhahnya. Berkali-kali anjing datang, duduk-duduk diteras rumah beliau atau bermain ditempat wudlu pondok. Oleh beliau, binatang itu dibiarkan, malah tak boleh diusir.
Suatu kali ada seekor anjing masuk ke dalam pesantren. Karuan saja para santri segera mengepungnya, memukulinya dan menjerat lehernya. Keesokan harinya, dalam pengajian ahad, Kiai Hamid marah besar. “Anjing itu juga mahkluk Allah, tidak boleh diperlakukan semena-mena,” katanya dengan penuh tekanan.
Sumber: H. Misbah (Miskat), Pasuruan

Pencuri datang, dihormati sebagai tamu
Kiai Hamid adalah sosok yang halus pembawaannya. Suaranya pelan, sangat lirih, nyaris berbisik. Pelan ketika mengajar, pelan ketika membaca kitab, pelan ketika salat, pelan ketika berzikir, pelan juga ketika bercakap-cakap. Baik bercakap dengan tamu, dengan santri, maupun dengan keluarganya sendiri. “sejak dulu, Kiai Hamid kalau membaca Qur’an sendiri tak pernah terdengar suaranya,” kata KH. Zaki Ubaid, yang sejak kecil sudah mendampingi Kiai Hamid, “hanya kalau tadarus terdengar suaranya.”

Gus Zaki Ubaid bercerita, jemuran di pekerangan belakang rumah beliau sering raib. Setelah berhari-hari melakukan pengintaian bersama sejumlah santri, akhirnya sang pencuri tertangkap basah. Maka digelandanglah sang pencuri itu ke halaman depan, untuk menjadikan bancakan, pesta bogem mentah. Tapi sial, begitu keluar dari pintu lorong, mereka kepergok Kiai Hamid. “O, ada tamu ya. Silakan, silakan“ kata beliau. Maling dibilang tamu. Urusan pun berpindah tangan, sementara ”pesta besar” batal dilaksanakan. Gus Zaki Ubaid dkk. Tak bisa berbuat apa-apa.
Akan halnya Kiai Hamid, beliau memperlakukan si pencuri seperti layaknya tamu. Disuguhi minuman , diberi makan, diajak bercengkrama. Ketika pulang, diantar hingga ke halaman, sambil berpesan agar mampir lagi kalau ada waktu.1

Sumber: KH. Zaki Ubaid (al Marhum), Pasuruan
Sepuluh Ribu Untuk Kyai Hamid
Kota Pasuruan merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang menyimpan banyak nilai religi dan kental dengan aroma keislamannya. Berbagai kegiatan islami di kota yang terkenal dengan sebutan “ kota santri” ini sangat beragam dan tak terhitung jumlahnya. Namun dibalik itu, siapa sangka kota yang banyak para kekasih Allah tersebut, menyimpan segudang cerita unik yang cukup menggelitik hati yang justru muncul dari para tokoh agama di kota itu.

Alkisah di kota Pasuruan dahulu hidup seorang kyai yang terkenal dengan kewaliannya dan memilki kharismatik tinggi di mata masyarakat Pasuruan. Ya, siapa lagi kalau bukan KH. Abdul Hamid atau yang lebih akrabnya biasa dipanggil romo kyai Hamid . Pada suatu hari ada seorang pengusaha bernama Sukir yang hendak sowan kepada kyai Hamid yang terkenal dengan sikap tawadlu’ dan lemah lembutnya itu. Sukir-pun akhirnya mendatangi temannya terlebih dahulu sambl bertanya, ”biasanya kalu sowan kepada kyai Hamid perlu memberi “salam templek” apa tidak ?”
Temannya pun menjawab:
“kadang ya, kadang juga tidak.” Jawabnya singkat.
Merasa belum puas, sang pengusaha tadi kembali bertanya:
“kalau memberi salam templek, kira-kira berapa ya ?” tanyanya dengan nada penasaran.
“ah...... saya tidak tahu, karena saya sendiri tidak pernah memberi salam templek. Malahan kyai Hamid sendiri yang sering memberi tamunya.” Jelasnya cukup panjang lebar.
Mendengar keterangan dari temannya tersebut, akhirnya Sukir memutuskan untuk memberi salam templek, karena ia tahu biasanya kalu sowan kepada kyai-kyai manapun, kebanyakan memberi salam templek, meskipun jumlahnya nggak terlalu besar. Sesaat kemudian ia pun bingung karena berapa jumlah uang yang pantas untuk diberikan kepada kyai Hamid. Tanpa panjang lebar ia pun merogoh sakunya dan mengambil uang sebesar sepuluh ribu, lalu dimasukkan ke dalam amplop dan ditutupnya rapat-rapat. Dalam benaknya ia berfikir, kalau nanti banyak orang yang sowan sementara yang diberikannya itu kurang “kan tidak tahu kalu itu dari saya.”
Selang beberapa saat, Sukir pun berangkat menemui sang kyai di Ponpes Salafiyah Pasuruan. Setibanya di sana ia langsung bertemu dengan kyai Hamid, dan Sukir pun bersalaman sambil menyelipkan amplop yang dibawanya ke tangan kyai Hamid.
“sepuluh ribu juga boleh,” kata kyai Hamid dengan nada datar.
Pengusaha itupun spontan merasa heran yang dibarengi dengan keluarnya keringat dingin dari sekujur tubuhnya, ia merasa malu karena merasa tertebak isi amplop yang diberikannya kepada kyai Hamid. (Jar)

Melarang Memakai Cincin Pun Dengan Halus
Dalam pemahaman kiai Hamid, kegiatan ajar-mengajar adalah kegiatan dakwah, bukan sekedar transfer ilmu dari guru ke murid. Dengan demikian, mengajar adalah suatu kegiatan untuk mengubah perilaku dari yang menyalahi syariat, menjadi sesuai dengan syariat.

