Tak Ajarkan Ilmu yang Belum Dikerjakan Pengasuhnya
Di wilayah Kabupaten Bangkalan, Pondok Pesantren (Ponpes) As Sadiliyah merupakan "rujukan" bagi mereka yang mendalami aliran tarekat. Itu karena pengasuhnya adalah ketua Jamiyah Tarekat Al Mubarok Bangkalan.
Bancaran merupakan salah satu kelurahan di wilayah Kecamatan Kota Bangkalan. Lokasinya berada persis di utara Kota Bangkalan. Di salah satu sudut kelurahan dimaksud, berdiri Ponpes As Sadiliyah yang diasuh oleh KH Abd. Wahab Jazuli. Pengasuh ponpes yang satu ini dikenal luas tak mau bersentuhan langsung dengan dunia politik.
Ditilik dari jumlah santri yang menetap, (mukimin), As Sadiliyah tergolong pesantren kecil. Sebab hanya dihuni 22 santri. Yakni 15 laki-laki dan 7 perempuan. Meski begitu, para santri yang mengaji di pondok seluas 3850 m2 ini merupakan santri jempolan. Ini karena mereka betul-betul memiliki niatan yang kuat untuk mendalami ilmu tarekat.
Terkait jumlah santrinya ini, pengasuh Ponpes As Sadiliyah melalui Ketua Yayasan Ponpes As Sadiliyah, H Masduki sempat berkelakar. "Santri yang menetap memang hanya 22 orang. Sedang yang tidak tetap ribuan. Kalau tidak percaya, Anda bisa lihat pada pengajian rutin minggu pagi," ujar H Masduki.
Benar saja, Minggu (19/10) lalu halaman pondok pesantren As Sadiliyah yang berlokasi di sisi barat ruas Jalan Raya Bancaran penuh sesak. Yang hadir pun dari beragam kalangan. Mulai masyarakat awam, tokoh masyarakat, ulama hingga pejabat negara. Ini karena di tengah-tengah jamaah, terlihat Wakil Gubernur Jawa Timur H Soenarjo yang didampingi Bupati Bangkalan RKH Fuad Amin.
Kehadiran mereka di pondok pesantren yang berdiri tahun 1997 ini dalam rangka mengikuti Haul Akbar tokoh tarekat asal Maroko, Syech Ali Hasan Assadily yang ke 620. Kebetulan di Bangkalan, Ketua Jamiyah Tarekat Al Mubarok tak lain adalah pengasuh ponpes As Sadiliyah, KH Abd. Wahab Jazuli.
Dari sisi makna kata, Mubarok berarti ada sambungan atau sanadnya hingga ke Rasullah dan tidak menyimpang. Di Indonesia, jumlahnya hanya 42, dan di Kabupaten Bangkalan hanya ada enam.
Yang cukup menarik, acara yang dihadiri sekitar 3 ribu orang tersebut merupakan yang pertama kalinya digelar. Ini tak karena KH Abd. Wahab Jazuli dianjurkan oleh ketua seluruh ajaran tarekat di Indonesia, Al Habib M. Lutfi Bin Yahya untuk menggelar haul akbar tersebut.
Dalam pengajian rutin mingguan, biasanya dibuka dengan wacana tanya jawab dengan jamaah. Utamanya terkait ibadah dan keseharian yang dirasakan langsung oleh para jamaah.
Kusus santri mukimim, kesehariannya mendapat ilmu dari para ustad yang ditunjuk. Namun tak jarang juga menerima ilmu langsung dari sang pengasuh, KH Abd. Wahab Jazuli.
Setiap harinya, KH Abd. Wahab Jazuli memiliki jadwal mengajar yang cukup padat. Usai salat Subuh membaca wiridan tarekat. Selepas salat Dluhur mengajar ilmu fiqhdan ilmu hadist. Sedang selesai salat Ashyar memberi pelajaran baca kitab Syafiinah. Setelah salat Maghrib mengajar Alquran. Serta, usai salat Isya’ memberi materi pelajaran kitab sullam atau tasawuf.
Selain santri, ponpes As Sadiliyah juga kerap dikunjungi ulama-ulama lokal yang berniat mencari rujukan ke pengasuh. Seperti dalam hal hukum Islam dan penetapan hukum Islam. Sedangkan masyarakat pun juga banyak yang melakukan konsultasi bidang keagamaan, baik yang datang langsung ke pondok maupun lewat telepon.
Sebagai seorang penganut ajaran tarekat yang inti ajarannya ialah jalan menuju kebersihan hati, KH Abd. Wahab Jazuli memiliki keyakinan bahwa apa yang diajarkannya tersebut merupakan pengalaman pribadi alias sudah dijalaninya. "Kalau saya memberi ilmu pada jamaah, berarti ilmu itu pernah saya amalkan. Kalau saya sendiri belum pernah menjalaninya, tidak akan saya sampaikan ke orang lain dan jamaah," tutur KH Abd. Wahab Jazuli.
Pada siapa saja ilmu ini diberikan? "Ilmu ini akan saya berikan pada orang yang tidak membutuhkan dan membutuhkan. Dan yang membutuhkan itu juga ada dua, pada dirinya sendiri dan untuk diberikan pada orang lain," tukas suami Hj Sakiyah ini.
Dari ajaran yang diberikannya pada para santri dan masyarakat yang membutuhkan adalah sikap amanah. Yakni amanah dalam segala bidang utamanya pada Allah SWT
Jumat, 07 Agustus 2009
Kamis, 14 Mei 2009
muhammadiyah
Bagi orang Muhammadiyah, nama tokoh Islam, perintis organisasi Muhammadiyah ini tidak akan ada yang belum mengenalnya. Apalagi bagi mereka yang pernah mengenyam pendidikan Muhammadiyah. Di setiap lembaga pendidikan Muhammadiyah diberikan mata pelajaran atau mata kuliah Ke-Muhammadiyahan. Dalam materi mata pelajaran itu di antaranya diperkenalkan pendiri dan pertis Muhammadiyah, yaitu KH.Achmad Dahlan. Selain itu, biasanya di gedung atau kantor amal usaha Muhammadiyah dan bahkan juga di rumah-rumah para pimpinan Muhammadiyah di pasang photo pimpinan organisasi ini. Tidak beda dengan itu, di sekolah-sekolah yang dirintis dan dibina oleh Nahdlatul Ulama’ dipasang gambar KH.Hasyim Asy’ari, tokoh pendiri organisasi Islam ini.
Ada cerita menarik, dari pendidikan yang dikembangkan oleh KH.Achmad Dahlan. Cerita itu menggambarkan bagaimana KH Achmad Dahlan ingin menjadikan pelajaran agama Islam yang diberikan kepada para siswa relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari. Dalam cerita itu, KH Achmad Dahlan sedemikian telaten dan tekun memberikan pelajaran kepada para siswanya tentang surat Ma’un. Surat itu diajarkan berbulan-biulan tidak pernah ganti. Setiap Kyai datang ke tempat belajar bagi anak-anak, hanya mengajarkan surat kesenangan Kyai itu, hingga para santri-santrinya pun bosan.
Di mana-mana kiranya sama, apa saja yang diulang-ulang menjadikan para murid bosan. Demikian juga santri-santri Kyai pendiri Muhammadiyah ini, merasakan bosan tatkala pada setiap hari, dalam waktu yang lama hanya diberikan mata pelajaran itu. Sampai-sampai, menurut cerita yang pernah saya dapatkan, apa yang dilakukan oleh Kyai Dahlan itu menjadi bahan mainan para santrinya. Sebelum Kyai datang, para santri menebak apa yang akan diajarkan, yakni surat al Ma’un, dan ternyata betul. Kyai mengajarkan lagi surat al Ma’un itu.
Apa yang dilakukan oleh para santri itu, ternyata pada suatu ketika ditangkap oleh Kyai. Sudah barang tentu Kyai tidak menjadi marah, apalagi menghukumnya. Kyai tidak pernah mengukum para santri yang mengakibatkan para santri meningalkan para gurunya. Mendengar nada bosan yang diungkap oleh santri, tentang bahan yang diajarkan tetap sama----surat al Ma’un, lalu kemudian kyai justru mengajak dialog para santrinya.
Kyai setelah mendengar gejala kebosanan yang dialami oleh para santri, kemudian menanyakan kepada para santri, apakah surat al Ma’un yang dimaksud itu sudah dihafal dan diamalkan. Para santri menjawab, bahwa surat itu telah dihafal dan diamalkan. Para santri menjelaskan bahwa salah satu surat pendek dalam al Qur’an itu telah dijadikan bahan bacaan pada setiap kali sholat. Atas jawaban itu, kyai lalu menjelaskan maksud daripada istilah mengamalkan itu. Yaitu melaksanakan isi pesan surat itu dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, agar jelas maksudnya, dan tidak salah paham lagi, maka Kyai Dahlan mengajak para santrinya agar besuk hari ke sekolah membawa apa saja yang bisa diberikan kepada orang miskin di kota Yogyakarta. Misalnya, uang, pakaian, sembako, dan lain-lain. Selanjutnya, besuk harinya itu juga, tidak sebagaimana sehari-hari santri harus belajar tentang Surat al Ma’un, tetapi dengan barang berharga yang telah dikumpulkan itu, bersama-sama menemui orang miskin, pengemis atau gelandangan di sekitar kota. Kemudian, apa yang dibawa para santri itu diserahkan kepada mereka.
Setelah mengajak para santri membagi-bagikan apa yang telah dikumpulan bersama itu, maka Kyai menjelaskan bahwa itulah sesungguhnya yang dimaksud telah mengamalkan surat al Ma’un tersebut. Istilah mengamalkan bukan saja sebatas memnghafal dan menjadikan surat pendek dalam al Qur’an itu dibaca dalam setiap sholat, melainkan menjadikannya sebagai pedoman dan sekaligus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Cerita pendek tentang bagaimana pendiri Muhammadiyah itu mengajarkan para santrinya, rasanya masih sangat relevan dengan tuntutan sekarang ini. Pada saat ini, betapa sudah semakin semarak ayat-ayat al Qur’an dijadikan bahan pelajaran, didiskusikan dan bahkan juga dijadikan bahan kajian di kampus-kampus. Tetapi ternyata, selepas kegiatan itu belum tampak gerakan secara signifikan untuk mengimplementasikan. Misalnya, dalam bentuk pengentasan kemiskinan sebagaimana dilakukan oleh Kyai Aschmad Dahlan tersebut. Memang, boleh-boleh saja ayat al Qur’an dan hadits Nabi dijadikan bahkan diskusi, wacana atau kajian, tetapi lebih dari itu, semestinya harus ditindak lanjuti dengan bentuk pengamalan secara nyata.
Memang Islam itu harus disampaikan kepada siapapun dan selanjutnya agar melahirkan kebahagiaan yang sebenarnya harus diamalkan. Mengajarkannya lewat penjelasan, perintah, pesan-pesan memang penting. Tetapi agar lebih efektif hal itu memang harus diajarkan melalui uswah hasanah. Islam tidak cukup dijadikan bahan ceramah, diskusi atau apa saja namanya, tetapi harus diamalkan. Apa yang dicontohkan oleh Kyai Dahlan tatkala mengajarkan Surat al Ma’un, yakni sebuah surat pendek dalam juz terakhir dari al Qur’an., rasanya masih sangat relevan, yakni mengajarkan lewat cont
Ada cerita menarik, dari pendidikan yang dikembangkan oleh KH.Achmad Dahlan. Cerita itu menggambarkan bagaimana KH Achmad Dahlan ingin menjadikan pelajaran agama Islam yang diberikan kepada para siswa relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari. Dalam cerita itu, KH Achmad Dahlan sedemikian telaten dan tekun memberikan pelajaran kepada para siswanya tentang surat Ma’un. Surat itu diajarkan berbulan-biulan tidak pernah ganti. Setiap Kyai datang ke tempat belajar bagi anak-anak, hanya mengajarkan surat kesenangan Kyai itu, hingga para santri-santrinya pun bosan.
Di mana-mana kiranya sama, apa saja yang diulang-ulang menjadikan para murid bosan. Demikian juga santri-santri Kyai pendiri Muhammadiyah ini, merasakan bosan tatkala pada setiap hari, dalam waktu yang lama hanya diberikan mata pelajaran itu. Sampai-sampai, menurut cerita yang pernah saya dapatkan, apa yang dilakukan oleh Kyai Dahlan itu menjadi bahan mainan para santrinya. Sebelum Kyai datang, para santri menebak apa yang akan diajarkan, yakni surat al Ma’un, dan ternyata betul. Kyai mengajarkan lagi surat al Ma’un itu.
Apa yang dilakukan oleh para santri itu, ternyata pada suatu ketika ditangkap oleh Kyai. Sudah barang tentu Kyai tidak menjadi marah, apalagi menghukumnya. Kyai tidak pernah mengukum para santri yang mengakibatkan para santri meningalkan para gurunya. Mendengar nada bosan yang diungkap oleh santri, tentang bahan yang diajarkan tetap sama----surat al Ma’un, lalu kemudian kyai justru mengajak dialog para santrinya.
Kyai setelah mendengar gejala kebosanan yang dialami oleh para santri, kemudian menanyakan kepada para santri, apakah surat al Ma’un yang dimaksud itu sudah dihafal dan diamalkan. Para santri menjawab, bahwa surat itu telah dihafal dan diamalkan. Para santri menjelaskan bahwa salah satu surat pendek dalam al Qur’an itu telah dijadikan bahan bacaan pada setiap kali sholat. Atas jawaban itu, kyai lalu menjelaskan maksud daripada istilah mengamalkan itu. Yaitu melaksanakan isi pesan surat itu dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, agar jelas maksudnya, dan tidak salah paham lagi, maka Kyai Dahlan mengajak para santrinya agar besuk hari ke sekolah membawa apa saja yang bisa diberikan kepada orang miskin di kota Yogyakarta. Misalnya, uang, pakaian, sembako, dan lain-lain. Selanjutnya, besuk harinya itu juga, tidak sebagaimana sehari-hari santri harus belajar tentang Surat al Ma’un, tetapi dengan barang berharga yang telah dikumpulkan itu, bersama-sama menemui orang miskin, pengemis atau gelandangan di sekitar kota. Kemudian, apa yang dibawa para santri itu diserahkan kepada mereka.
Setelah mengajak para santri membagi-bagikan apa yang telah dikumpulan bersama itu, maka Kyai menjelaskan bahwa itulah sesungguhnya yang dimaksud telah mengamalkan surat al Ma’un tersebut. Istilah mengamalkan bukan saja sebatas memnghafal dan menjadikan surat pendek dalam al Qur’an itu dibaca dalam setiap sholat, melainkan menjadikannya sebagai pedoman dan sekaligus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Cerita pendek tentang bagaimana pendiri Muhammadiyah itu mengajarkan para santrinya, rasanya masih sangat relevan dengan tuntutan sekarang ini. Pada saat ini, betapa sudah semakin semarak ayat-ayat al Qur’an dijadikan bahan pelajaran, didiskusikan dan bahkan juga dijadikan bahan kajian di kampus-kampus. Tetapi ternyata, selepas kegiatan itu belum tampak gerakan secara signifikan untuk mengimplementasikan. Misalnya, dalam bentuk pengentasan kemiskinan sebagaimana dilakukan oleh Kyai Aschmad Dahlan tersebut. Memang, boleh-boleh saja ayat al Qur’an dan hadits Nabi dijadikan bahkan diskusi, wacana atau kajian, tetapi lebih dari itu, semestinya harus ditindak lanjuti dengan bentuk pengamalan secara nyata.