Dalam dakwahnya, beliau kalau mengingatkan atau menasehati orang caranya harus sekali. Beliau lebih mengutamakan harmoni, diusahakan hal itu tidak akan menimbulkan kejutan.
Seperti ketika ada tamu pria dari Kalimantan yang memakai cincin emas. Beliau tak suka melihat hal ini karena pria dilarang (haram) memakai aksesori dari emas. Tapi beliau tak langsung mengingatkan, hanya mengamati dengan seksama.
"Cincinnya bagus, saya ambil boleh?" Tanya beliau.
"Oh ya, silahkan," jawab si pemakai sambil melepaskan cincinya, dan menyerahkannya kepada beliau.
"Sekarang cincin ini saya titipkan sampeyan untuk diberikan kepada istri sampeyan," kata beliau sambil mengembalikan cincin tersebut. "Masukkan ke sapu sampeyan," ujar beliau lagi. Orang tersebut menurut.
Tapi ketika keluar dari rumah beliau, cincin itu dipakainya lagi. Ketika bersua lagi di musholla, beliau melihat cincin tesebut melingkar manis di jari orang tersebut. "Lho, kok dipakai lagi?" kata beliau. "Lepas saja, masukkan ke saku, kasihkan pada istri sampeyan." Sebuah dakwah yang halus, dan tidak merugikan. Coba kalau cincin itu langsung dibuang atau disita.

Menjadi Bapak Dari Masyarakat
Sebagai seorang pengasuh pondok, beliau bukan hanya menjadi bapak dari santri-santrinya. Tetapi beliau juga menjadi bapak dari masyarakat. Seorang bapak yang merasa punya tanggung jawab untuk melayani mereka di kala mereka sedih ataupun ditimpa masalah.

Kholil yang berusia hampir 70 tahun warga kebonsari, adalah pemilik warung kaki lima yang menyediakan minuman dan makanan kecil. Warung ini bka tiap malam hari, sehabis isya' sam'pai subuh, di pinggir jalan dekat langgar arghob (jalan jawa). Setiap malam, sambil membangunkan orang pada pukul 3 dini hari, beliau selalu menyempatkan diri untuk mampir di warung tersebut. Bukan untuk makan minum, melainkan bercengkrama dengan pemiliknya. Terkadang beliau juga memberi saran-saran untuk perbaikan. Misalnya, beliau menyarankan kholil untuk agar mengganti tiang warungnya yang terbuat dari bamboo. "Ini diganti besi saja biar tak mudah roboh," kata beliau sambil memegang tiang tersebut. Kholil menuruti nasehat tersebut.
Betapa besar perhatian beliau pada individu. Besar pula perhaian beliau pada masyarakat. Cerita berikut ini memperlihatkan orientsi beliau kepada umat. Pada 1975 ta'mir Masjid Jami' Al-Anwar sepakat bahwa menara lama harus dirobohkan karena kondisinya mengkhawatirkan. Maka diputuskan menara itu akan dibongkar dan diganti yang baru. Mengenai yang baru, rapat ta'mir sepakat lokasinya agak ke barat, artinya menempel ke bangunan induk. Tapi ada satu peserta rapat yang tidak sutuju yaitu gus Zaki saya ngotot agar ditaruh dekat jalan raya ujar gus zaki maksudnya bagaimana kira-kira orang lewat itu yang dilihat pertama kali bukan tugu di alun-alun depan masjid tapi menara pokoknya bagaimana menara itu bisa menonjol usul ini akhirnya disetujui peserta rapat hasil rapat seperti biasa dilaporkan pada kyai hamid beliau nerkata begini ki penduduk itu jumlahnya tambah lama tambah banyak kalau orang bertambah banyak ya butuh rumah yang besar ya butuh jalan yang lebar lha kalau sekarang (menara) ditaruh di sana kalau kelak jalan dilebarkan bagaimana?" mendengar jawaban itu kontan gus zaki merasa malu sekali betapa tidak saya yang biasa lewat di jalan raya kok tidak pernah berpikir tentang kebutuhan masyarakat akan jalan kiai Hamid yang tidak pernah lewat jalan raya (kalau ke masjid beliau lewat gang pen.) kok bisa mikir sampai ke sana," kata gus zaki. (Abd)

Mana kulit pisangnya?
Salah satu bukti kekasyafan (ilmu waskita; weruh sakdurunge winarah) Kiai Hamid adalah satu cerita dari Bapak H. Misykat.

Suatu hari Misykat diberi pisang oleh kiai Hamid. "ini makan , kulitnya kasihkan kambing," katanya. Padahal tak ada kambing, ta kulitnya dia buang.
Setelah Asar, dia dipanggil.
"Mana kulit pisangnya?" tanyanya.
"Saya buang, Yai."
"Lho, dusuruh kasihkan kambing, dibuang."
Ternyata tak lama kemudian ada orang mengantar kambing.
(Sumber: H. Misykat Kebonsari Pasuruan)