Memang Islam itu harus disampaikan kepada siapapun dan selanjutnya agar melahirkan kebahagiaan yang sebenarnya harus diamalkan. Mengajarkannya lewat penjelasan, perintah, pesan-pesan memang penting. Tetapi agar lebih efektif hal itu memang harus diajarkan melalui uswah hasanah. Islam tidak cukup dijadikan bahan ceramah, diskusi atau apa saja namanya, tetapi harus diamalkan. Apa yang dicontohkan oleh Kyai Dahlan tatkala mengajarkan Surat al Ma’un, yakni sebuah surat pendek dalam juz terakhir dari al Qur’an., rasanya masih sangat relevan, yakni mengajarkan lewat cont
jiwa besar
Bukti-bukti bahwa Islam mengajarkan agar umatnya berpikir dan berjiwa besar sesungguhnya bisa dilihat dari berbagai aspek, baik dari doktrin yang bersumber dari ajaran Islam, yakni al QAur’an, sejarah kehidupoan rasul maupun sejarah hidup para pemimpin dan umatnya, termasuk juga dari bacaan-bacaan spiritualnya.
Seseorang disebut sebagai telah berjiwa dan berpikir besar manakala yang bersangkutan pada aktivitasnya tidak saja diorientasikan untuk kepentingan diri sendiri melainkan juga untuk pihak-pihak lain, dan tidak saja untuk mereka yang disini malainkan untuk yang di sana, serta bukan saja untuk mereka yang hidup sekarang, melainkan juga yang hidup pada masa yang akan datang.
Melalui al Qur’an, Islam berbicara tentang keselamatan, keadilan, kedamaian, kemenangan, kebahagiaan baik di dunia maupun di akherat. Seseorang dipandang sudah masuk menjadi muslim, tatkala yang bersangkutan telah bersedia melakukan kesaksian terhadap dua hal, yaitu kesaksian atau bersyahadah terhadap Ke-Maha Esa-an Allah dan kesaksian bahwa Muhammad adalah Rasul Nya. Sebagai konsekuensi dari kesaksiannya itu, maka yang bersangkutan telah mengakui atas kebenaran apa yang diucapkan itu, tanpa ragu sedikit pun.
Kekuatan syahadah itu mestinya mampu menjadikan seseorang memulai berpikir dan berjiwa besar. Dengan bersyahadah seseorang mengenal Dzat Yang Maha Agung, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Adil, Maha Mulia dan seterusnya. Kesaksiannya itu semestinya melahirkan pandangan besar dan luas tentang dunia ini. Dengan bersyahadah, seseorang telah mengenal siapa sesungguhnya pencipta dirinya, serta berbagai macam sifat mulia yang disandang oleh Sang Maha Pencipta itu. Selain Dzat Yang Maha Pencipta, maka seluruh jagad raya dan seisinya adalah makhluk, termasuk dirinya. Semua makhluk adalah berkedudukan sama, kecuali manusia yang telah dimuliakan oleh-Nya. Kemuliaan itu tetap diberikan karena keimanan, akhlak dan amal sholehnya.
Pandangan seperti ini, membawa pikiran dan jiwa pemeluk Islam menjadi besar. Kebesaran pikiran dan jiwa itu semestinya tidak boleh berkurang, apalagi hilang oleh hal-hal yang sederhana sifatnya. Pandangan Islam seperti itu, dalam sejarah telah melahirkan manusia-manusia besar yang mampu menggerakkan dunia. Manusia-manusia yang telah meraih pikiran dan jiwa besar yang tumbuh karena ajaran Islam, ada dan hidup di mana-mana dan berkarya atau beramal sholeh di berbagai bidang kehidupan.
Dengan Islam, manusia diharapkan menjadi abdun sekaligus khalifah di muka bumi. Manusia boleh menjadi abdi, tetapi hanya terhadap Allah swt. Kaum muslimin tidak boleh mengabdi kepada selain kepada Allah. Ketaatan dan loyalitas dalam sebuah komunitas, bukan ditujukan kepada orang yang kebetulan menjadi pemimpinnya, melainkan terhadap komitmen sebagai bagian bentuk dari pengabdiannya terhadap Tuhan. Sebagai khalifah, manusia dalam konsep Islam, adalah pihak yang mendapatkan amanah untuk mengatur dan memakmurkan bumi. Mengikuti konsep ini, posisi manusia adalah sangat mulia, melebihi posisi makhluk lain manapun.
Namun aneh, di hadapan umat lainnya, selama ini kaum muslimin masih belum menemukan kemuliaannya itu. Dalam berbagai bidang kehidupan, baik politik, ekonomi, social dan juga ilmu pengetahuan, masih kalah dan bahkan tertinggal dari umat lainnya. Kekalahan itu bukan karena mereka memeluk Islam, melainkan disebabkan karena dalam memahami dan memposisikan Islam, tampak kurang sempurna. Dalam sejarahnya Islam pernah mengalami kejayaan, sejak kepemimpinan Rasulullah saat itu. Rasulullah pernah membangun masyarakat yang benar-benar damai. Masyarakat itu dibangun di atas sendi tauhid, kejujuran, keadilan kesetaraan, memuliakan orang-orang berilmu dan beriman, beramal sholeh dan berakhkul karimah. Sebaliknya, bukan menindas dan menganiaya, melainkan sebaliknya justru menolong, dan memberdayakan terhadap siapapun baik terkait kehidupan social, ekonomi maupun ilmu pengetahuan.
Tidak pernah habis berbicara tentang keindahan Islam sebagai konsep kehidupan manusia baik secara individu maupun bermasyarakat. Terkait dengan perbincangan Islam dan kaitannya membangun pikiran dan jiwa besar, dalam artikel pendek ini, saya hanya ingin mengajak pembaca membayangkan bagaimana dalam kegiatan ritual sekalipun, Islam mengajak umatnya berpikir dan berjiwa besar itu.
Kegiatan ritual yang bersifat rutin dan harus dilakukan oleh kaum muslimin, berisi kalimat atau kata tentang kebesaran, kesucian, puji-pujian, kasih sayang, jalan lurus, hari akhir, dan sejarah kemanusiaan. Berapa kali sehari semalam, kaum muslimin diwajibkan untuk mengucapkan kalimah Allahu akbar, subhanallah, alhamdulillah dan kalimat-kalimat lain yang mulia. Kalimat-kalimat yang harus diucapkan dari waktu ke waktu, dari hari-ke hari selamanya tanpa putus, sepanjang waktu, memberikan kesadaran dan training tentang sifat-sifat itu yang seharusnya kemudian dimiliki dan bahkan merasuk dalam relung-relung pribadi kaum muslimin.
Di pagi buta, kaum muslimin sejak saat bangun tidur, dibiasakan mendengar kalimah suci itu, melalui adzan dan iqomah, bacaan-bacaan mulia di dalam sholat, semuanya itu, jika dilihat dari perspektif pendidikan atau tarbiyah, merupakan cara Islam menjadikan umatnya menyandang pribadi yang mulia, yakni di antaranya berpikir dan berjiwa besar itu. Hanya kemudian, pertanyaannya adalah benarkah seluruh kaum muslimin, telah memahami dan menyadari bahwa kegiatan ritual dengan mengucap kalimah-kalimah mulia itu, sesungguhnya adalah sebagai bagian dari proses menjadikan dirinya meraih kemuliaan itu. Atau, kegiatan ritual itu hanya dipandang dan dirasakan sebagai beban, karena semua yang dilakukan bukan untuk kesempurnaan dirinya, yakni sebagai abdun dan sekaligus sebagai khalifah, melainkan untuk selainnya itu.
Selama ini, saya belum pernah menemukan suatu ajaran yang sedemikian sempurna, selain Islam. Ajaran yang jika dikaji secara mendalam baik melalui kitab suci al Qur’an maupun tauladan kehidupan rasulullah, sungguh benar mengantarkan pemeluknya menjadi selamat. Keselamatan itu diraih karena yang bersangkutan menyandang keyakinan yang kokoh, atau keimanan, berpegang pada Islam dan ikhsan. Berangkat dari konsep itu kemudian melahirkan amal sholeh dan akhlakul karimah sebagai dasar dalam membangun masyarakat yang dihiasi oleh pikiran-pikiran dan jiwa besar. Agar menjadi lebih jelas, bandingkan dengan berbagai ajaran yang berseliweran di dunia ini, yang semuanya itu hanya memperbincangkan tentang perebutan ekonomi dan kekuasaan yang tidak pernah mengenal henti. Ekonomi dan kekuasaan bagi Islam, dipandang penting. Tetapi dua hal itu bukan untuk diperebutkan melainkan untuk kemaslahatan dan kebaikan bagi seluruh umat manusia. Konsep rahmatan lil alamien, yakni kesediaan menebarkan sifat kasih sayang kepada semua, ------termasuk ekonomi dan kekuasaan, adalah menggambarkan adanya pikiran dan jiwa besar it
Seseorang disebut sebagai telah berjiwa dan berpikir besar manakala yang bersangkutan pada aktivitasnya tidak saja diorientasikan untuk kepentingan diri sendiri melainkan juga untuk pihak-pihak lain, dan tidak saja untuk mereka yang disini malainkan untuk yang di sana, serta bukan saja untuk mereka yang hidup sekarang, melainkan juga yang hidup pada masa yang akan datang.
Melalui al Qur’an, Islam berbicara tentang keselamatan, keadilan, kedamaian, kemenangan, kebahagiaan baik di dunia maupun di akherat. Seseorang dipandang sudah masuk menjadi muslim, tatkala yang bersangkutan telah bersedia melakukan kesaksian terhadap dua hal, yaitu kesaksian atau bersyahadah terhadap Ke-Maha Esa-an Allah dan kesaksian bahwa Muhammad adalah Rasul Nya. Sebagai konsekuensi dari kesaksiannya itu, maka yang bersangkutan telah mengakui atas kebenaran apa yang diucapkan itu, tanpa ragu sedikit pun.
Kekuatan syahadah itu mestinya mampu menjadikan seseorang memulai berpikir dan berjiwa besar. Dengan bersyahadah seseorang mengenal Dzat Yang Maha Agung, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Adil, Maha Mulia dan seterusnya. Kesaksiannya itu semestinya melahirkan pandangan besar dan luas tentang dunia ini. Dengan bersyahadah, seseorang telah mengenal siapa sesungguhnya pencipta dirinya, serta berbagai macam sifat mulia yang disandang oleh Sang Maha Pencipta itu. Selain Dzat Yang Maha Pencipta, maka seluruh jagad raya dan seisinya adalah makhluk, termasuk dirinya. Semua makhluk adalah berkedudukan sama, kecuali manusia yang telah dimuliakan oleh-Nya. Kemuliaan itu tetap diberikan karena keimanan, akhlak dan amal sholehnya.
Pandangan seperti ini, membawa pikiran dan jiwa pemeluk Islam menjadi besar. Kebesaran pikiran dan jiwa itu semestinya tidak boleh berkurang, apalagi hilang oleh hal-hal yang sederhana sifatnya. Pandangan Islam seperti itu, dalam sejarah telah melahirkan manusia-manusia besar yang mampu menggerakkan dunia. Manusia-manusia yang telah meraih pikiran dan jiwa besar yang tumbuh karena ajaran Islam, ada dan hidup di mana-mana dan berkarya atau beramal sholeh di berbagai bidang kehidupan.
Dengan Islam, manusia diharapkan menjadi abdun sekaligus khalifah di muka bumi. Manusia boleh menjadi abdi, tetapi hanya terhadap Allah swt. Kaum muslimin tidak boleh mengabdi kepada selain kepada Allah. Ketaatan dan loyalitas dalam sebuah komunitas, bukan ditujukan kepada orang yang kebetulan menjadi pemimpinnya, melainkan terhadap komitmen sebagai bagian bentuk dari pengabdiannya terhadap Tuhan. Sebagai khalifah, manusia dalam konsep Islam, adalah pihak yang mendapatkan amanah untuk mengatur dan memakmurkan bumi. Mengikuti konsep ini, posisi manusia adalah sangat mulia, melebihi posisi makhluk lain manapun.
Namun aneh, di hadapan umat lainnya, selama ini kaum muslimin masih belum menemukan kemuliaannya itu. Dalam berbagai bidang kehidupan, baik politik, ekonomi, social dan juga ilmu pengetahuan, masih kalah dan bahkan tertinggal dari umat lainnya. Kekalahan itu bukan karena mereka memeluk Islam, melainkan disebabkan karena dalam memahami dan memposisikan Islam, tampak kurang sempurna. Dalam sejarahnya Islam pernah mengalami kejayaan, sejak kepemimpinan Rasulullah saat itu. Rasulullah pernah membangun masyarakat yang benar-benar damai. Masyarakat itu dibangun di atas sendi tauhid, kejujuran, keadilan kesetaraan, memuliakan orang-orang berilmu dan beriman, beramal sholeh dan berakhkul karimah. Sebaliknya, bukan menindas dan menganiaya, melainkan sebaliknya justru menolong, dan memberdayakan terhadap siapapun baik terkait kehidupan social, ekonomi maupun ilmu pengetahuan.
Tidak pernah habis berbicara tentang keindahan Islam sebagai konsep kehidupan manusia baik secara individu maupun bermasyarakat. Terkait dengan perbincangan Islam dan kaitannya membangun pikiran dan jiwa besar, dalam artikel pendek ini, saya hanya ingin mengajak pembaca membayangkan bagaimana dalam kegiatan ritual sekalipun, Islam mengajak umatnya berpikir dan berjiwa besar itu.
Kegiatan ritual yang bersifat rutin dan harus dilakukan oleh kaum muslimin, berisi kalimat atau kata tentang kebesaran, kesucian, puji-pujian, kasih sayang, jalan lurus, hari akhir, dan sejarah kemanusiaan. Berapa kali sehari semalam, kaum muslimin diwajibkan untuk mengucapkan kalimah Allahu akbar, subhanallah, alhamdulillah dan kalimat-kalimat lain yang mulia. Kalimat-kalimat yang harus diucapkan dari waktu ke waktu, dari hari-ke hari selamanya tanpa putus, sepanjang waktu, memberikan kesadaran dan training tentang sifat-sifat itu yang seharusnya kemudian dimiliki dan bahkan merasuk dalam relung-relung pribadi kaum muslimin.