Mengajari Umat Untuk Membiasakan Sholat
Keheningan dan kedamaian di komplek Pondok Pesantren Salafiyah hari itu masih terasa dan begitu menyentuh hati para santri yang ada di dalamnya. Tak terkecuali santri yang beranama Zuhdi asal Kota Pasuruan. Zuhdi yang saat itu masih berstatus santri dan menjadi khodam dari KH. Abdul Hamid, pada satu kesempatan didatangi tamu dari Banyuwangi, kota yang terletak di ujung timur propinsi Jawa-Timur.
Tamu tersebut jauh-jauh datang ke Pasuruan hanya ingin bersilaturrahmi atau sowan kepada KH. Abdul Hamid yang berada di Pon-Pes Salafiyah. Sebelumnya Zuhdi tidak menyangka bakal kedatangan tamu, namun dengan kekaromahan yang dimilki romo Kyai Hamid (sapaan akrab yang digunakan orang Pasuruan untuk memanggil beliau), Zuhdi ditimbali (dipanggil) sang kyai di pintu gerbang timur pondok sebelum tamu tersebut datang. Perlahan zuhdi melangkahkan kaki untuk menghampiri panggilan gurunya, tanpa ngomong panjang lebar, KH. Hamid berkata kepada Zuhdi: “Di…..,maringene onok tamu soko Banyuwangi, tolong yo! omongno Aku ndak gelem nyalami (Di….., sebentar lagi ada tamu dari Banyuwangi, tolong ya! Katakan saya tidak mau menyalami). Setelah itu, kyai meninggalkan Zuhdi, dapat tiga langkah dari tempat Zuhdi, kyai bergumang: “lha wong omae pinggir menara masjid, tapi ndak tau gelem jama’ah neng masjid” ( rumahnya di pinggir menara masjid, tapi kok tidak pernah berjama’ah di masjid). Tanpa komentar si Zuhdi hanya mengatakan “iya” dengan isyarat menganggukkan kepala. Setelah itu Kyai Hamid masuk ke dalam dan Zuhdi pun meninggalkan tempat tersebut. Dalam benaknya, Zuhdi berkata. “Siapa ya, kira-kira tamu yang dimaksud Kyai tadi, Ah … sebentar lagi aku pasti tahu siapa tamu yang dimaksud”.
Semilirnya angin ketika itu terus berlalu-lalang dan senantiasa menyapa tubuh Zuhdi dengan kedamaian. Selang beberapa saat, ternyata apa yang dikatakan kyai sungguhan. Zuhdi kedatangan seseorang. Dalam ingatan Zuhdi. “Ah… mungkin ini tamu yang dimaksud Romo Kyai (KH. Abdul Hamid).” Setelah itu tamu tersebut langsung mendatangi Zuhdi dan menanyakan apakah KH. Abdul Hamid ada dan bisakah ia menemuinya? dengan ramah Zuhdi menjawabnya: maaf mas! KH. Abdul Hamid memang ada, namun beliau tidak bisa menemui dan bersalaman dengan anda Dengan langkah gontai si tamu-pun pergi tanpa menanyakan mengapa KH. Abdul Hamid tidak bisa menemuinya? Zuhdi pun ingat pesan gurunya, supaya mengantar tamu sampai ke gang menuju jalan raya. Nah di tengah-tengah perjalanan inilah si Zuhdi mencoba menghibur si tamu atas rasa kekecewaannya karena tidak bisa bertemu KH. Abdul Hamid. Dengan sikap sok akrap, Zuhdi menanyakan di mana rumah tamu tersebut? Tamu itupun menjawab: saya dari kota Banyuwangi mas! Spontan si Zuhdi heran, karena asal kota pria tersebut sesuai dengan apa yang di katakan Kyai kepadanya. Sembari demikian si Zuhdi-pun kembali menanyakan apakah rumah sampean dekat menara masjid? Orang tersebut kembali menjawab: iya mas !, lalu Zuhdi bertanya kembali, apakah sampean sering jama’ah di sana? Tamu itu menjawab: rumah saya memang berdekatan dengan masjid, tapi saya tidak pernah jama’ah di sana. Kembali si Zuhdi menimpali pernyataan dari tamu tersebut dengan mengatakan: “lha … ! itu sebabnya mas, mengapa kyai tidak kerso dan tidak mau menemui sampean !!.” dengan perasan malu dan menyesal, tamu tadi undur diri kepada Zuhdi untuk pulang.
Selang beberapa hari, lelaki yang berasal dari Banyuwangi tersebut kembali lagi dengan menata niatnya berangkat ke kota santri yakni Pasuruan untuk menemui KH. Abdul Hamid. Ia optimis kedatangnnya kali ini pasti akan di terima oleh kyai yang di masa kecilnya bernama Abdul Mu’thi. Ia mempunyai keyakinan seperti itu karena dia berfikir kedatangannya dahulu ke Pon-Pes Salafiyah untuk silaturrahmi ke KH. Abdul Hamid ditolak/tidak ditemui lantaran ia tidak pernah shalat di rumah Allah (Masjid) didekat rumahnya, alias tidak pernah jama’ah di sana. Maka dari itu, Kyai enggan untuk menemuinya, dari peristiwa itulah, seseorang tersebut sadar atau insyaf akan tindakannya yang kurang pantas dan kini ia pun telah membalik atau merubah keadaan drinya dengan rajin berjama’ah di masjid. Nah… dengan perubahan seperti itulah KH. Abdul Hamid pasti mau menerimanya dan alhamdulillah, ternyata omongan dan firasatnya mujarab, ia datang ke KH. Abdul Hamid dan ternyata beliau pun mau menemuinya sebagai tamu.
Sumber: Ustadz Khodlori- Pasuruan)

Disembuhkan Dengan Cara yang Aneh
Suatu ketika Gus Zaki (KH. Zaki Ubaid) diserang sakit maag yang parah. Serasa tidaka kuat, dia sampai menggelepar-gelepar. Semua anggota keluarga pada datang, mendoakan. Kiai Aqib, Nyai Nafisah Hamid, Nyai Maryam Ahmad Sahal. Semua sudah membesuk, kecuali Kiai Hamid. Dr. Han pun sudah dipanggil. Karena sakitnya masih tak ketulungan, Gus Zaki menyuruh orang untuk memanggil Dr. Han lagi. "Buat apa? Suntik sudah, obat sudah, sekarang sabar saja," kata dr. Han. Dia tak mau datang. Lalu Gus Zaki minta Kiai Hamid di-aturi datang, diundang. Ternyata beliau tak ada di rumah.
Sekitar pukul 23.30, Maimunah, istrinya yang setia menunggui, pergi ke dapur untuk menjerang air. Sebab, air yang di botol sudah dingin. (Oh ya, untuk mengurangi rasa sakit, botol yang berisi air hangat ditempelkan di perut.)
Ketika ditinggal sendirian itulah, Gus Zaki dikejutkan oleh kehadiran Kiai Hamid yang begitu tiba-tiba di dalam kamar. Entah dari mana masuknya. Setelah mengubah posisi kursi dan bantal, beliau memperlihatkan telapak tangannya, Gus Zaki melihat di telapak tangannya itu seperti ada kabel-kabel. "Ini biar saya ganti saja, ya, sudah lapuk," katanya. Entah apa maksudnya. Lantas telapak tangan kanan itu ditempelkan di perut si pasien. Tiba-tiba dia merasakan perutnya enakan, hingga hilang rasa sakitnya. Dia disuruh duduk, eh, tak apa-apa. Padahal sebelumnya, jangankan duduk, bergerak sedikitpun sudah sakit.
"Keburu ada orang. Ini biarkan saja, Ki, nanti nyambung sendiri," kata beliau sambil menunjuk ke perut Gus Zaki, sebelum bergegas pergi. Setelah ditinggal pergi, barulah Gus Zaki merasakan kejanggalan. Dari mana masuknya? pikir dia. Apa betul itu Kyai Hamid? "Kalau betul Kyai Hamid, kok nggak ngasih uang?". Sebab, biasanya Kyai Hamid tidak pernah absent memberi uang.
Sejurus kemudian, Neng Muna masuk kamar. Dia kaget melihat suaminya sudah duduk. "Sampean ini bagaimana, kok duduk?!" tegurnya. Dia lebih sewot lagi melihat posisi kursi dan bantal yang sudah tak karuan. Kalau jatuh bagaimana? Pikirnya. "ini siapa yang mindah?" tanyanya. Gus Zaki yang masih terlongong-longong tak menggubris kata-kata istrinya. "Coba kamu lihat pintu depan dan belakang." Katanya dengan penuh tanda Tanya. Neng Muna menurut. "Semua terkunci! Memangnya ada apa?" tanyanya begitu kembali. "Barusan ada Kyai Hamid" jawab Gus Zaki sembari menceritakan semua yang dialaminya.
Esoknya, habis shalat subuh Kyai Hamid datang "Bagaimana keadaanmu?" Tanya beliau. "Alhamdulillah, sudah baik. Ya tadi malam ….". Sampai di situ kata-katanya dipotong "sudah-sudah" kata beliau sembari meletakkan telunjuk tangannya di mulut. Beliau kemudian memberi Gus Zaki uang Rp 500.- lantas pergi lagi.
(Sumber: KH. Zaki Ubaid)