Di pagi buta, kaum muslimin sejak saat bangun tidur, dibiasakan mendengar kalimah suci itu, melalui adzan dan iqomah, bacaan-bacaan mulia di dalam sholat, semuanya itu, jika dilihat dari perspektif pendidikan atau tarbiyah, merupakan cara Islam menjadikan umatnya menyandang pribadi yang mulia, yakni di antaranya berpikir dan berjiwa besar itu. Hanya kemudian, pertanyaannya adalah benarkah seluruh kaum muslimin, telah memahami dan menyadari bahwa kegiatan ritual dengan mengucap kalimah-kalimah mulia itu, sesungguhnya adalah sebagai bagian dari proses menjadikan dirinya meraih kemuliaan itu. Atau, kegiatan ritual itu hanya dipandang dan dirasakan sebagai beban, karena semua yang dilakukan bukan untuk kesempurnaan dirinya, yakni sebagai abdun dan sekaligus sebagai khalifah, melainkan untuk selainnya itu.
Selama ini, saya belum pernah menemukan suatu ajaran yang sedemikian sempurna, selain Islam. Ajaran yang jika dikaji secara mendalam baik melalui kitab suci al Qur’an maupun tauladan kehidupan rasulullah, sungguh benar mengantarkan pemeluknya menjadi selamat. Keselamatan itu diraih karena yang bersangkutan menyandang keyakinan yang kokoh, atau keimanan, berpegang pada Islam dan ikhsan. Berangkat dari konsep itu kemudian melahirkan amal sholeh dan akhlakul karimah sebagai dasar dalam membangun masyarakat yang dihiasi oleh pikiran-pikiran dan jiwa besar. Agar menjadi lebih jelas, bandingkan dengan berbagai ajaran yang berseliweran di dunia ini, yang semuanya itu hanya memperbincangkan tentang perebutan ekonomi dan kekuasaan yang tidak pernah mengenal henti. Ekonomi dan kekuasaan bagi Islam, dipandang penting. Tetapi dua hal itu bukan untuk diperebutkan melainkan untuk kemaslahatan dan kebaikan bagi seluruh umat manusia. Konsep rahmatan lil alamien, yakni kesediaan menebarkan sifat kasih sayang kepada semua, ------termasuk ekonomi dan kekuasaan, adalah menggambarkan adanya pikiran dan jiwa besar it
etos kerja
Dalam abstraksi disertasinya, Guru MAN Salatiga, Drs. Badaruddin, M. Ag. (58 tahun) menyatakan, setiap agama mengajarkan umat manusia untuk selalu bekerja dengan etos kerja yang tinggi. Etos kerja merupakan mekanisme yang bersifat batin, yang akan menggerakkan ruh untuk rela bekerja keras dan pantang menyerah bersumber pada keimanan. Tanpa pencerahan iman, etos kerja akan mendorong manusia pada perbuatan-perbuatan yang berlawanan dengan moralitas. Orang-orang Protestan misalnya, memiliki etos kerja yang bersumber pada etika Protestan, yang menganggap kerja adalah panggilan suci. Etika Protestan terbukti bisa memberikan spirit bagi orang-orang Protestan untuk selalu bekerja keras, melakukan inovasi-inovasi sebagai upaya pencapaian kemakmuran hidup dan kesejahteraan spiritual. Etika Protestan merupakan hasil penelitian yang dilakukan Max Weber terhadap sekelompok penganut sekte Protestan Calvinist. Hasil penelitian Max Weber dibukukan dalam bukunya yang berjudul ”The Protestant Ethic and The Spirit Capitalsim” Berpijak pada hasil penelitian Max Weber, salah satu penelitian terhadap sekelompok masyarakat di Jerman menunjukkan bahwa, tokoh bisnis modern, , pemilik modal, para karyawan perusahaan yang memiliki keahlian tinggi, para staf terdidik yang memiliki keahlian profesional, baik di bidang teknis maupun komersial dalam sampel penelitia tersebut sebagian besar adalah orang-orang protestan.
Sementara, realitas dalam perkembangan peradaban dunia menunjukkan bahwa masih banyak umat Islam di belahan dunia yang dianggap sebagai umat yang lemah dalam kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Padahal Islam juga memiliki falsafah hidup terkait dengan kerja yang bersumber dari al Qur’an, yakni : Bekerja bertujuan meraih ridha Allah SWT (inilah yang disebut etos kerja muslim). Berpijak pada realita tersebut, Badaruddin mengangkat permasalahan mengapa masih banyak umat Islam yang dalam realitas kehidupannya terlihat menyerah pada takdir (lepas dari upaya-upaya melakukan kerja keras dan berinovasi)? Permasalahan itu diangkat dalam disertasinya, dengan melakukan penelitian terhadap para wirausahawan muslim cor logam yang ada di wilayah kecamatan Batur, Kabupaten. Klaten. Hasil penelitian disertasi untuk memperoleh gelar Doktor Bidang Ilmu Agama Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga yang berjudul ”Etos Kerja Wirausahawan Muslim di Batur Klaten” dipresentasikan, Senin, 4 April kemarin di ruang promosi kampus setempat.
Hasil Penelitian putra kelahiran Wonogiri ini dipresentasikan di hadapan Promotor : Prof. Dr. H. Musya asy’arie da Prof. Dr. H. Djam’annuri, MA., serta tim penguji : Dr. Munrochim Misanam, M. Ec., Ph.D., Dr. Ahmad Janan Asifuddin, MA., Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, MA., Prof. Dr. H. Nasrudin Harahap, SU. Sidang promosi dipimpin Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah, dengan sekretaris Dr. H. Sukamto, MA.
Menurut promovendus, dari hasil penelitiannya dengan metode kualitatif dan pendekatan antropologi agama, terhadap 325 pengusaha cor logam di Batur yang mempekerjakan tidak kurang dari 3.187 pekerja, bisa digeneralisasikan bahwa masih banyak umat Islam yang memahami ibadah terbatas pada ibadah mahdah. Mereka berkecenderungan memisahkan antara kewajiban ibadah dengan kerja. Ibadah menurut mereka sebatas pada salat, zakat, puasa dan haji, tidak termasuk bekerja. Pemahaman seperti ini, kata promovendus, akan membentuk etos kerja umat Islam menjadi rendah dan keadaan jiwa yang pasrah pada takdir. Etos kerja umat Islam (dilihat dari etos kerja para wirausahawan) yang memahami ibadah dalam arti sempit ini berpengaruh negatif terhadap kultur kerja. Akibatnya perusahaan mereka juga sangat sulit untuk berkembang.
Sementara mereka yang memahami makna bahwa bekerja adalah suatu perjuangan untuk meraih ridha Allah SWT, akan tercermin juga pada etos kerja mereka yang bisa menyatukan makna ”manusia sebagai khalifah” di bumi yang harus berjuang untuk memakmurkan bumi dan seisinya, dengan makna ”manusia sebagai ’Abd” yang harus tunduk - patuh kepada pencipta-Nya melalui bekerja dan berfikir.
Umat Islam yang bisa memaknai ibadah dalam arti luas inilah yang ternyata juga memiliki etos kerja yang tinggi, mampu bekerja keras pantang menyerah, penuh tanggungjawab, giat belajar sehingga memiliki kecerdasan yang lebih, bisa melahirkan inovasi-inovasi baru, mampu mensinergikan antara daya pikir dan dzikir untuk mengekplorasi alam. Etos kerja yang berdasarkan keimanan dan pemahaman agama secara holistik proporsional ini pula yang ternyata bisa semakin memajukan perusahaan-perusahaan dimana mereka berkecimpung.
Paparan di atas bermakna bahwa al Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam hendaknya tidak hanya dilafalkan dan dimengerti maknanya, tetapi juga harus menjadi spirit dan sumber inspirasi ilmiah dalam mengeksplorasi bumi dan seisinya untuk meraih kemakmuran lahiriah dan kesejahteraan ruhaniah, demikian jelas promovendus. Oleh tim penguji Drs. Badaruddin, M. Ag., dinyatakan lulus dengan predikat ”Memuaskan” dan dirinya merupakan Doktor ke-221 yang telah berhasil diluluskan Program Pascasarjana UIN Sunan K
Sementara, realitas dalam perkembangan peradaban dunia menunjukkan bahwa masih banyak umat Islam di belahan dunia yang dianggap sebagai umat yang lemah dalam kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Padahal Islam juga memiliki falsafah hidup terkait dengan kerja yang bersumber dari al Qur’an, yakni : Bekerja bertujuan meraih ridha Allah SWT (inilah yang disebut etos kerja muslim). Berpijak pada realita tersebut, Badaruddin mengangkat permasalahan mengapa masih banyak umat Islam yang dalam realitas kehidupannya terlihat menyerah pada takdir (lepas dari upaya-upaya melakukan kerja keras dan berinovasi)? Permasalahan itu diangkat dalam disertasinya, dengan melakukan penelitian terhadap para wirausahawan muslim cor logam yang ada di wilayah kecamatan Batur, Kabupaten. Klaten. Hasil penelitian disertasi untuk memperoleh gelar Doktor Bidang Ilmu Agama Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga yang berjudul ”Etos Kerja Wirausahawan Muslim di Batur Klaten” dipresentasikan, Senin, 4 April kemarin di ruang promosi kampus setempat.
Hasil Penelitian putra kelahiran Wonogiri ini dipresentasikan di hadapan Promotor : Prof. Dr. H. Musya asy’arie da Prof. Dr. H. Djam’annuri, MA., serta tim penguji : Dr. Munrochim Misanam, M. Ec., Ph.D., Dr. Ahmad Janan Asifuddin, MA., Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, MA., Prof. Dr. H. Nasrudin Harahap, SU. Sidang promosi dipimpin Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah, dengan sekretaris Dr. H. Sukamto, MA.
Menurut promovendus, dari hasil penelitiannya dengan metode kualitatif dan pendekatan antropologi agama, terhadap 325 pengusaha cor logam di Batur yang mempekerjakan tidak kurang dari 3.187 pekerja, bisa digeneralisasikan bahwa masih banyak umat Islam yang memahami ibadah terbatas pada ibadah mahdah. Mereka berkecenderungan memisahkan antara kewajiban ibadah dengan kerja. Ibadah menurut mereka sebatas pada salat, zakat, puasa dan haji, tidak termasuk bekerja. Pemahaman seperti ini, kata promovendus, akan membentuk etos kerja umat Islam menjadi rendah dan keadaan jiwa yang pasrah pada takdir. Etos kerja umat Islam (dilihat dari etos kerja para wirausahawan) yang memahami ibadah dalam arti sempit ini berpengaruh negatif terhadap kultur kerja. Akibatnya perusahaan mereka juga sangat sulit untuk berkembang.
Sementara mereka yang memahami makna bahwa bekerja adalah suatu perjuangan untuk meraih ridha Allah SWT, akan tercermin juga pada etos kerja mereka yang bisa menyatukan makna ”manusia sebagai khalifah” di bumi yang harus berjuang untuk memakmurkan bumi dan seisinya, dengan makna ”manusia sebagai ’Abd” yang harus tunduk - patuh kepada pencipta-Nya melalui bekerja dan berfikir.
Umat Islam yang bisa memaknai ibadah dalam arti luas inilah yang ternyata juga memiliki etos kerja yang tinggi, mampu bekerja keras pantang menyerah, penuh tanggungjawab, giat belajar sehingga memiliki kecerdasan yang lebih, bisa melahirkan inovasi-inovasi baru, mampu mensinergikan antara daya pikir dan dzikir untuk mengekplorasi alam. Etos kerja yang berdasarkan keimanan dan pemahaman agama secara holistik proporsional ini pula yang ternyata bisa semakin memajukan perusahaan-perusahaan dimana mereka berkecimpung.
Paparan di atas bermakna bahwa al Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam hendaknya tidak hanya dilafalkan dan dimengerti maknanya, tetapi juga harus menjadi spirit dan sumber inspirasi ilmiah dalam mengeksplorasi bumi dan seisinya untuk meraih kemakmuran lahiriah dan kesejahteraan ruhaniah, demikian jelas promovendus. Oleh tim penguji Drs. Badaruddin, M. Ag., dinyatakan lulus dengan predikat ”Memuaskan” dan dirinya merupakan Doktor ke-221 yang telah berhasil diluluskan Program Pascasarjana UIN Sunan K
gender
hmad Badaowi, S.Ag., M.si. (40 tahun), mengatakan dewasa ini kaum feminis muslim giat melakukan perjuangan kesetaraan gender melalui rekonstruksi penafsiran al-Qur’an dan menumbuhkannya dalam konteks kekinian. Bagi feminis muslim, al-Qur’an sejak dini, sesungguhnya sudah mengapresiasi kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Namun pembacaan (penafsiran) yang dikembangkan oleh para mufassir konserfatif dinilai oleh para feminis muslim hanya dilakukan secara literal dan cenderung memperkuat peneguhan pemahaman yang bervisi patriarki. Dengan mengawinkan kajian hermeneutik al-Qur’an dan feminisme, para feminis muslim berhasil mengubah persepsi tentang perempuan yang sangat berbeda secara diametral dari pemahaman para mufasir konserfatif tentang perempuan. Amina Wadud dan Nasr Hamid Abu Zaid adalah salah satu pejuang feminis muslim yang melakukan penafsiran ulang al-Qur’an terkait tentang kesetaraan gender.
Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga saat mempresentasikan disertasinya untuk memperoleh gelar doktor dalam bidang Ilmu Agama Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Jumat,17 April 2009 di Ruang Promosi kampus setempat. Disertasi yang berjudul “Tafsir Feminis (Studi Pemikiran Amina Wadud dan Nasr Hamid Abu Zaid)” dipertahankan dihadapan promotor Prof. Dr. H. Khoiruddin Nasution, M.A. dan Dr. Phil H.M Nur Kholis Setiawan, M.A., dengan Tim Penguji: Dr. Siti Syamsiyatun, M.A., Prof. Dr. Hj. Chamamah Soeratno, Dr. Hamim Ilyas, M.A., Dr. Phil Sahiron Syamsuddin, M.A. Sidang promosi dipimpin oleh Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah dan Dr. H. Sukamta, M.A.
Menurut Ahmad Baidowi disertasinya ini bermaksud menguraikan gagasan Amina Wadud dan Nasr Hamid Abu Zaid dengan menggunakan pendekatan filosofis hermeneutis untuk mengungkap asumsi-asumsi filosofis mengenai penafsiran feminis. Dari analisis disertasinya, promovendus mengungkap bahwa kedua tokoh feminis muslim ini memahami tafsir bukan sebagai tindakan menjelaskan teks-teks al-Qur’an secara aktual sebagaimana yang lazim dilakukan para penafsir tradisional. Keduanya memahami penafsiran sebagai upaya mengaitkan teks al-Qur’an dengan problem realitas kontemporer dalam rangka menemukan solusi yang Qur’ani atas berbagai problem masyarakat saat ini, terutama yang sangat menyudutkan eksistensi wanita.
Dari pemahaman terhadap pemikiran Amina Wadud dan Nasr Hamid Abu Zaid, Ahmad Baidowi berpendapat bahwa untuk membangun pemahaman al-Qur’an yang berkeadilan gender hendaknya disepakati prinsip depatriarkalisasi (membuang pemahaman yang bersifat patriarkhis dan membangun penafsiran yang adil), prinsip pembebasan perempuan serta prinsip empati terhadap pengalaman perempuan. Dari prinsip ini kata Baidowi, pemikiran Amina Wadud dan Nasr Hamid Abu Zaid mengenai feminis, dalam batas tertentu memang relevan dengan gagasan penegakan hak asasi manusia dan sejalan dengan kritik terhadap ideologi patriarkhi. Namun gagasan baru kedua tokoh ini perlu juga dikritisi sehingga terbentuk pemikiran-pemikiran yang benar-benar adil antara eksistensi laki-laki dan perempuan. Karena animo Wadud dalam penafsirannya, diliputi kecurigaan berat yang menganggap penafsiran-penafsiran al-Qur’an yang bias gender dilakukan oleh mufasir laki-laki sehingga penafsiran yang dibangun pun bernuansa kelaki-lakian, menempatkan kaum laki-laki sebagai superior dan sebaliknya perempuan sebagai imperior. Laki-laki menjadi diri (the self), sedangkan perempuan menjadi liyan (the other). Untuk mengatasi penafsiran yang dinilai patriarki, Anima Wadud menawarkan gagasan perlunya suara perempuan untuk menafsirkan al-Qur’an. Pemikiran Anima Wadud ini, menurut promovendus dikelompokkan dalam pemikiran yang subyektif ideoligis. Sementara Nasr Hamid Abu Zaid justru mengkhawatirkan terjadinya talwin, bila dalam penafsiran nilai-nilai feminis dalam al-Qur’an menekankan perlunya melibatkan pengalaman perempuan. Karena bisa saja apa yang dianggap pengalaman perempuan tidak dipahami oleh laki-laki bahkan tidak bisa ditranfer ke dalam pemikiran laki-laki, sehingga laki-laki juga tidak mampu berempati terhadap apa yang dialami perempuan berupa ketidakadilan, penindasan, marginalisasi, dan sebagainya. Abu Zaid menegaskan , sesungguhnya problem perempuan bukanlah problem perempuan an sich, namun problem sosial kemanusian yang tidak bisa dipisahkan dari problem laki-laki juga. Pembebasan perempuan oleh karenanya tidak terpisahkan dari pembebasan laki-laki secara menyeluruh. Menurut promovendus pemikiran Abu Zaid seperti ini dikelompokkan ke dalam pemikiran kritis-obyektif. Terlepas dari perbedaan dan persamaan pemikiran kedua tokoh ini, kajian-kajiannya telah memunculkan madzhab baru dalam penafsiran al-Qur’an yang menjadi salah satu alternatif bagi perjuangan kesetaraan gender di kalangan umat Islam. Namun tentunya masih perlu ujian-ujian lebih lanjut mengenai penerapannya. Mengingat situasi dan kondisi masyarakat kontemporer yang sangat beragam dan memerlukan penafsiran-penafsiran yang komprehensif, sehingga benar-benar mengayomi rasa keadilan gender kedua belah pihak (laki-laki dan perempuan), jelas Baidowi.
Oleh Tim Penguji, Ayah 1 putra dari Istri Yuni Ma’rufaf, S. Ag, MA., ini dinyatakan lulus dengan predikat ‘cumlaude’ dan merupakan Dok
Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga saat mempresentasikan disertasinya untuk memperoleh gelar doktor dalam bidang Ilmu Agama Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Jumat,17 April 2009 di Ruang Promosi kampus setempat. Disertasi yang berjudul “Tafsir Feminis (Studi Pemikiran Amina Wadud dan Nasr Hamid Abu Zaid)” dipertahankan dihadapan promotor Prof. Dr. H. Khoiruddin Nasution, M.A. dan Dr. Phil H.M Nur Kholis Setiawan, M.A., dengan Tim Penguji: Dr. Siti Syamsiyatun, M.A., Prof. Dr. Hj. Chamamah Soeratno, Dr. Hamim Ilyas, M.A., Dr. Phil Sahiron Syamsuddin, M.A. Sidang promosi dipimpin oleh Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah dan Dr. H. Sukamta, M.A.
Menurut Ahmad Baidowi disertasinya ini bermaksud menguraikan gagasan Amina Wadud dan Nasr Hamid Abu Zaid dengan menggunakan pendekatan filosofis hermeneutis untuk mengungkap asumsi-asumsi filosofis mengenai penafsiran feminis. Dari analisis disertasinya, promovendus mengungkap bahwa kedua tokoh feminis muslim ini memahami tafsir bukan sebagai tindakan menjelaskan teks-teks al-Qur’an secara aktual sebagaimana yang lazim dilakukan para penafsir tradisional. Keduanya memahami penafsiran sebagai upaya mengaitkan teks al-Qur’an dengan problem realitas kontemporer dalam rangka menemukan solusi yang Qur’ani atas berbagai problem masyarakat saat ini, terutama yang sangat menyudutkan eksistensi wanita.
Dari pemahaman terhadap pemikiran Amina Wadud dan Nasr Hamid Abu Zaid, Ahmad Baidowi berpendapat bahwa untuk membangun pemahaman al-Qur’an yang berkeadilan gender hendaknya disepakati prinsip depatriarkalisasi (membuang pemahaman yang bersifat patriarkhis dan membangun penafsiran yang adil), prinsip pembebasan perempuan serta prinsip empati terhadap pengalaman perempuan. Dari prinsip ini kata Baidowi, pemikiran Amina Wadud dan Nasr Hamid Abu Zaid mengenai feminis, dalam batas tertentu memang relevan dengan gagasan penegakan hak asasi manusia dan sejalan dengan kritik terhadap ideologi patriarkhi. Namun gagasan baru kedua tokoh ini perlu juga dikritisi sehingga terbentuk pemikiran-pemikiran yang benar-benar adil antara eksistensi laki-laki dan perempuan. Karena animo Wadud dalam penafsirannya, diliputi kecurigaan berat yang menganggap penafsiran-penafsiran al-Qur’an yang bias gender dilakukan oleh mufasir laki-laki sehingga penafsiran yang dibangun pun bernuansa kelaki-lakian, menempatkan kaum laki-laki sebagai superior dan sebaliknya perempuan sebagai imperior. Laki-laki menjadi diri (the self), sedangkan perempuan menjadi liyan (the other). Untuk mengatasi penafsiran yang dinilai patriarki, Anima Wadud menawarkan gagasan perlunya suara perempuan untuk menafsirkan al-Qur’an. Pemikiran Anima Wadud ini, menurut promovendus dikelompokkan dalam pemikiran yang subyektif ideoligis. Sementara Nasr Hamid Abu Zaid justru mengkhawatirkan terjadinya talwin, bila dalam penafsiran nilai-nilai feminis dalam al-Qur’an menekankan perlunya melibatkan pengalaman perempuan. Karena bisa saja apa yang dianggap pengalaman perempuan tidak dipahami oleh laki-laki bahkan tidak bisa ditranfer ke dalam pemikiran laki-laki, sehingga laki-laki juga tidak mampu berempati terhadap apa yang dialami perempuan berupa ketidakadilan, penindasan, marginalisasi, dan sebagainya. Abu Zaid menegaskan , sesungguhnya problem perempuan bukanlah problem perempuan an sich, namun problem sosial kemanusian yang tidak bisa dipisahkan dari problem laki-laki juga. Pembebasan perempuan oleh karenanya tidak terpisahkan dari pembebasan laki-laki secara menyeluruh. Menurut promovendus pemikiran Abu Zaid seperti ini dikelompokkan ke dalam pemikiran kritis-obyektif. Terlepas dari perbedaan dan persamaan pemikiran kedua tokoh ini, kajian-kajiannya telah memunculkan madzhab baru dalam penafsiran al-Qur’an yang menjadi salah satu alternatif bagi perjuangan kesetaraan gender di kalangan umat Islam. Namun tentunya masih perlu ujian-ujian lebih lanjut mengenai penerapannya. Mengingat situasi dan kondisi masyarakat kontemporer yang sangat beragam dan memerlukan penafsiran-penafsiran yang komprehensif, sehingga benar-benar mengayomi rasa keadilan gender kedua belah pihak (laki-laki dan perempuan), jelas Baidowi.
Oleh Tim Penguji, Ayah 1 putra dari Istri Yuni Ma’rufaf, S. Ag, MA., ini dinyatakan lulus dengan predikat ‘cumlaude’ dan merupakan Dok
sufi qodiri
Ainul Gani, S. Ag., SH., M. Ag. (36 tahun) mengatakan, ajaran tasawuf Syaikh ’Abd. al-Qadir al-Jailani sampai saat ini masih berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Selain masih diajarkan dan dikembangkan di Pondok-pondok Pesantren (Ponpes Suryalaya di Tasikmalaya, Ponpes Mranggen di Semarang, Ponpes Rejoso dan Ponpes Tebu Ireng di Jombang, Ponpes Pagentongan di Bogor), banyak juga masyarakat menjadikan ajaran tasawuf al-Jailani sebagai tradisi keagamaan. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya kelompok kelompok tarekat Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah, kelompok-kelompok tausiyah, kelompok-kelompok khataman, dzikir bersama dan sebagainya. Dalam moment-moment tertentu pemerintah juga sering menggandeng para ulama dan masyarakat untuk mengadakan dzikir bersama atau istighasah berjamaah yang bertujuan untuk menyelamatkan bangsa dan negara dari krisis dan bencana.
Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Intan Bandar Lampung ini menyampaikan saat mempertahankan disertasinya untuk untuk memperoleh gelar Doktor bidang Ilmu Agama Program Pascasarjana UIN Sunan kalijaga, di ruang Promosi Doktor kampus setempat, Jum’at, 1 Mei 2009. Disertasinya yang berjudul ”Ajaran Tasawuf Syaikh ”Abd. al-Qadir al-Jailani (470-561 H/1077-1166 M)” dipresentasikan di hadapan Promotor Prof. Dr. H. Djam’annuri, MA., dan Dr. Syaifan Nur, MA., serta Tim Penguji antara lain : Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, Prof. Dr. H. Djoko Suryo, Dra. Syafa’atun al-Mirzanah, MA., Ph.D., Dr. Sekar Ayu Aryani, MA. Sidang Promosi dipimpin Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah, dengan sekretaris Dr. H. Sukamto, MA. Menurut Gani, dari penelitian disertasinya melalui studi kepustakaan (Library Risearch) yang mengambil teknik analisa isi (Content analaysis), menunjukkan bahwa praktek-praktek tarekat yang bersifat massif, diikuti secara berjamaah dan terstruktur/terorganisasi dengan baik, ternyata sesuai dengan ajaran al-Jailani. Karena sebelum al-Jailani, spiritualitas Islam masih bersifat individual dan belum terstruktur.
Menurut promovendus, secara historis, di kalangan kaum sufi, Syaikh ’Abd. Al-Qadir al-Jailani memang diakui sebagai sosok yang menempati hirarki mistik tertinggi (al-Ghawts al-A’zham) yang menduduki tingkap kewalian tertinggi. Karena masuknya Islam di Indonesia ditengarai disebarkan oleh para sufi yang berfaham tasawuf Syaikh ’Abd. Al-Qadir al-Jailani yakni tarekat Qadiriyyah. Al-Jailani juga dianggap memiliki garis keturunan yang dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Kata Gani, hakekat tasawuf yang diajarkan al-Jailani berpuncak pada ajaran ma’rifatullah. Untuk menuju pada tataran ma’rifatullah setiap orang harus berupaya menjadi ahli ibadah, ahli dzikir, ahli riadlah, ahli mujahadah. Sementara prosesnya melalui fase-fase magamat dan ahwal, taubat, zuhud, tawakal, syukur, ridha, shidiq, wara dan istiqamah. Sementara itu, terdapat empat dimensi dalam ma’rifatullah versi al-Jailani yakni: Memperteguh keimanan (tauhid), melaksanakan syari’at Islam dengan baik, melaksanakan thareqat dengan lurus dan bersih, serta selalu mengkaji hakekat dari setiap pelaksanaan syari’at Islam. Corak ajaran tasawuf al-Jailani bertumpu pada aliran Ghazalian (sunni), dilihat dari konsep spiritualitas yang berpuncak pada tataran ma’rifatullah, yakni pendekatan diri kepada Allah SWT, tanpa harus merasa menjadi satu dengan-Nya/tanpa diikuti penyatuan dengan-Nya, tetapi selalu melakukan upaya-upaya yang memadukan ilmu dan amal.
Mengapa ajaran al-jailani diminati dan masih sangat berpengaruh di kalangan masyarakat modern? Menurut putra kelahiran Lampung ini, di satu sisi ajaran tasawuf al-Jailani yang berfaham fatalisme seperti taubat, zuhud, tawakal, syukur, ridha, shidiq, wara, dan istiqamah bisa menjadi obat bagi masyarakat yang mengalami kegersangan batin akibat kesenangan hedonisme yang tanpa batas. Di sisi lain, al-Jailani mengembangkan ajaran neo-sufisme yang mempertautkan antara syari’ah dengan tasawuf dan memberi kemudahan kepada masyarakat dalam menyelaminya. Al-Jailani juga memberi ruang gerak bagi individu dan masyarakat untuk senantiasa aktif, kreatif, selalu melakukan andil usaha, melakukan perbuatan-perbuatan produktif-dinamis untuk kepentingan duniawi dan tanggungjawab sosial.
Minat dan pengaruh ajaran tasawuf Syaikh Abd. Al-Qadir al-Jailani ini menunjukkan perkembangan yang cukup meningkat, bila dilihat dari banyaknya penyebaran karya-karya tertemahan al-Jailani dari para penerbit di negeri ini yang selalu best seller dan mengalami cetak ulang. Disamping itu semakin banyak kelompok-kelompok masyarakat yang mengembangkan langkah-langkah ajarannya dengan membentuk gerakan organisasi dzikir (tarekat) secara sistematis dan komprehensif. Malihat fenomena ini, promovendus berharap, hendaknya ajaran al-Jailani tidak mengalami pemaknaan yang sempit dalam fungsinya. Maksud Gani, memahami kitab-kitab asli Syaikh ’Abd. Al-Qadir al-Jailani berarti memahami ajaran tasawufnya dan mengambil suri tauladan sosok al-Jailani, kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bukan menjadikannya hanya sebagai alat rutinitas ritual keagamaan dengan segala implikasinya seperti pemujaan wali dan pengkultusan individu, yang justru akan membatasi kerinduan kita kepada Rusulullah dan Sang Khaliq, Jelas Gani.