Dibenak Ingin diberi Makan, Kiai Hamid pun Menyediakan
Kiai Hamid adalah orang yang kasyaf (ilmu Waskita; weruh sak durunge winarah). Salah satunya adalah cerita Sa'id Amdad dari Pasuruan yang dulunya tidak percaya pada wali. Dia orang rasional. Mendengar kewalian Kiai Hamid yang tersohor di mana-mana, dia jadi penasaran. Suatu kali ia mengetes. "Saya ingin diberi makan Kiai Hamid". Coba, dia tahu apa tidak," katanya dalam hati, ketika plang dari Surabya. Setiba dari Surabaya, dia langsung ke pondok Salafiyah.
Waktu itu pas mau jam'ah shalat Isya'. Usai shalat Isya', dia tak langsung keluar, membaac wirid dulu. Sekitar pukul setengah sembilan, jamaah sudah pulang semua. Lampu teras Kiai Hamidpu sudah dipadamkan. Dia melangkahkan kaki keluar. Dia melihat ada yang melambai dari rumah Kiai Hamid. Diapun menghampirinya. Ternyata yang melambai adalah tuan rumah alias Kiai Hamid. "makan di sini ya," kata beliau.
Di ruang tengah, hidangan sudah ditata. "maaf ya, lauknya seadanya saja. Sampeyan tidak bilang dulu sih," kata kia Hamid dengan ramahnya. Said merasa disindir. Sejak itu dia pe

kh khatib

Syeikh Ahmad Khatib Sambas adalah seorang ulama yang mendirikan perkumpulan Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah. Perkumpulan thariqah ini merupakan penyatuan dan pengembangan terhadap metode dua thariqat sufi besar. yakni Qadiriyah dan Naqsyabandiyah.

Ahmad Khatib Sambas dilahirkan di daerah Kampung Dagang, Sambas, Kalimantan Barat, pada bulan shafar 1217 H. bertepatan dengan tahun 1803 M. dari seorang ayah bernama Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin. Ahmad Khatib terlahir dari sebuah keluarga perantau dari Kampung Sange’. Pada masa-masa tersebut, tradisi merantau (nomaden) memang masih menjadi bagian cara hidup masyarakat di Kalimantan Barat.

Sebagai sebuah daerah yang dibangun oleh Raja Tengah, keturunan dari raja Brunei Darussalam, pada tahun 1620 M. dan menobatkan diri sebagai sebuah kerajaan sepuluh tahun kemudian. Maka wilayah Sambas adalah daerah yang telah memiliki ciri-ciri kemusliman khusus sejak Raden Sulaiman yang bergelar Muhammad Tsafiuddin dinobatkan sebagai Sultan Sambas pertama.

Pada waktu itu, rakyat Sambas hidup dari garis agraris dan nelayan. Hingga ditandatanganinya perjanjian antara Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin (1815-1828) dengan pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1819 M. Perjanjian ini membentuk sebuah pola baru bagi masyarakat Sambas yakni, perdagangan maritim.

Dalam suasana demikianlah, Ahmad Khatib Sambas menjalani masa-masa kecil dan masa remajanya. Di mana sejak kecil, Ahmad khatib Sambas diasuh oleh pamannya yang terkenal sangat alim dan wara’ di wilayah tersebut. Ahmad khatib Sambas menghabiskan masa remajanya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, ia berguru dari satu guru-ke guru lainnya di wilayah kesultanan Sambas. Salah satu gurunya yang terkenal di wilayah tersebut adalah, H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.

Karena terlihat keistimewaannya terhadap penguasaan ilmu-ilmu keagamaan, Ahmad Khatib Sambas kemudian dikirim oleh orang tuanya untuk meneruskan pendidikannya ke Timur Tengah, khususnya Mekkah. Maka pada tahun 1820 M. Ahmad Khatib Sambas pun berangkat ke tanah suci untuk menuntaskan dahaga keilmuannya. Dari sini kemudian ia menikah dengan seorang wanita Arab keturunan Melayu dan menetap di Makkah. Sejak saat itu, Ahmad Khatib Sambas memutuskan menetap di Makkah sampai wafat pada tahun 1875 M.

Guru-guru dan Murid
Di antara guru Ahmad Khatib Sambas semasa menuntut ilmu di tanah suci adalah Syeikh Daud bin Abdullah al-Fatani, seorang Syeikh terkenal yang berdomisili di Makkah, dan Syeikh Abdus Shomad al-Palimbani. Syeikh Abdul hafidzz al-Ajami, Ahmad al-Marzuqi al-Makki al-Maliki.

Sedangkan mengingat masa meninggalnya Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah Oktober 1812 M. setelah mengabdi di tanah air selama empat puluh tahun, dan Beliau berangkat ke tanah suci pada tahun 1820 M. maka tidak mengherankan jika Beliau pun diduga sebagai salah satu guru Ahmad Khatib Sambas. Dalam hemat penulis, sangat mungkin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah guru Beliau sewaktu belum berangkat ke tanah suci.

Pendapat ini setidaknya mematahkan penolakan bahwa Ahmad Katib Sambas tidaklah mungkin pernah bertemu dengan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari. Mengingat tradisi nomaden dan situasi politik era perdagangan maritim yang telah dijelaskan sebelumnya, maka sebenarnya sangat mungkin bagi Ahmad Katib Sambas untuk bertemu dengan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, terutama bersama dengan bimbingan pamannya yang juga adalah seorang ulama.