Oleh Tim Penguji, promovendus dinyatakan lulus dengan predikat ‘sangat memuaskan’ dan merupakan Doktor Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga ke-220
Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Intan Bandar Lampung ini menyampaikan saat mempertahankan disertasinya untuk untuk memperoleh gelar Doktor bidang Ilmu Agama Program Pascasarjana UIN Sunan kalijaga, di ruang Promosi Doktor kampus setempat, Jum’at, 1 Mei 2009. Disertasinya yang berjudul ”Ajaran Tasawuf Syaikh ”Abd. al-Qadir al-Jailani (470-561 H/1077-1166 M)” dipresentasikan di hadapan Promotor Prof. Dr. H. Djam’annuri, MA., dan Dr. Syaifan Nur, MA., serta Tim Penguji antara lain : Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, Prof. Dr. H. Djoko Suryo, Dra. Syafa’atun al-Mirzanah, MA., Ph.D., Dr. Sekar Ayu Aryani, MA. Sidang Promosi dipimpin Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah, dengan sekretaris Dr. H. Sukamto, MA. Menurut Gani, dari penelitian disertasinya melalui studi kepustakaan (Library Risearch) yang mengambil teknik analisa isi (Content analaysis), menunjukkan bahwa praktek-praktek tarekat yang bersifat massif, diikuti secara berjamaah dan terstruktur/terorganisasi dengan baik, ternyata sesuai dengan ajaran al-Jailani. Karena sebelum al-Jailani, spiritualitas Islam masih bersifat individual dan belum terstruktur.
Menurut promovendus, secara historis, di kalangan kaum sufi, Syaikh ’Abd. Al-Qadir al-Jailani memang diakui sebagai sosok yang menempati hirarki mistik tertinggi (al-Ghawts al-A’zham) yang menduduki tingkap kewalian tertinggi. Karena masuknya Islam di Indonesia ditengarai disebarkan oleh para sufi yang berfaham tasawuf Syaikh ’Abd. Al-Qadir al-Jailani yakni tarekat Qadiriyyah. Al-Jailani juga dianggap memiliki garis keturunan yang dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Kata Gani, hakekat tasawuf yang diajarkan al-Jailani berpuncak pada ajaran ma’rifatullah. Untuk menuju pada tataran ma’rifatullah setiap orang harus berupaya menjadi ahli ibadah, ahli dzikir, ahli riadlah, ahli mujahadah. Sementara prosesnya melalui fase-fase magamat dan ahwal, taubat, zuhud, tawakal, syukur, ridha, shidiq, wara dan istiqamah. Sementara itu, terdapat empat dimensi dalam ma’rifatullah versi al-Jailani yakni: Memperteguh keimanan (tauhid), melaksanakan syari’at Islam dengan baik, melaksanakan thareqat dengan lurus dan bersih, serta selalu mengkaji hakekat dari setiap pelaksanaan syari’at Islam. Corak ajaran tasawuf al-Jailani bertumpu pada aliran Ghazalian (sunni), dilihat dari konsep spiritualitas yang berpuncak pada tataran ma’rifatullah, yakni pendekatan diri kepada Allah SWT, tanpa harus merasa menjadi satu dengan-Nya/tanpa diikuti penyatuan dengan-Nya, tetapi selalu melakukan upaya-upaya yang memadukan ilmu dan amal.
Mengapa ajaran al-jailani diminati dan masih sangat berpengaruh di kalangan masyarakat modern? Menurut putra kelahiran Lampung ini, di satu sisi ajaran tasawuf al-Jailani yang berfaham fatalisme seperti taubat, zuhud, tawakal, syukur, ridha, shidiq, wara, dan istiqamah bisa menjadi obat bagi masyarakat yang mengalami kegersangan batin akibat kesenangan hedonisme yang tanpa batas. Di sisi lain, al-Jailani mengembangkan ajaran neo-sufisme yang mempertautkan antara syari’ah dengan tasawuf dan memberi kemudahan kepada masyarakat dalam menyelaminya. Al-Jailani juga memberi ruang gerak bagi individu dan masyarakat untuk senantiasa aktif, kreatif, selalu melakukan andil usaha, melakukan perbuatan-perbuatan produktif-dinamis untuk kepentingan duniawi dan tanggungjawab sosial.
Minat dan pengaruh ajaran tasawuf Syaikh Abd. Al-Qadir al-Jailani ini menunjukkan perkembangan yang cukup meningkat, bila dilihat dari banyaknya penyebaran karya-karya tertemahan al-Jailani dari para penerbit di negeri ini yang selalu best seller dan mengalami cetak ulang. Disamping itu semakin banyak kelompok-kelompok masyarakat yang mengembangkan langkah-langkah ajarannya dengan membentuk gerakan organisasi dzikir (tarekat) secara sistematis dan komprehensif. Malihat fenomena ini, promovendus berharap, hendaknya ajaran al-Jailani tidak mengalami pemaknaan yang sempit dalam fungsinya. Maksud Gani, memahami kitab-kitab asli Syaikh ’Abd. Al-Qadir al-Jailani berarti memahami ajaran tasawufnya dan mengambil suri tauladan sosok al-Jailani, kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bukan menjadikannya hanya sebagai alat rutinitas ritual keagamaan dengan segala implikasinya seperti pemujaan wali dan pengkultusan individu, yang justru akan membatasi kerinduan kita kepada Rusulullah dan Sang Khaliq, Jelas Gani.
Oleh Tim Penguji, promovendus dinyatakan lulus dengan predikat ‘sangat memuaskan’ dan merupakan Doktor Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga ke-220
Sabtu, 28 Maret 2009
KH achmad sidiq 2
KH. Achmad Shiddiq yang nama kecilnya Achmad Muhammad Hasan, lahir di Jember pada hari Ahad Legi 10 Rajab 1344 (tanggal 24 Januari 1926). Beliau adalah putra bungsu Kyai Shiddiq dari lbu Nyai H. Zaqiah (Nyai Maryam) binti KH. Yusuf
Achmad ditinggal abahnya dalam usia � 8 tahun. Dan sebelumnya pada usia � 4 tahun, Achmad sudah ditinggal ibu kandungnya yang wafat ditengah perjalanan di laut, ketika pulang dari menunaikan ibadah haji. Jadi, sejak usia anak-anak, Kyai Achmad sudah yatim piatu. Karena itu, Kyai Mahfudz Shiddiq kebagian tugas mengasuh Achmad, sedangkan Kyai Halim Shiddiq mengasuh Abdullah yang masih berumur � 10 tahun. Ada yang menduga, bahwa bila Achmad terkesan banyak mewarisi sifat dan gaya berfikir kakaknya (Kyai Mahfudz Shiddiq). Kyai Achmad memiliki watak sabar, tenang dan sangat cerdas. Wawasan berfilkirmya amat luas baik dalam ilmu agama maupun pengetahuan umum.
Kyai Achmad belajar mengajinya mula-mula kepada Abahnya sendiri, Kyai Shiddiq. Kyai Shiddiq sebagaimana uraian-uraian sebelumnya, dalam mendidik terkenal sangat ketat (strength) terutama dalam hal sholat. Beliau wajibkan semua putra-putranya sholat berjama'ah 5 waktu. Selain mengaji pada abahnya, Kyai Achmad juga banyak menimba ilmu dari Kyai Machfudz, banyak kitab kuning yang diajarkan oleh kakaknya,
Sebagaimana lazimnya putra kyai, lebih suka bila anaknya dikirim untuk ngaji pada kyai-kyai lain yang masyhur kemampuannya. Kyai Mahfudzpun mengirim Kyai Achmad menimba i1mu. di Tebuireng. Semasa di Tebuireng, Kyai Hasyim melihat potensi kecerdasan pada Achmad, sehingga, kamarnya pun dikhususkan oleh Kyai Hasyim. Achmad dan beberapa putra-putra kyai dikumpulkan dalam satu. kamar. Pertimbangan tersebut bisa dimaklumi, karena para putra kyai (dipanggil Gus atau lora atau Non) adalah putra mahkota yang akan meneruskan pengabdian ayahnya di pesantren, sehingga pengawasan, pengajaran dan pembinaannyapun cenderung dilakukan secara, khusus/lain dari santri urnumnya.
Pribadinya yang tenang itu. menjadikan Kyai Achmad disegani ol eh teman-temannya. Gaya bicaranya yang khas dan memikat sehingga dalam setiap khitobah, banyak santri yang mengaguminya. Selain itu, Kyai Achmad juga seorang kutu buku/ kutu kitab (senang baca). Di pondok Tebuireng itu pula, Kyai Achmad berkawan dengan Kyai Muchith Muzadi. Yang kemudian hari menjadi mitra diskusinva dalam merumuskan konsep-konsep strategis, khususnya menyangkut ke-NU-an, seperti buku Khittah Nandliyah, Fikroh Nandliyah, dan sebagainya.
Kecerdasan dan kepiaNvaiannya berpidato, menjadikan Kyai Achmad sangat dekat hubungannya dengan Kyai Wahid Hasyim.
Kyai Wahid telah membinbing Kyai Achmad dalam Madrasah Nidzomiyah. Perhatian Gus Wahid pada. Achmad sangat besar. Gus Wahid juga mengajar ketrampilan mengetik dan membimbing pembuatan konsep-konsep.
Bahkan ketika Kyai Wahid Hasyim memegang jabatan ketua. MIAI, ketua NU dan Menteri Agama, Kyai Achmad juga yang dipercaya sebagai sekretaris pribadinya. Bagi Kyai Achmad Shiddiq, tidak hanya ilmu KH. Hasyim Asy'ari yang diterima, tetapi juga ilmu dan bimbingan Kyai Wachid Hasyim direnung�kannya secara mendalam. Suatu pengalaman yang sangat langka, bagi seorang santri.
B. KETOKOHAN KYAI AHMAD
Ketokohan Kyai Achmad terbaca masyarakat sejak menyelesaikan belajar di pondok di Tebuireng, Kyai Achmad Shiddiq muda mulai aktiv di GPII (Gabungan Pemuda Islam Indonesia) Jember. Karirnya di GPII melejit sampai di kepengurusan tingkat Jawa Timur, dan pada Pemilu 1955, Kyai Achmad terpilih sebagai anggota DPR Daerah sementara di Jember.
Perjuangan Kyai Achmad dalam mempertahankan kemerde�kaan '45 dimulai dengan jabatannya sebagai Badan Executive Pemerintah Jember, bersama A Latif Pane (PNI), P. Siahaan. (PBI) dan Nazarudin Lathif (Masyumi). Pada saat itu, bupati dijabat oleh "Soedarman, Patihnya R Soenarto dan Noto Hadinegoro sebagai sekretaris Bupati.
Selain itu, Kyai Achmad juga berjuang di pasukan Mujahidin (PPPR) pada tahun 1947. Saat itu Belanda. melakukan Agresi Militer yang pertama. Belanda merasa kesulitan membasmi PPPR, karena anggotanya adalah para Kyai. Agresi tersebut kemudian menimbulkan kecaman internasional terhadap Belanda sehingga muncullah Perundingan Renville. Renville memutuskan sebagai berikut:
1. Mengakui daerah-daerah berdasar perjanjian Linggarjati
2. Ditambah daerah-daerah yang diduduki Belanda lewatAgresi harus diakui Indonesia.
Sebagai konsekwensinya perjanjian Renville, maka pejuang�-pejuang di daerah kantong (termasuk Jember) harus hijrah. Para pejuang dari Jember kebanyakan mengungsi ke Tulung Agung. Di sanalah Kyai Achmad mempersiapkan pelarian bagi para pejuang yang mengungsi tersebut.
Pengabdiannya di pemerintahan dimulai sebagai kepala KUA (Kantor Urusan Agama) di Situbondo. Saat itu di departemen Agama dikuasai oleh tokoh-tokoh NU. Menteri Agama adalah KH. Wahid Hasyim (NU). Dan karirnya di pemerintahan melonjak cepat. Dalam waktu singkat, Kyai Achmad Shiddiq menjabat sebagai kepala, kantor Wilayah Departemen Agama di Jawa Timur.
Di NU sendiri, karir Kyai Achmad bermula di Jember. Tak berapa lama, Kyai Achmad sudah aktiv di kepengurusan tingkat wilayah Jawa Timur, sehingga di NU saat itu ada 2 bani Shiddiq yaitu: Kyai Achmad dan Kyai Abdullah (kakaknya). Bahkan pada Konferensi NU wilayah berikutnya, pasangan kakak beradik tersebut dikesankan saling bersaaing dan selanjutnya Kyai Achmad Shiddiq muncul sebagai ketua wilayah NU Jawa Timur
Tetapi Kyai Achmad merasa tidak puas dengan kiprahnya selama ini. Panggilan suci untuk mengasuh pesantren (tinggalan Kyai Shiddiq) menuntut kedua Shiddiq tersebut mengadakan komitmen bersama. Keputusannya adalah Kyai Abdullah Shiddiq lebih menekuni pengabdian di NU Jawa Timur, sedangkan Kyai Achmad Shiddiq mengasuh pondok pesantrennya,
Kyai Achmad Shiddiq termasuk ulama yang berpandangan moderat dan unik sebagai tokoh NU dan kyai, ia tidak hanya alim tetapi juga memiliki apresiasi seni yang mengagumkan. Beliau tidak hanya menyukai suara Ummi Kultsum, bahkan juga suka suara musik Rock seperti dilantunkan Michael Jackson. "Manusia itu memiliki rasa keindahan, dan seni sebagai salah-satu jenis kegiatan manusia tidak dapat dilepaskan dari pengaturan dan penilaian agama (Islam). Oleh karena itu, apresiasi seni hendaknya ditingkatkan mutunya. "Apresiasi seni itu harus diutamakan mutu dari seni yang hanya mengandung keindahan menuju seni yang mengandung kesempurnaan, lalu menuju seni yang mengandung keagungan.Selanjutnya Kyai Achmad memberikan penjelasan sebagai berikut, Seni itu sebaiknya :
1 . Ada seni yang diutamakan seperti sastra dan kaligrafi.
2. Ada seni yang dianjurkan seperti irama lagu dan seni suara.
3. Ada seni yang dibatasi seperti seni tari.
4. Ada seni yang dihindari seperti pemahatan patung dan seni yang merangsang nafsu
Dalam memberikan nama untuk anak-anak-nya, Kyai Achmad senantiasa mengkaitkan calon nama yang bernuansa seni dengan pengabdian atau peristiwa-penstiwa penting. Seperti kelahiran putranya yang lahir bersamaan dengan karimya sebagai anggota DPR Gotong-Royong, yaitu Mohammad Balya Firjaun Barlaman, demikian juga Ken Ismi Asiati Afrik Rozana, lahir bertepatan dengan konferensi Asia Afrika.