Ketika kemudian Ahmad Khatib telah menjadi seorang ulama, ia pun memiliki andil yang sangat besar dalam perkembangan kehidupan keagamaan di Nusantara, meskipun sejak kepergiannya ke tanah suci, ia tidaklah pernah kembali lagi ke tanah air.

Masyarakat Jawa dan Madura, mengetahui disiplin ilmu Syeikh Sambas, demikian para ulama menyebutnya kemudian, melalui ajaran-ajarannya setelah mereka kembali dari Makkah. Syeikh Sambas merupakan ulama yang sangat berpengaruh, dan juga banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka dalam bidang fiqh dan tafsir, termasuk Syeikh Nawawi al-Bantani adalah salah seorang di antara murid-murid Beliau yang berhasil menjadi ulama termasyhur.

Salah satunya adalah Syeikh Abdul Karim Banten yang terkenal sebagai Sulthanus Syeikh. Ulama ini terkenal keras dalam imperialisme Belanda pada tahun 1888 dan mengobarkan pemberontakan yang terkenal sebagai pemberontakan Petani Banten. Namun sayang, perjuangan fisiknya ini gagal, kemudian meninggalkan Banten menuju Makkah untuk menggantikan Syeikh Ahmad Khatib Sambas.

Syeikh Ahmad Khatob Sambas dalam mengajarkan disiplin ilmu Islam bekerja sama dengan para Syeikh besar lainnya yang bukan pengikut thariqat seperti Syaikh Tolhah dari Cirebon, dan Syaikh Ahmad Hasbullah bin Muhammad dari Madura, keduanya pernah menetap di Makkah.

Sebagian besar penulis Eropa membuat catatan salah, ketika mereka menyatakan bahwa sebagian besar Ulama Indonesia bermusuhan dengan pengikut sufi. Hal terpenting yang perlu ditekankan adalah bahwa Syeikh Sambas adalah sebagai seorang Ulama (dalam asti intelektual), yan g juga sebagai seorang sufi (dalam arti pemuka thariqat) serta seorang pemimpin umat yang memiliki banyak sekali murid di Nusantara.

Hal ini dikarenakan perkumpulan Thariqat Qadiriyyah wa Naqsabhandiyyah yang didirikannya, telah menarik perhatian sebagian masyarakat muslim Indonesia, khususnya di wilayah Madura, Banten, dan Cirebon, dan tersebar luas hingga ke Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam.

Peranan dan Karya
Perlawanan yang dilakukan oleh suku Sasak, pengikut Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah yang dipimpin oleh Syeikh Guru Bangkol juga merupakan bukti yang melengkapi pemberontakan petani Banten, bahwa perlawanan terhadap pemerintahan Belanda juga dipicu oleh keikutsertaan mereka pada perkumpulan Thariqoh yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Khatib Sambas ini.

Thariqat Qadiriyyah wan Naqshabandiyyah mempunyai peranan penting dalam kehidupan muslim Indonesia, terutama dalam membantu membentuk karakter masyarakat Indonesia. Bukan semata karena Syaikh Ahmad Khatib Sambas sebagai pendiri adalah orang dari Nusantara, tetapi bahwa para pengikut kedua Thariqat ini adalah para pejuang yang dengan gigih senantiasa mengobarkan perlawanan terhadap imperialisme Belanda dan terus berjuang melalui gerakan sosial-keagamaan dan institusi pendidikan setelah kemerdekaan.

Ajarah Syeikh Ahmad Khatib Sambas hingga saat ini dapat dikenali dari karya Fathul Arifin yang merupakah notulensi dari ceramah-ceramahnya yang ditulis oleh salah seorang muridnya, Muhammad Ismail bin Abdurrahim. Notulensi ini dibukukan di Makkah pada tanggal tahun 1295 H. kitab ini memuat tentang tata cara, baiat, talqin, dzikir, muqarobah dan silsilah Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah.

Buku inilah yang hingga saat ini masih dijadikan pegangan oleh para mursyid dan pengikut Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah untuk melaksanakan prosesi-prosesi peribadahan khusus mereka. Dengan demikian maka tentu saja nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas selalu dikenang dan di panjatkan dalam setiap doa dan munajah para pengikut Thariqah ini.

Walaupun Syeikh Ahmad Khatib Sambas termasyhur sebagai seorang tokoh sufi, namun Beliau juga menghasilkan karya dalam bidang ilmu fikih yang berupa manusrkip risalah Jum’at. Naskah tulisan tangan ini dijumpai tahun 1986, bekas koleksi Haji Manshur yang berasal dari Pulau Subi, Kepulauan Riau. Demikian menurut Wan Mohd. Shaghir Abdullah, seorang ulama penulis asal tanah Melayu. Kandungan manuskrip ini, membicarakan masalah seputar Jum’at, juga membahas mengenai hukum penyembelihan secara Islam.

Pada bagian akhir naskah manuskrip, terdapat pula suatu nasihat panjang, manuskrip ini ditutup dengan beberapa amalan wirid Beliau selain amalan Tariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah.

Karya lain (juga berupa manuskrip) membicarakan tentang fikih, mulai thaharah, sholat dan penyelenggaraan jenazah ditemukan di Kampung Mendalok, Sungai Kunyit, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat, pada 6 Syawal 1422 H/20 Disember 2001 M. karya ini berupa manuskrip tanpa tahun, hanya terdapat tahun penyalinan dinyatakan yang menyatakan disalin pada hari kamis, 11 Muharam 1281 H. oleh Haji Ahmad bin Penggawa Nashir.

Sedangkan mengenai masa hidupnya, sekurang-kurangnya terdapat dua buah kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh orang Arab, menceritakan kisah ulama-ulama Mekah, termasuk di dalamnya adalah nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas. Kitab yang pertama, Siyar wa Tarajim, karya Umar Abdul Jabbar. Kitab kedua, Al-Mukhtashar min Kitab Nasyrin Naur waz Zahar, karya Abdullah Mirdad Abul Khair yang diringkaskan oleh Muhammad Sa’id al-’Amudi dan Ahmad Ali.

Umar Abdul Jabbar, menyebut bulan Safar 1217 H (kira-kira bersamaan 1802 M.) sebagai tanggal lahirnya demikian pun Muhammad Sa’id al-Mahmudi. Namun mengenai tahun wafatnya di Mekah, terdapat perbedaan. Abdullah Mirdad Abul Khair menyebut bahwa Syeikh Ahmad Khatib wafat tahun 1280 H. (kira-kira bersamaan 1863 M.), tetapi menurut Umar Abdul Jabbar, pada tahun 1289 H. (kira-kira bersamaan 1872 M.).

Tahun wafat 1280 H. yang disebut oleh Abdullah Mirdad Abul Khair sudah pasti ditolak, karena berdasarkan sebuah manuskrip Fathul Arifin salinan Haji Muhammad Sa’id bin Hasanuddin, Imam Singapura, menyebutkan bahwa Muhammad Sa’ad bin Muhammad Thasin al-Banjari mengambil tariqat (berbaiat) dari gurunya, Syeikh Ahmad Khatib sedang berada di Makkah menjalani khalwat. Manuskrip ini menyebutkan bahwa baiat ini terjadi pada hari Rabu ketujuh bulan Dzulhijjah, tahun 1286 H. Jadi berarti pada tanggal 7 Dzulhijah 1286 H. Syeikh Ahmad Khathib Sambas masih hidup. Oleh tanggal wafat Syeikh Ahmad Khatib Sambas, yang wafat tahun 1289 H. yang disebut oleh Umar Abdul Jabbar lebih mendekati kebenara

tarekat sufi

buhnya tarekat dalam Islam sesungguhnya bersamaan dengan kelahiran agama Islam itu sendiri, yaitu sejak Nabi Muhammad saw diutus menjadi Rasul. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pribadi Nabi Muhammad saw sebelum diangkat menjadi Rasul telah berulang kali melakukan tahannust dan khalwat di Gua Hira’ di samping untuk mengasingkan diri dari masyarakat Makkah yang sedang mabuk mengikuti hawa nafsu keduniaan. Tahhanust dan Khalwat nabi adalah untuk mencari ketenangan jiwa dan kebersihan hati dalam menempuh problematika dunia yang kompleks tersebut.

Proses khalwat nabi yang kemudian disebut tarekat tersebut sekaligus diajarkannya kepada Sayyidina Ali ra. sebagai cucunya. Dan dari situlah kemudian Ali mengajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya sampai kepada Syeikh Abdul Qodir Jaelani, sehingga tarekatnya dinamai Qodiriyah. Sebagaimana dalam silsilah tarekat Qadiriyah yang merujuk pada Ali dan Abdul Qadir Jaelani dan seterusnya adalah dari Nabi Muhammad saw, dari Malaikat Jibril dan dari Allah Swt.

Tarekat Qodiryah didirikan oleh Syeikh Abdul Qodir Jaelani (wafat 561 H/1166M) yang bernama lengkap Muhy al-Din Abu Muhammad Abdul Qodir ibn Abi Shalih Zango Dost al-Jaelani. Lahir di di Jilan tahun 470 H/1077 M dan wafat di Baghdad pada 561 H/1166 M. Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al-Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al-Ghazali. Tapi, al-Ghazali tetap belajar sampai mendapat ijazah dari gurunya yang bernama Abu Yusuf al-Hamadany (440-535 H/1048-1140 M) di kota yang sama itu sampai mendapatkan ijazah.
Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Abdul Qadir Jaelani menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baggdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpinan anak kedua Abdul Qadir Jaelani, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Bagdad pada tahun 656 H/1258 M.

Sejak itu tarekat Qodiriyah terus berkembang dan berpusat di Iraq dan Syria yang diikuti oleh jutaan umat yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika dan Asia. Namun meski sudah berkembang sejak abad ke-13, tarekat ini baru terkenal di dunia pada abad ke 15 M. Di India misalnya baru berkembang setelah Muhammad Ghawsh (w 1517 M) juga mengaku keturunan Abdul Qodir Jaelani. Di Turki oleh Ismail Rumi (w 1041 H/1631 M) yang diberi gelar (mursyid kedua). Sedangkan di Makkah, tarekat Qodiriyah sudah berdiri sejak 1180 H/1669 M.

Tarekat Qodiriyah ini dikenal luwes. Yaitu bila murid sudah mencapai derajat syeikh, maka murid tidak mempunyai suatu keharusan untuk terus mengikuti tarekat gurunya. Bahkan dia berhak melakukan modifikasi tarekat yang lain ke dalam tarekatnya. Hal itu seperti tampak pada ungkapan Abdul Qadir Jaelani sendiri,”Bahwa murid yang sudah mencapai derajat gurunya, maka dia jadi mandiri sebagai syeikh dan Allah-lah yang menjadi walinya untuk seterusnya.”

Mungkin karena keluwesannya tersebut, sehingga terdapat puluhan tarekat yang masuk dalam kategori Qidiriyah di dunia Islam. Seperti Banawa yang berkembang pada abad ke-19, Ghawtsiyah (1517), Junaidiyah (1515 M), Kamaliyah (1584 M), Miyan Khei (1550 M), Qumaishiyah (1584), Hayat al-Mir, semuanya di India. Di Turki terdapat tarekat Hindiyah, Khulusiyah, Nawshahi, Rumiyah (1631 M), Nabulsiyah, Waslatiyyah. Dan di Yaman ada tarekat Ahdaliyah, Asadiyah, Mushariyyah, ‘Urabiyyah, Yafi’iyah (718-768 H/1316 M) dan Zayla’iyah. Sedangkan di Afrika terdapat tarekat Ammariyah, Bakka’iyah, Bu’ Aliyya, Manzaliyah dan tarekat Jilala, nama yang biasa diberikan masyarakat Maroko kepada Abdul Qodir Jilani. Jilala dimasukkan dari Maroko ke Spanyol dan diduga setelah keturunannya pindah dari Granada, sebelum kota itu jatuh ke tangan Kristen pada tahun 1492 M dan makam mereka disebut “Syurafa Jilala”.

Dari ketaudanan nabi dan sabahat Ali ra dalam mendekatkan diri kepada Allah swt tersebut, yang kemudian disebut tarekat, maka tarekat Qodiriyah menurut ulama sufi juga memiliki tujuan yang sama. Yaitu untuk mendekat dan mendapat ridho dari Allah swt. Oleh sebab itu dengan tarekat manusia harus mengetahui hal-ikhwal jiwa dan sifat-sifatnya yang baik dan terpuji untuk kemudian diamalkan, maupun yang tercela yang harus ditinggalkannya.