Kyai Achmad menikah dengan Nyai H. Sholihah binti Kyai Mujib pada tanggal 23 Juni 1947, dan dikaruniai 5 orang anak, yaitu:
1. KH. Mohammad Farid Wajdi (Jember)
2. Drs. H. Mohammad Rafiq Azmi (Jember)
3. Hj. Fatati Nuriana (istri Mohammad Jufri Pegawai PEMDA Jember).
4. Mohammad Anis Fuaidi (wafat kecil), clan
5. KH. Farich Fauzi (pengasuh pondok pesantren Al-Ishlah Kediri).
Nyai Sholihah tidak berumur panjang, Allah memanggilnya ketika putra-putrinya masih kecil. Sehingga keempat anaknya itu di asuh oleh Nyai Hj. Nihayah (adik kandung ketiga Nyai Sholihah). Melihat eratnya hubungan anak-anak dengan bibinya, maka Nyai Zulaikho (kakaknya) kemudian mendesak Kyai Achmad agar melamar Nihayah. Dan Kyai Mujib pun menerima lamaran tersebut. Pernikahan Kyai Achmad Shiddiq dengan Nyai Hj. Nihayah binti KH. Mujib (Tulung Agung) memnpunyai 8 orang putra, yaitu:
1. Asni Furaidah (isteri Zainal Arifin, SE.)
2. Drs. H. Moh. Robith Hasymi (Jember).
3. Ir. H. Mohammad Syakib Sidqi (Dosen di Sumatra Barat)
4. H. Mohammad Hisyarn Rifqi (suami Tahta Alfina Pagelaran, Kediri).
5. Ken Ismi Asiati Afrik Rozana, BA (istri Drs. Nurfaqih, guru SMA Jember).
6. Dra. Nida, Dusturia (istri Tijani Robert Syaifun Nuwas bin Kyai Hamim Jazuli).
7. H. Mohammad Balya Firjaun Barlaman (pengasuh PP. Al Falah Ploso Kediri).
8. Mohammad Muslim Mahdi (wafat kecil)
Aktivitas pengajian Kyai Achmad mendapatkan sambutan hangat di masyarakat. Pesan-pesan agama disampaikannya dengan bahasa dan logika yang sederhana sehingga mudah dicerna. semua kalangan. Pengajian-pengajiannya dikemas secara khusus, seperti yang peruntukkan untuk masyarakat umum (kalangan awam) pada setiap malam senin sudah dirintisnya sejak tahun 1970-an dan tetap berlangsung hingga sekarang, Pengajian setiap malam Selasa, yang diperuntukkan bagi kalangan intelektual, sarjana, dosen dan tokoh-tokoh masyarakat membahas secara, kontemporer dan apresiatif kitab Ihya� Ulumiddin karangan Imam Ghozali.
Pengajian-pengajian Kyai Achmad banyak bernuansa Tasawwuf. Ada 3 unsur utarna dari tasawwuf yang dapat menuntun seseorang untuk bertasawwuf dari tingkat rendah menuju peningkatan diri secara bertahap, yaitu:
1. Al Istiqomah: yang berarti; tekun, telaten, terus-menerus tidak bosan-bosan mengamalkan apa saja yang dapat diamalkan Mungkin baca Yasin tiap malam Jum'at, mungkin baca Istighfar sekian kali dalam setiap malam, dan sebagainya.
2. Az Zuhd: yang berarti terlepas dari ketergantungan hati /batin dengan harta benda kekuasaan, kesenangan, dan sebagainya, yang ada, di tangannya sendiri, apalagi yang ada di tangan orang lain. Tidak tergantung berbeda dengan tidak memiliki, berbeda, dengan tidak punya. Seorang "Zahid" bisa saja kaya, tetapi hatinya tidak tergantung pada kekayaannya. Barang siapa yang tidak berputus asa karena sesuatu yang terlepas dari tangannya dan tidak bergembira, (melewati batas) dengan sesuatu yang diterimanya dari Allah maka dia sudah mendapatkan zuhud pada, kedua belah ujungnya.
3. Al Faqir: artinya, selalu menyadari kebutuhan diri kepada Al�lah. Kesadaran yang mendalam dan terus-menerus, tentang "dirinya membutuhkan Allah" tidak selalu ada pada setiap or�ang. Pada suatu saat kesadarannya, akan tinggi tetapi saat lain kesadarannya menurun.
C. DZIKRUL GHOFILIN
Pengajian malam Senin tersebut itu dinamakan "Majlis Dzikrul Ghofilin" yang artinya, majlis dzikirnya orang-orang lupa. Maksudnya orang-orang yang lupa adalah sifat relatif pada manusia yang selalu lupa. (agar selalu ingat Allah) sehingga perlu selalu diingatkan melalui Dzikir tersebut. Pada acara-acara tersebut, selain mengamalkan sholat tasbih, dzikir, Kyai Achmad biasanya mendahului menyampaikan ceramah agamanya.
Majlis Dzikrul Ghafilin yang dirintis pada awal tahun 1970-an tersebut 20 tahun berikutnya telah dilkuti oleh sekitar 20.000 orang Jamaah yang tersebar diseluruh Jawa, dan selanjutnya Jamaah pada setiap daerah mengembangkannya lebih lanjut dikawasan masing-masing.Secara historis, pada tahun 1973 Kyai Achmad mendapat ijazah dari Kyai Hamid untuk membaca Fatihah 100 kali setiap hari. Selanjutnya. Kyai Achmad mengadakan riyadlah di PPI. Ashtra beberapa tahun, baru setelah itu bacaan fatihah 100 kali dipadukan dengan bacaan lain untuk diwiridkan bersama-sama. Kemudian cara mernbacanya bisa dibagi dan dicicil dengan ketentuan: Subuh 30 kali, Dhuhur 25 kali, Ashar 20 kali, Maghrib 15 kali dan Isya' 10 kali. Dzikrul Ghafilin paling afdhal jika dibaca setelah sholat dan dibaca dengan hati yang talus ikhlas. Ada ceritera menarik antara Kyai Achmad dan Kyai Hamid: "Setiap memasuki tapal batas Pasuruan, Kyai Achmad selalu mengucapkan salam kepada Kyai Harnid. Ketika bertemu, Kyai Hamid menyatakan bahwa beliau selalu menjawab salam Kyai Achmad".
Dzikrul Ghafilin yang namanya diambil dari Al-Qur'an surat Al-A�raf 172 dan 265 menurut Kyai Achmad adalah wirid biasa, bukan wirid. thariqat. Jika tariiqat dengan bai'at, kalau tidak menegakkan pasti dosa, sedang dzikrul ghafilin adalah dengan ijazah. Pengamalannya tanpa menimbulkan efek camping dan isi bacaannya terdiri dari Al-Fatihah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Istighfar, Sholawat dan tahlil
Ada 3 orang Kyai yang ikut meramu bacaan-bacaan dalam dzikrul ghafilin, yaitu: KH. Abdul Hamid bin Abdullah (Pasuruan), KH. Achmad Shiddiq (Jember) dan KH. Hamim Jazuli (Gus Mik, Kediri). Bahkan menurut Gus Mik, ada tiga tokoh lagi yang ikut andil dalam wirid dzikrul ghafilin, yaitu Mbah Kyai Dalhar (Gunung Pring Muntilan Magelang), Mbah Kyai Mundzir (Banjar Kidul Kediri), dan Mbah Kyai Hamid (Banjar Agung Magellang).
Tawashul bil Fatihah, dalam kitab dzikrul ghafilin ditujukan kepada:
1 . Rasulullah Muhammad Saw.
2. Malaikat Jibril, Mikail, Isrofil, Izroil, Penjaga Arsy, dan Malaikat Muqorrobin.
3. Nabi-nabi dan Rasul-rasul
4. Ulul Azmi (Nabi Nuh As, Nabi lbrohim As, Nabi Musa As, Nabi Isa dan Nabi Muhammad saw)
5. Istri-istri Nabi (Siti Aisyah, Siti Hafsoh. Siti Sa'udah, Siti Shofiayh, Siti Maimunah, Siti Roulah, Siti Hindun, Siti Zainab, dan Siti Zuwairiyah)
6. Putra-putri Nabi (Qosyim, Abdullah, Ibrohim, Fatimah, Zainab, Ruqoyyah dan Ummi Kultsum).
7. Keturunan (Dzurriyah) Nabi saw.
8. KeluargaNabi saw.
9. Shahabat Nabi saw, khususnya Ahli Badar (yang wafat saat perang Badar, dari Muhajirin dan Anchor)
10. Pengikut Nabi saw yaitu para Syuhada', 'ulama, 'auliya', sholihin, mushonniffin, muallifin, Mbah-mbah, orang tua (bapak dan ibu) dan orang-orang yang benar.
11. Nabi Khodliri Abi Abbas Balya bin Malkan As.
12. Sultonil' Auhya' Awwal yaitu:
a. Abi Muhammad Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Tholib
b. Sayyidina Husein ra.
c. Sayyidina Ali bin Abi Tholib ra.
d. Sayyidatina. Fatimah Az-Zahro ra,
13. Sayyid Syech Muhyiddin Abu Muhammad (Sultonil' Auliya� Syech Abdul Qodir Al-Jilani ra) bin Abi Sholih Musa jangkadusat
14. Sayyid Syech Ali Muhammad Bahauddin Naqsabandi ra.
15. Sayyid Syech Abu Hamid Muhammad Al-Ghozali ra.
16. Sayyid Syech Achmad Ghozali (adik Imam Ghozali)
17. Sayyid Syech Abi Bakar As-Syibbli ra.
18. Sayyid Syech Qutub Ghowtsi Habib Abdillah bin Alwi Haddad ra.
19. Sayyid Syech Abi Yazid Toymuri bin lsa Bustomi ra.
20. Sayyid Syech Muhammad Hanafi.
21. Sayyid Syech Yusuf bin Ismail A-Nabhani ra.
22. Sayyid Syech Jalaluddin As-Suyuti ra.
23. Sayyid Syech Abu Zakariya Yahya bin Sarafinnawawi ra.
24. Sayyid Syech Abdul Wahhab As-Syaroni ra.
25. Sayyad Syech Ali Nuruddin Asy-Syowni ra.
26. Sayyid Syech Abi Abbas Achmad bin Ali Al-Buni ra.
27. Sayyid Svech Ibrohim bin Adhama ra.
28. Sayyid Syech Ibrohim. Ad-Dasuqi ra.
29. Sayyid Syech Abu Abbas Syihabuddin Achmad bin Umar Anshori Al-Anshori Al-Mursiy
30. Sayyid Syech Sa'id Abdul Karim Al-Bushiri.
31. Sayyid Syech Abu Hasan Al-Bakri.
32. Sayyid Syech Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bucho�ri.
33. Sayyid Syech Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani.
34. Sayyid Syech Tajuddin bin Athoillah Al-Askandari ra.
35. Mazhab Ernpat, Khususnya:
a Sayyid Syech Imam Muhammad bin Idris As-Syafi�i
b. Sayyid Syech Abu Hafsin Umar As-Suhrawardi
c. Sayyid Syech Abi Madyan
d- Sayyid Syech Ibnu Maliki Al-Andalusi
e. Sayyid Syech Abu Abdulloh Muhammad bin SulaimanAl� Jazuli
f Sayyid Syech Muhyiddin bin Al-Arabi
g. Sayyid Syech Imon bin Husayni ra.
36. Al Qutub Al Kabir Sayyid Syech Abdussalam 1bnu Masyisyi
37. Sayyid Syech Abu Hasani. Ali bin Abdillah bin Abdul Jabbar As-Syadzi1i
38. Sayyid Syech Abi Mahfudz Ma'ruf Al-Karkhiy
39. Sayyid Syech Abi Hasani Sari As-Saqofi
40. Sayyid Syech Abu Qosim Al-Imam Junaidi Al-Baghdadi
41. Sayyid Syech Abu `Abbas Ahmad Badawi
42. Sayyid Syech Abu Husain Rifa'i
43. Sayyid Syech Abu Abdillah Nu' man
44. Sayyid Syech Imam Hasani bin Abu Hasani Abi Sa'id Bashri
45. Sayyidati Robi'ah Al-Adawiyah ra.
46. Sayyidati Ubaidah binti Abi Kilab ra
47. Sayyid Syech Abu Sulaiman Ad-Daroni ra
48. Sayyid Syech Abu Abdillah Al-Harits bin Asadi Al-Muhasibi ra.
49. Sayyid Syech Abi Faydl dzinnun Al-Misry ra,
50. Sayyid Syech Abi Zakariyya. Yahya bin Mu'adz Ar-Rozy ra
51. Sayyid Syech Abi Sholih Hamdun an-Naisabur.
52. Sayyid Syech Husaini bin Mansur Al-Hallaj ra.
53. Sayyid Syech Jalaluddin Ar-Rumy ra.
54. Sayyid Syech Abi Hafsin Syarafiddin Umar bin Farid Al- Hamawiy Al-Mirsi ra.
55. Ikhwan Dzikrul Ghafilin
56. Orang yang hidup dan mati baik itu:
a. Orang-orang shalihin
b. Auliya Rijalillah
c. Orang-orang yang Arif
d. Ulama Amilin
e. Para Auliya Jawa dan Madura khususnya Wali Songo
f. Kaum Sufi Muhaqiqin
Tentang "Tawassul", Kyai Achmad memberikan penjelasan bahwa do' a tawashul ada dua macam:
1. Doa yang harus "dikatrol", yaitu. Yaitu orang yang tidak faham dan tidak maqbul do' anya akan dikatrol (ditolong) oleh orang faham dan khusyu' dalam berdo'a Hal ini sama dengan sholat berjama'ah tersebut. Bila salah satu diterima amal sholatnya maka diterima semua yang berjama'ah tersebut. Karena itu sholat berjama'ah lebih baik dari sholat sendiri. Bahkan Imam Hambali menghukumi Fardlu Ain. Ada Hadits Nabi sebagai berikut: "Nabi didatangi seorang sahabat. Sahabat menyampaikan bahwa ia sering lupa do'a yang sudah diajarkan Nabi. Lalu Nabi mengatakan, "Bacalah do'a di bawah ini" maka nilainya sama".
"Ya Allah aku tidak tabu apa yang di doakan oleh Nabi Tapi aku juga ikut mohon doa itu. Dan apa yang diminta NAbi untuk dijauhkan dari bahaya, aku juga mohon ya Allah".
4. Doa yang bersifat "dorongan" yaitu: orang yang berdoa tidak maqbul karna jiwanya tidak bersih, sehingga perlu didorong atau di amini oleh orang yang maqbul doanya dan bersih hatinya�Ada hadits sebagai berikut "Ada tiga orang sahabat yang sedang berzikir di masjid. Salah satunya adalah Abu Hurairah yang masih muda usia. Lalu masuklah Nabi sambil bersabda: berdoalah kamu dan aku mengamininya. Satu persatu mereka berdoa dan di amini oleh Nabi. Giliran ketiga pada Abu Hurairah berdoa sebagai berikut: "Ya Allah semua yang diminta sahabat yang pertama, aku mohon juga. Begitu pula yang diminta sahabat yang kedua aku mohon juga Sekarang aku mohon untuk diriku sendiri. Ya Allah sejak kecil aku ini pelupa, aku mohon agar dapat hafal semua yang diajarkan Nabi". Doa Abu Hurairah inipun di amini Nabi, maka sejak itulah la menjadi penghafal/perawi Hadits terbanyak. Ini karena dorongan amin Nabi yang langsung di terima Allah".
Pengajian Dzikrul Ghafilin ini semakin lengkap dan dilkuti oleh ribuan muslimin/muslimat, setelah digabung dengan sema'an Al-Qur'an Mantab" yang dirintis oleh Gus Mik, dan kini dikoordinasi oleh KH. Farid Wajdi (putra Sulung Kyai Achmad). Pengajian "Dzikrul Ghafillin dan Istima'ul Qur'an" ini tidak hanya dilakukan di Jember, bahkan hampir semua Kabupaten di Jawa Timur dan Jawa Tengah (ternasuk Kraton Yogya dan kantor�kantor pemerintah pun) sudah mengadakan kegiatan ini secara rutin.
Kedekatan KH. Achmad Shiddiq dengan Gus Mik tidak hanya pada penggabungan Dzikrul Ghofilin dengan sema' an Qur' an Mantab saja. Bahkan eratnya hubungan itu terikat rapat setelah kedua tokoh itu "besanan". Putra Kyai Achmad (Gus Hisyam Rifqi) menikah dengan putri Gus Mik (Tahta Alfina Pagelaran) sedang Ning Nida Dusturia (Putri Kyai Achmad) Dinikahkan dengan Gus Robert Syaifun Nuwas (putra Gus Mik), lebih dari itu Gus Firjaun (putera Bungsu Kyai Achmad) menikah dengan Ning Sofratul Lailiyah (Ponaan Gus Mik).
Dengan dzikrul ghafilin Kyai Achmad berikhtiar menciptakan suasana religius guna membentengi masyarakat dalam memasuki kehidupan modern, karena modernisasi menurut Kyai Achma cenderung membawa mudirrunisasi. yakni suatu proses yan mengarah kepada sesuatu yang memudharatkan, sehingga pengembangan suasana religius merupakan kondisi yang harus mendapatkan prioritas.
D. BINTANG KYAI ACHMAD
Pada Munas Ulama NU di Situbondo pada bulan Desember 1983, KH. Achmad Shiddiq menjelaskan makalahnya tentang "Penerimaan Azas Tunggal Pancasila bagi NU". Beliau menyampaikan pokok-pokok fikiran dan berdialog tanpa kesan apolog: Beliau ungkap argumentasi secara mendasar dan rasional dari segi agama, historis maupun politik. "Pancasila dan Islam adalah hal yang dapat sejalan dan saling menunjang. Keduanya tidak bertentangan dan jangan dipertentangkan",kata Kyai Achmad.
Lebih lanjut ditegaskan: "NU menerima Pancasila berdasar pandangan syari�ah. bukan semata-mata berdasar pandangan politik. Dan NU tetap berpegang pada ajaran aqidah dan syariat Islam. Ibarat makanan, Pancasila itu sudah kita makan selama 38 tahun, kok baru sekarang kita persoalkan halal dan haramnya katanya setengah bergurau penuh diplomatic. Sungguh luar biasa, ratusan kyai yang sejak awal menampik Pancasila sebagai satu�-saatunya Azas organisasi, berangsur-angsur berobah sikap dan menyepakatinya. Sejak saat itulah, sejarah mencatat NU menjadi ormas keagamaan yang pertama menerima Pancasila sebagai satu-satunya Azas.
Nama Kyai Achmad melejit bak "Bintang Kejora", dalam Munas NU itu. Dan tak heran, dalam Muktamar NU ke 27 di Situbondo itu, Kyai Achmad Shiddiq terpilih sebagai Ro'is Aam PBNU, sedang KH. Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum Tanfidziahnya, bentuk pasangan yang, ideal.
Duet Kyai Achmad dan Gus Dur temyata marnpu mengangkat pamor NU ke permukaan. Beberapa. kali NU bisa selamat ketika menghadapi setiap persoalan besar dan pelik berkat kepemim�pinan keduanya. Semisal goncangan, ketika Kyai As' ad yang kharismatik mengguncang NU dengan sikap mufaroqohnya terhadap kepemimpinan Gus Dur. Dalam Munas NU di cilacap tahun 1987, Kyai As' ad menginginkan Gus Dur dijadikan agenda Munas, dan diganti. Namur demikian, Kyai Achmad Shiddiq dan Kyai Ali Ma'shum tampil membelanya.
Kyai Achmad dalam posisi sulit dan menentukan itu mampu meyakinkan warga NU untuk tetap kukuh dengan khittah NU 1926. Pada Muktamar ke-28 di Yogyakarta pada tahun 1989 Kyai Achmad menegaskan pendiriannya tentang Khittah. "NU ibarat kereta, api, bukan taksi yang bisa, dibawa, sopirya, ke mana, saja. Rel NU sudah tetap", ujarnya bertamsil. Dengan tamsil ini pula Muktamar Yogyakarta dapat mempertahankan duet Kyai Achmad dengan Gus Dur.
Dan kepulangan Kyai Achmad dari Muktamar Yogyakarya, Kyai Achmad sakit Diabetes Melitus (kencing manis yang parsh). Kyai Achmad dirawat di RS. Dr. Sutomo, Surabaya.
"Tugasku di NU sudah selesai", kata Kyai Achmad Shiddiq pada rombongan PBNU yang membesuknya di RSU Dr. Sutomo, Ternyata isyarat itu benar. Tanggal 23 Januari 1991, Kyai Achmad Shiddiq wafat. Rois Aam PBNU yang berwajah sejuk itu menanggalkan beberapa jabatan penting:
1. Anggota DPA (Dewan Pertimbanzan Agung)
2. Anggota BPPN (Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional)
KH Achmad Shiddiq dimakamkan di kompleks makam Auliya, Tambak Mojo, Kediri. Di makam itu juga sudah dimakamkan 2 orang Auliya sebelumnya. "Aku seneng di sini Besok kalau aku mati dikubur sini saja", wasiat Kyai Achmad pada istri dan anak-anaknya. Walaupun berat hati karena jauhn dari Jember, keluarganyapun merelakannya sebagai penghormatan pada bapak yang sangat di cintainya
Ribuan muslimin dan muslimat melayat ke pemakaman Kyai Achmad Shiddiq. Jenazah terlebih dulu disemayamkan di rumah duka (kompleks Pesantren Ashtra. Talangsari) dan keesok harinya, barulah beriring-iringan mobil yang berjumlah seratus itu mengantarkannya di tempat yang jauh, tetapi menyenangkannya. Sang Bintang Kejora itu jauh dari Jember tetapi sinarnya tetap cemerlana dari pemakaman Tambak nun jauh.
Sekitar 5 tahun setelah wafatnva, tepatnya pada tanggal 9 Nopember 1995, Kyai Achmad masih mendapatkan penghargaan "Bintang Maha Putera NARARYA, dari Pemerintah dan beliau tercatat sebagai Pahlawan Nasional Mantan Tokoh NU (Sumber ; Buku Biografi Mbah Shidd
Achmad ditinggal abahnya dalam usia � 8 tahun. Dan sebelumnya pada usia � 4 tahun, Achmad sudah ditinggal ibu kandungnya yang wafat ditengah perjalanan di laut, ketika pulang dari menunaikan ibadah haji. Jadi, sejak usia anak-anak, Kyai Achmad sudah yatim piatu. Karena itu, Kyai Mahfudz Shiddiq kebagian tugas mengasuh Achmad, sedangkan Kyai Halim Shiddiq mengasuh Abdullah yang masih berumur � 10 tahun. Ada yang menduga, bahwa bila Achmad terkesan banyak mewarisi sifat dan gaya berfikir kakaknya (Kyai Mahfudz Shiddiq). Kyai Achmad memiliki watak sabar, tenang dan sangat cerdas. Wawasan berfilkirmya amat luas baik dalam ilmu agama maupun pengetahuan umum.
Kyai Achmad belajar mengajinya mula-mula kepada Abahnya sendiri, Kyai Shiddiq. Kyai Shiddiq sebagaimana uraian-uraian sebelumnya, dalam mendidik terkenal sangat ketat (strength) terutama dalam hal sholat. Beliau wajibkan semua putra-putranya sholat berjama'ah 5 waktu. Selain mengaji pada abahnya, Kyai Achmad juga banyak menimba ilmu dari Kyai Machfudz, banyak kitab kuning yang diajarkan oleh kakaknya,
Sebagaimana lazimnya putra kyai, lebih suka bila anaknya dikirim untuk ngaji pada kyai-kyai lain yang masyhur kemampuannya. Kyai Mahfudzpun mengirim Kyai Achmad menimba i1mu. di Tebuireng. Semasa di Tebuireng, Kyai Hasyim melihat potensi kecerdasan pada Achmad, sehingga, kamarnya pun dikhususkan oleh Kyai Hasyim. Achmad dan beberapa putra-putra kyai dikumpulkan dalam satu. kamar. Pertimbangan tersebut bisa dimaklumi, karena para putra kyai (dipanggil Gus atau lora atau Non) adalah putra mahkota yang akan meneruskan pengabdian ayahnya di pesantren, sehingga pengawasan, pengajaran dan pembinaannyapun cenderung dilakukan secara, khusus/lain dari santri urnumnya.
Pribadinya yang tenang itu. menjadikan Kyai Achmad disegani ol eh teman-temannya. Gaya bicaranya yang khas dan memikat sehingga dalam setiap khitobah, banyak santri yang mengaguminya. Selain itu, Kyai Achmad juga seorang kutu buku/ kutu kitab (senang baca). Di pondok Tebuireng itu pula, Kyai Achmad berkawan dengan Kyai Muchith Muzadi. Yang kemudian hari menjadi mitra diskusinva dalam merumuskan konsep-konsep strategis, khususnya menyangkut ke-NU-an, seperti buku Khittah Nandliyah, Fikroh Nandliyah, dan sebagainya.
Kecerdasan dan kepiaNvaiannya berpidato, menjadikan Kyai Achmad sangat dekat hubungannya dengan Kyai Wahid Hasyim.
Kyai Wahid telah membinbing Kyai Achmad dalam Madrasah Nidzomiyah. Perhatian Gus Wahid pada. Achmad sangat besar. Gus Wahid juga mengajar ketrampilan mengetik dan membimbing pembuatan konsep-konsep.
Bahkan ketika Kyai Wahid Hasyim memegang jabatan ketua. MIAI, ketua NU dan Menteri Agama, Kyai Achmad juga yang dipercaya sebagai sekretaris pribadinya. Bagi Kyai Achmad Shiddiq, tidak hanya ilmu KH. Hasyim Asy'ari yang diterima, tetapi juga ilmu dan bimbingan Kyai Wachid Hasyim direnung�kannya secara mendalam. Suatu pengalaman yang sangat langka, bagi seorang santri.
B. KETOKOHAN KYAI AHMAD
Ketokohan Kyai Achmad terbaca masyarakat sejak menyelesaikan belajar di pondok di Tebuireng, Kyai Achmad Shiddiq muda mulai aktiv di GPII (Gabungan Pemuda Islam Indonesia) Jember. Karirnya di GPII melejit sampai di kepengurusan tingkat Jawa Timur, dan pada Pemilu 1955, Kyai Achmad terpilih sebagai anggota DPR Daerah sementara di Jember.
Perjuangan Kyai Achmad dalam mempertahankan kemerde�kaan '45 dimulai dengan jabatannya sebagai Badan Executive Pemerintah Jember, bersama A Latif Pane (PNI), P. Siahaan. (PBI) dan Nazarudin Lathif (Masyumi). Pada saat itu, bupati dijabat oleh "Soedarman, Patihnya R Soenarto dan Noto Hadinegoro sebagai sekretaris Bupati.
Selain itu, Kyai Achmad juga berjuang di pasukan Mujahidin (PPPR) pada tahun 1947. Saat itu Belanda. melakukan Agresi Militer yang pertama. Belanda merasa kesulitan membasmi PPPR, karena anggotanya adalah para Kyai. Agresi tersebut kemudian menimbulkan kecaman internasional terhadap Belanda sehingga muncullah Perundingan Renville. Renville memutuskan sebagai berikut:
1. Mengakui daerah-daerah berdasar perjanjian Linggarjati
2. Ditambah daerah-daerah yang diduduki Belanda lewatAgresi harus diakui Indonesia.
Sebagai konsekwensinya perjanjian Renville, maka pejuang�-pejuang di daerah kantong (termasuk Jember) harus hijrah. Para pejuang dari Jember kebanyakan mengungsi ke Tulung Agung. Di sanalah Kyai Achmad mempersiapkan pelarian bagi para pejuang yang mengungsi tersebut.
Pengabdiannya di pemerintahan dimulai sebagai kepala KUA (Kantor Urusan Agama) di Situbondo. Saat itu di departemen Agama dikuasai oleh tokoh-tokoh NU. Menteri Agama adalah KH. Wahid Hasyim (NU). Dan karirnya di pemerintahan melonjak cepat. Dalam waktu singkat, Kyai Achmad Shiddiq menjabat sebagai kepala, kantor Wilayah Departemen Agama di Jawa Timur.
Di NU sendiri, karir Kyai Achmad bermula di Jember. Tak berapa lama, Kyai Achmad sudah aktiv di kepengurusan tingkat wilayah Jawa Timur, sehingga di NU saat itu ada 2 bani Shiddiq yaitu: Kyai Achmad dan Kyai Abdullah (kakaknya). Bahkan pada Konferensi NU wilayah berikutnya, pasangan kakak beradik tersebut dikesankan saling bersaaing dan selanjutnya Kyai Achmad Shiddiq muncul sebagai ketua wilayah NU Jawa Timur
Tetapi Kyai Achmad merasa tidak puas dengan kiprahnya selama ini. Panggilan suci untuk mengasuh pesantren (tinggalan Kyai Shiddiq) menuntut kedua Shiddiq tersebut mengadakan komitmen bersama. Keputusannya adalah Kyai Abdullah Shiddiq lebih menekuni pengabdian di NU Jawa Timur, sedangkan Kyai Achmad Shiddiq mengasuh pondok pesantrennya,
Kyai Achmad Shiddiq termasuk ulama yang berpandangan moderat dan unik sebagai tokoh NU dan kyai, ia tidak hanya alim tetapi juga memiliki apresiasi seni yang mengagumkan. Beliau tidak hanya menyukai suara Ummi Kultsum, bahkan juga suka suara musik Rock seperti dilantunkan Michael Jackson. "Manusia itu memiliki rasa keindahan, dan seni sebagai salah-satu jenis kegiatan manusia tidak dapat dilepaskan dari pengaturan dan penilaian agama (Islam). Oleh karena itu, apresiasi seni hendaknya ditingkatkan mutunya. "Apresiasi seni itu harus diutamakan mutu dari seni yang hanya mengandung keindahan menuju seni yang mengandung kesempurnaan, lalu menuju seni yang mengandung keagungan.Selanjutnya Kyai Achmad memberikan penjelasan sebagai berikut, Seni itu sebaiknya :
1 . Ada seni yang diutamakan seperti sastra dan kaligrafi.
2. Ada seni yang dianjurkan seperti irama lagu dan seni suara.
3. Ada seni yang dibatasi seperti seni tari.
4. Ada seni yang dihindari seperti pemahatan patung dan seni yang merangsang nafsu
Dalam memberikan nama untuk anak-anak-nya, Kyai Achmad senantiasa mengkaitkan calon nama yang bernuansa seni dengan pengabdian atau peristiwa-penstiwa penting. Seperti kelahiran putranya yang lahir bersamaan dengan karimya sebagai anggota DPR Gotong-Royong, yaitu Mohammad Balya Firjaun Barlaman, demikian juga Ken Ismi Asiati Afrik Rozana, lahir bertepatan dengan konferensi Asia Afrika.