Misalnya dengan mengucapkan kalimat tauhid, dzikir “Laa ilaha Illa Allah” dengan suara nyaring, keras (dhahir) yang disebut (nafi istbat) adalah contoh ucapan dzikir dari Syiekh Abdul Qadir Jaelani dari Sayidina Ali bin Abi Thalib ra, hingga disebut tarekat Qodiriyah. Selain itu dalam setiap selesai melaksanakan shalat lima waktu (Dhuhur, Asar, Maghrib, Isya’ dan Subuh), diwajibkan membaca istighfar tiga kali atau lebih , lalu membaca salawat tiga kali, Laailaha illa Allah 165 (seratus enam puluh lima) kali. Sedangkan di luar shalat agar berdzikir semampunya.

Dalam mengucapkan lafadz Laa pada kalimat “Laa Ilaha Illa Allah” kita harus konsentrasi dengan menarik nafas dari perut sampai ke otak.

Kemudian disusul dengan bacaan Ilaha dari arah kanan dan diteruskan dengan membaca Illa Allah ke arah kiri dengan penuh konsentrasi, menghayati dan merenungi arti yang sedalam-dalamnya, dan hanya Allah swt-lah tempat manusia kembali. Sehingga akan menjadikan diri dan jiwanya tentram dan terhindar dari sifat dan perilaku yang tercela.

Menurut ulama sufi (al-Futuhat al-Rubbaniyah), melalui tarekat mu’tabarah tersebut, setiap muslim dalam mengamalkannya akan memiliki keistimewaan, kelebihan dan karomah masing-masing. Ada yang terkenal sebagai ahli ilmu agama seperti sahabat Umar bin Khattab, ahli syiddatil haya’ sahabat Usman bin Affan, ahli jihad fisabilillah sahabat Hamzah dan Khalid bin Walid, ahli falak Zaid al-Farisi, ahli syiir Hasan bin Tsabit, ahli lagu Alquran sahabat Abdillah bin Mas’ud dan Ubay bin Ka’ab, ahli hadis Abi Hurairah, ahli adzan sahabat Bilal dan Ibni Ummi Maktum, ahli mencatat wahyu dari Nabi Muhammad saw adalah sahabat Zaid bin Tsabit, ahli zuhud Abi Dzarr, ahli fiqh Mu’ad bin Jabal, ahli politik peperangan sahabat Salman al-Farisi, ahli berdagang adalah Abdurrahman bin A’uf dan sebagainya.


Bai’at
Untuk mengamalkan tarekat tersebut melalui tahapan-tahan seperti pertama, adanya pertemuan guru (syeikh) dan murid, murid mengerjakan salat dua rakaat (sunnah muthalaq) lebih dahulu, diteruskan dengan membaca surat al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Nabi Muhammad saw. Kemudian murid duduk bersila di depan guru dan mengucapkan istighfar, lalu guru mengajarkan lafadz Laailaha Illa Allah, dan guru mengucapkan “infahna binafhihi minka” dan dilanjutkan dengan ayat mubaya’ah (QS Al-Fath 10). Kemudian guru mendengarkan kalimat tauhid (Laa Ilaha Illallah) sebanyak tiga kali sampai ucapan sang murid tersebut benar dan itu dianggap selesai. Kemudian guru berwasiat, membaiat sebagai murid, berdoa dan minum.

Kedua, tahap perjalanan. Tahapan kedua ini memerlukan proses panjang dan bertahun-tahun. Karena murid akan menerima hakikat pengajaran, ia harus selalu berbakti, menjunjung segala perintahnya, menjauhi segala larangannya, berjuang keras melawan hawa nafsunya dan melatih dirinya (mujahadah-riyadhah) hingga memperoleh dari Allah seperti yang diberikan pada para nabi dan wali.

Tarekat (thariqah) secara harfiah berarti “jalan” sama seperti syariah, sabil, shirath dan manhaj. Yaitu jalan menuju kepada Allah guna mendapatkan ridho-Nya dengan mentaati ajaran-ajaran-Nya. Semua perkataan yang berarti jalan itu terdapat dalam Alquran, seperti QS Al-Jin:16,” Kalau saja mereka berjalan dengan teguh di atas thariqah, maka Kami (Allah) pasti akan melimpahkan kepada mereka air (kehidupan sejati) yang melimpah ruah”.

Istilah thariqah dalam perbendaharaan kesufian, merupakan hasil makna semantik perkataan itu, semua yang terjadi pada syariah untuk ilmu hukum Islam. Setiap ajaran esoterik/bathini mengandung segi-segi eksklusif. Jadi, tak bisa dibuat untuk orang umum (awam). Segi-segi eksklusif tersebut misalnya menyangkut hal-hal yang bersifat “rahasia” yang bobot kerohaniannya berat, sehingga membuatnya sukar dimengerti. Oleh sebab itu mengamalkan tarekat itu harus melalui guru (mursyid) dengan bai’at dan guru yang mengajarkannya harus mendapat ijazah, talqin dan wewenang dari guru tarekat sebelumnya. Seperti terlihat pada silsilah ulama sufi dari Rasulullah saw, sahabat, ulama sufi di dunia Islam sampai ke ulama sufi di Indonesia.


Qodiriyah di Indonesia

Seperti halnya tarekat di Timur Tengah. Sejarah tarekat Qodiriyah di Indonesia juga berasal dari Makkah al-Musyarrafah. Tarekat Qodiriyah menyebar ke Indonesia pada abad ke-16, khususnya di seluruh Jawa, seperti di Pesantren Pegentongan Bogor Jawa Barat, Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat, Mranggen Jawa Tengah, Rejoso Jombang Jawa Timur dan Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur. Syeikh Abdul Karim dari Banten adalah murid kesayangan Syeikh Khatib Sambas yang bermukim di Makkah, merupakan ulama paling berjasa dalam penyebaran tarekat Qodiriyah. Murid-murid Sambas yang berasal dari Jawa dan Madura setelah pulang ke Indonesia menjadi penyebar Tarekat Qodiriyah tersebut.

Tarekat ini mengalami perkembangan pesat pada abad ke-19, terutama ketika menghadapi penjajahan Belanda. Sebagaimana diakui oleh Annemerie Schimmel dalam bukunya “Mystical Dimensions of Islam” hal.236 yang menyebutkan bahwa tarekat bisa digalang untuk menyusun kekuatan untuk menandingi kekuatan lain. Juga di Indonesia, pada Juli 1888, wilayah Anyer di Banten Jawa Barat dilanda pemberontakan. Pemberontakan petani yang seringkali disertai harapan yang mesianistik, memang sudah biasa terjadi di Jawa, terutama dalam abad ke-19 dan Banten merupakan salah satu daerah yang sering berontak.

Tapi, pemberontakan kali ini benar-benar mengguncang Belanda, karena pemberontakan itu dipimpin oleh para ulama dan kiai. Dari hasil penyelidikan (Belanda, Martin van Bruneissen) menunjukkan mereka itu pengikut tarekat Qodiriyah, Syeikh Abdul Karim bersama khalifahnya yaitu KH Marzuki, adalah pemimpin pemberontakan tersebut hingga Belanda kewalahan. Pada tahun 1891 pemberontakan yang sama terjadi di Praya, Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan pada tahun 1903 KH Khasan Mukmin dari Sidoarjo Jatim serta KH Khasan Tafsir dari Krapyak Yogyakarta, juga melakukan pemberontakan yang sama.

Sementara itu organisasi agama yang tidak bisa dilepaskan dari tarekat Qodiriyah adalah organisasi tebrbesar Islam Nahdlaltul Ulama (NU) yang berdiri di Surabaya pada tahun 1926. Bahkan tarekat yang dikenal sebagai Qadariyah Naqsabandiyah sudah menjadi organisasi resmi di Indonesia.

Juga pada organisasi Islam Al-Washliyah dan lain-lainnya. Dalam kitab Miftahus Shudur yang ditulis KH Ahmad Shohibulwafa Tadjul Arifin (Mbah Anom) di Pimpinan Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya Jabar dalam silsilah tarekatnya menempati urutan ke-37, sampai merujuk pada Nabi Muhammad saw, Sayyidina Ali ra, Abdul Qadir Jilani dan Syeikh Khatib Sambas ke-34.

Sama halnya dengan silsilah tarekat almrhum KH Mustain Romli, Pengasuh Pesantren Rejoso Jombang Jatim, yang menduduki urutan ke-41 dan Khatib Sambas ke-35. Bahwa beliau mendapat talqin dan baiat dari KH Moh Kholil Rejoso Jombang, KH Moh Kholil dari Syeikh Khatib Sambas ibn Abdul Ghaffar yang alim dan arifillah (telah mempunyai ma’rifat kepada Allah) yang berdiam di Makkah di Kampung Suqul Lail.

Silsilahnya.
1. M Mustain Romli, 2, Usman Ishaq, 3. Moh Romli Tamim, 4. Moh Kholil, 5. Ahmad Hasbullah ibn Muhammad Madura, 6. Abdul Karim, 7. Ahmad Khotib Sambas ibn Abdul Gaffar, 8. Syamsuddin, 9. Moh. Murod, 10. Abdul Fattah, 11. Kamaluddin, 12. Usman, 13. Abdurrahim, 14. Abu Bakar, 15. Yahya, 16. Hisyamuddin, 17. Waliyuddin, 18. Nuruddin, 19. Zainuddin, 20. Syarafuddin, 21. Syamsuddin, 22. Moh Hattak, 23. Syeikh Abdul Qadir Jilani, 24. Ibu Said Al-Mubarak Al-Mahzumi, 25. Abu Hasan Ali al-Hakkari, 26. Abul Faraj al-Thusi, 27. Abdul Wahid al-Tamimi, 28. Abu Bakar Dulafi al-Syibli, 29. Abul Qasim al-Junaid al-Bagdadi, 30. Sari al-Saqathi, 31. Ma’ruf al-Karkhi, 32. Abul Hasan Ali ibn Musa al-Ridho, 33. Musa al-Kadzim, 34. Ja’far Shodiq, 35. Muhammad al-Baqir, 36. Imam Zainul Abidin, 37. Sayyidina Husein, 38. Sayyidina Ali ibn Abi Thalib, 39. Sayyidina Nabi Muhammad saw, 40. Sayyiduna Jibril dan 41. Allah Swt. Masalah silsilah tersebut memang berbeda satu sama lain, karena ada yang disebut seecara keseluruhan dan sebaliknya. Di samping berbeda pula guru di antara para kiai itu sendiri

al-amin

Pengasuh Pondok Pesantren Moderen Al Amien Sumenep Madura Kh.Tidjani Djauhari lahir di Prenduan, Oktober 1945 Ayah beliu juga seorang ulama terkemuka bernama KH Achmad Djauhari Chotib ibunya bernama Nyai maryam Abdullah. Sejak Kecil Kh Tidjani mendapat gembelengan dan tempaan ilmu dari Ayahnya yang memang seorang ulama . Ayahnya mengirim beliau untuk menimba diberbagai pondok- pesanten diantaranya di Gontor Jawa Timur di bawah asuhan KH Zarkasyi. Kecerdarsan Kh Tidjani dalam menimba ilmu digontor telah membuat simpatik Gurunya hingga akhirnya menikahkan Kh Tidjani dengan Putrinya . Selepas digontor Kh Tidjani meningalkan Tanah air untuk melanjutkan studi di timur tengah di Jamiat Islamiyah Madinah dan Jamiat Malik Abdul aziz Mekkah hingga memperoleh gelar S2 , selama di timur tengah Kh Tidjani di percaya menjadi sekjen Rabithoh A’lam islami dan sering memberikan seminar serta diskusi -diskusi internasional keberbagai negara seperti Pakistan, Maroko , malaysia madinah dll.

Setelah sekian lama berada ditimur tengah Kh Tidjani kembali ketanah air untuk melakukan Dakwahnya, Keintelektualan yang dimiliki Kh tidjani telah memberikan suatu kontribusi tersendiri bagi masyarakat Madura, Beliau pernah mengundang hampir 150 ulama pesantren untuk belajar akses internet di pondok-pesantren Al amien, karena menurutnya ulama-ulama pesantren harus tahu juga informasi-informasi aktual dengan basis multimedia. Selain menjabat sebagai dewan pakar ICMI ,Beliau juga aktif di Ma’had A’ly Indonesia dan juga sebagai penggagas berdirinya BASSRA (badan silahturahim ulama pesantren se Madura). Sebagai seorang ulama dan tokoh Masyarakat madura Kh.Tidjani merasa memiliki tanggung jawab terhadap umat, beliau sadar bahwa budaya Paternalistik masih kental melekat pada masyarakat Indonesia, maka konsekwensinya peran dan tanggung jawab nya menjadi sentral signipikan. Dan beliu juga sangat memperhatikan pentingnya pendidikan bagi masyarakat.