Kyai Achmad menikah dengan Nyai H. Sholihah binti Kyai Mujib pada tanggal 23 Juni 1947, dan dikaruniai 5 orang anak, yaitu:
1. KH. Mohammad Farid Wajdi (Jember)
2. Drs. H. Mohammad Rafiq Azmi (Jember)
3. Hj. Fatati Nuriana (istri Mohammad Jufri Pegawai PEMDA Jember).
4. Mohammad Anis Fuaidi (wafat kecil), clan
5. KH. Farich Fauzi (pengasuh pondok pesantren Al-Ishlah Kediri).
Nyai Sholihah tidak berumur panjang, Allah memanggilnya ketika putra-putrinya masih kecil. Sehingga keempat anaknya itu di asuh oleh Nyai Hj. Nihayah (adik kandung ketiga Nyai Sholihah). Melihat eratnya hubungan anak-anak dengan bibinya, maka Nyai Zulaikho (kakaknya) kemudian mendesak Kyai Achmad agar melamar Nihayah. Dan Kyai Mujib pun menerima lamaran tersebut. Pernikahan Kyai Achmad Shiddiq dengan Nyai Hj. Nihayah binti KH. Mujib (Tulung Agung) memnpunyai 8 orang putra, yaitu:
1. Asni Furaidah (isteri Zainal Arifin, SE.)
2. Drs. H. Moh. Robith Hasymi (Jember).
3. Ir. H. Mohammad Syakib Sidqi (Dosen di Sumatra Barat)
4. H. Mohammad Hisyarn Rifqi (suami Tahta Alfina Pagelaran, Kediri).
5. Ken Ismi Asiati Afrik Rozana, BA (istri Drs. Nurfaqih, guru SMA Jember).
6. Dra. Nida, Dusturia (istri Tijani Robert Syaifun Nuwas bin Kyai Hamim Jazuli).
7. H. Mohammad Balya Firjaun Barlaman (pengasuh PP. Al Falah Ploso Kediri).
8. Mohammad Muslim Mahdi (wafat kecil)
Aktivitas pengajian Kyai Achmad mendapatkan sambutan hangat di masyarakat. Pesan-pesan agama disampaikannya dengan bahasa dan logika yang sederhana sehingga mudah dicerna. semua kalangan. Pengajian-pengajiannya dikemas secara khusus, seperti yang peruntukkan untuk masyarakat umum (kalangan awam) pada setiap malam senin sudah dirintisnya sejak tahun 1970-an dan tetap berlangsung hingga sekarang, Pengajian setiap malam Selasa, yang diperuntukkan bagi kalangan intelektual, sarjana, dosen dan tokoh-tokoh masyarakat membahas secara, kontemporer dan apresiatif kitab Ihya� Ulumiddin karangan Imam Ghozali.
Pengajian-pengajian Kyai Achmad banyak bernuansa Tasawwuf. Ada 3 unsur utarna dari tasawwuf yang dapat menuntun seseorang untuk bertasawwuf dari tingkat rendah menuju peningkatan diri secara bertahap, yaitu:
1. Al Istiqomah: yang berarti; tekun, telaten, terus-menerus tidak bosan-bosan mengamalkan apa saja yang dapat diamalkan Mungkin baca Yasin tiap malam Jum'at, mungkin baca Istighfar sekian kali dalam setiap malam, dan sebagainya.
2. Az Zuhd: yang berarti terlepas dari ketergantungan hati /batin dengan harta benda kekuasaan, kesenangan, dan sebagainya, yang ada, di tangannya sendiri, apalagi yang ada di tangan orang lain. Tidak tergantung berbeda dengan tidak memiliki, berbeda, dengan tidak punya. Seorang "Zahid" bisa saja kaya, tetapi hatinya tidak tergantung pada kekayaannya. Barang siapa yang tidak berputus asa karena sesuatu yang terlepas dari tangannya dan tidak bergembira, (melewati batas) dengan sesuatu yang diterimanya dari Allah maka dia sudah mendapatkan zuhud pada, kedua belah ujungnya.
3. Al Faqir: artinya, selalu menyadari kebutuhan diri kepada Al�lah. Kesadaran yang mendalam dan terus-menerus, tentang "dirinya membutuhkan Allah" tidak selalu ada pada setiap or�ang. Pada suatu saat kesadarannya, akan tinggi tetapi saat lain kesadarannya menurun.
C. DZIKRUL GHOFILIN
Pengajian malam Senin tersebut itu dinamakan "Majlis Dzikrul Ghofilin" yang artinya, majlis dzikirnya orang-orang lupa. Maksudnya orang-orang yang lupa adalah sifat relatif pada manusia yang selalu lupa. (agar selalu ingat Allah) sehingga perlu selalu diingatkan melalui Dzikir tersebut. Pada acara-acara tersebut, selain mengamalkan sholat tasbih, dzikir, Kyai Achmad biasanya mendahului menyampaikan ceramah agamanya.
Majlis Dzikrul Ghafilin yang dirintis pada awal tahun 1970-an tersebut 20 tahun berikutnya telah dilkuti oleh sekitar 20.000 orang Jamaah yang tersebar diseluruh Jawa, dan selanjutnya Jamaah pada setiap daerah mengembangkannya lebih lanjut dikawasan masing-masing.Secara historis, pada tahun 1973 Kyai Achmad mendapat ijazah dari Kyai Hamid untuk membaca Fatihah 100 kali setiap hari. Selanjutnya. Kyai Achmad mengadakan riyadlah di PPI. Ashtra beberapa tahun, baru setelah itu bacaan fatihah 100 kali dipadukan dengan bacaan lain untuk diwiridkan bersama-sama. Kemudian cara mernbacanya bisa dibagi dan dicicil dengan ketentuan: Subuh 30 kali, Dhuhur 25 kali, Ashar 20 kali, Maghrib 15 kali dan Isya' 10 kali. Dzikrul Ghafilin paling afdhal jika dibaca setelah sholat dan dibaca dengan hati yang talus ikhlas. Ada ceritera menarik antara Kyai Achmad dan Kyai Hamid: "Setiap memasuki tapal batas Pasuruan, Kyai Achmad selalu mengucapkan salam kepada Kyai Harnid. Ketika bertemu, Kyai Hamid menyatakan bahwa beliau selalu menjawab salam Kyai Achmad".
Dzikrul Ghafilin yang namanya diambil dari Al-Qur'an surat Al-A�raf 172 dan 265 menurut Kyai Achmad adalah wirid biasa, bukan wirid. thariqat. Jika tariiqat dengan bai'at, kalau tidak menegakkan pasti dosa, sedang dzikrul ghafilin adalah dengan ijazah. Pengamalannya tanpa menimbulkan efek camping dan isi bacaannya terdiri dari Al-Fatihah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Istighfar, Sholawat dan tahlil
Ada 3 orang Kyai yang ikut meramu bacaan-bacaan dalam dzikrul ghafilin, yaitu: KH. Abdul Hamid bin Abdullah (Pasuruan), KH. Achmad Shiddiq (Jember) dan KH. Hamim Jazuli (Gus Mik, Kediri). Bahkan menurut Gus Mik, ada tiga tokoh lagi yang ikut andil dalam wirid dzikrul ghafilin, yaitu Mbah Kyai Dalhar (Gunung Pring Muntilan Magelang), Mbah Kyai Mundzir (Banjar Kidul Kediri), dan Mbah Kyai Hamid (Banjar Agung Magellang).
Tawashul bil Fatihah, dalam kitab dzikrul ghafilin ditujukan kepada:
1 . Rasulullah Muhammad Saw.
2. Malaikat Jibril, Mikail, Isrofil, Izroil, Penjaga Arsy, dan Malaikat Muqorrobin.
3. Nabi-nabi dan Rasul-rasul
4. Ulul Azmi (Nabi Nuh As, Nabi lbrohim As, Nabi Musa As, Nabi Isa dan Nabi Muhammad saw)
5. Istri-istri Nabi (Siti Aisyah, Siti Hafsoh. Siti Sa'udah, Siti Shofiayh, Siti Maimunah, Siti Roulah, Siti Hindun, Siti Zainab, dan Siti Zuwairiyah)
6. Putra-putri Nabi (Qosyim, Abdullah, Ibrohim, Fatimah, Zainab, Ruqoyyah dan Ummi Kultsum).
7. Keturunan (Dzurriyah) Nabi saw.
8. KeluargaNabi saw.
9. Shahabat Nabi saw, khususnya Ahli Badar (yang wafat saat perang Badar, dari Muhajirin dan Anchor)
10. Pengikut Nabi saw yaitu para Syuhada', 'ulama, 'auliya', sholihin, mushonniffin, muallifin, Mbah-mbah, orang tua (bapak dan ibu) dan orang-orang yang benar.
11. Nabi Khodliri Abi Abbas Balya bin Malkan As.
12. Sultonil' Auhya' Awwal yaitu:
a. Abi Muhammad Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Tholib
b. Sayyidina Husein ra.
c. Sayyidina Ali bin Abi Tholib ra.
d. Sayyidatina. Fatimah Az-Zahro ra,
13. Sayyid Syech Muhyiddin Abu Muhammad (Sultonil' Auliya� Syech Abdul Qodir Al-Jilani ra) bin Abi Sholih Musa jangkadusat
14. Sayyid Syech Ali Muhammad Bahauddin Naqsabandi ra.
15. Sayyid Syech Abu Hamid Muhammad Al-Ghozali ra.
16. Sayyid Syech Achmad Ghozali (adik Imam Ghozali)
17. Sayyid Syech Abi Bakar As-Syibbli ra.
18. Sayyid Syech Qutub Ghowtsi Habib Abdillah bin Alwi Haddad ra.
19. Sayyid Syech Abi Yazid Toymuri bin lsa Bustomi ra.
20. Sayyid Syech Muhammad Hanafi.
21. Sayyid Syech Yusuf bin Ismail A-Nabhani ra.
22. Sayyid Syech Jalaluddin As-Suyuti ra.
23. Sayyid Syech Abu Zakariya Yahya bin Sarafinnawawi ra.
24. Sayyid Syech Abdul Wahhab As-Syaroni ra.
25. Sayyad Syech Ali Nuruddin Asy-Syowni ra.
26. Sayyid Syech Abi Abbas Achmad bin Ali Al-Buni ra.
27. Sayyid Svech Ibrohim bin Adhama ra.
28. Sayyid Syech Ibrohim. Ad-Dasuqi ra.
29. Sayyid Syech Abu Abbas Syihabuddin Achmad bin Umar Anshori Al-Anshori Al-Mursiy
30. Sayyid Syech Sa'id Abdul Karim Al-Bushiri.
31. Sayyid Syech Abu Hasan Al-Bakri.
32. Sayyid Syech Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bucho�ri.
33. Sayyid Syech Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani.
34. Sayyid Syech Tajuddin bin Athoillah Al-Askandari ra.
35. Mazhab Ernpat, Khususnya:
a Sayyid Syech Imam Muhammad bin Idris As-Syafi�i
b. Sayyid Syech Abu Hafsin Umar As-Suhrawardi
c. Sayyid Syech Abi Madyan
d- Sayyid Syech Ibnu Maliki Al-Andalusi
e. Sayyid Syech Abu Abdulloh Muhammad bin SulaimanAl� Jazuli
f Sayyid Syech Muhyiddin bin Al-Arabi
g. Sayyid Syech Imon bin Husayni ra.
36. Al Qutub Al Kabir Sayyid Syech Abdussalam 1bnu Masyisyi
37. Sayyid Syech Abu Hasani. Ali bin Abdillah bin Abdul Jabbar As-Syadzi1i
38. Sayyid Syech Abi Mahfudz Ma'ruf Al-Karkhiy
39. Sayyid Syech Abi Hasani Sari As-Saqofi
40. Sayyid Syech Abu Qosim Al-Imam Junaidi Al-Baghdadi
41. Sayyid Syech Abu `Abbas Ahmad Badawi
42. Sayyid Syech Abu Husain Rifa'i
43. Sayyid Syech Abu Abdillah Nu' man
44. Sayyid Syech Imam Hasani bin Abu Hasani Abi Sa'id Bashri
45. Sayyidati Robi'ah Al-Adawiyah ra.
46. Sayyidati Ubaidah binti Abi Kilab ra
47. Sayyid Syech Abu Sulaiman Ad-Daroni ra
48. Sayyid Syech Abu Abdillah Al-Harits bin Asadi Al-Muhasibi ra.
49. Sayyid Syech Abi Faydl dzinnun Al-Misry ra,
50. Sayyid Syech Abi Zakariyya. Yahya bin Mu'adz Ar-Rozy ra
51. Sayyid Syech Abi Sholih Hamdun an-Naisabur.
52. Sayyid Syech Husaini bin Mansur Al-Hallaj ra.
53. Sayyid Syech Jalaluddin Ar-Rumy ra.
54. Sayyid Syech Abi Hafsin Syarafiddin Umar bin Farid Al- Hamawiy Al-Mirsi ra.
55. Ikhwan Dzikrul Ghafilin
56. Orang yang hidup dan mati baik itu:
a. Orang-orang shalihin
b. Auliya Rijalillah
c. Orang-orang yang Arif
d. Ulama Amilin
e. Para Auliya Jawa dan Madura khususnya Wali Songo
f. Kaum Sufi Muhaqiqin
Tentang "Tawassul", Kyai Achmad memberikan penjelasan bahwa do' a tawashul ada dua macam:
1. Doa yang harus "dikatrol", yaitu. Yaitu orang yang tidak faham dan tidak maqbul do' anya akan dikatrol (ditolong) oleh orang faham dan khusyu' dalam berdo'a Hal ini sama dengan sholat berjama'ah tersebut. Bila salah satu diterima amal sholatnya maka diterima semua yang berjama'ah tersebut. Karena itu sholat berjama'ah lebih baik dari sholat sendiri. Bahkan Imam Hambali menghukumi Fardlu Ain. Ada Hadits Nabi sebagai berikut: "Nabi didatangi seorang sahabat. Sahabat menyampaikan bahwa ia sering lupa do'a yang sudah diajarkan Nabi. Lalu Nabi mengatakan, "Bacalah do'a di bawah ini" maka nilainya sama".
"Ya Allah aku tidak tabu apa yang di doakan oleh Nabi Tapi aku juga ikut mohon doa itu. Dan apa yang diminta NAbi untuk dijauhkan dari bahaya, aku juga mohon ya Allah".
4. Doa yang bersifat "dorongan" yaitu: orang yang berdoa tidak maqbul karna jiwanya tidak bersih, sehingga perlu didorong atau di amini oleh orang yang maqbul doanya dan bersih hatinya�Ada hadits sebagai berikut "Ada tiga orang sahabat yang sedang berzikir di masjid. Salah satunya adalah Abu Hurairah yang masih muda usia. Lalu masuklah Nabi sambil bersabda: berdoalah kamu dan aku mengamininya. Satu persatu mereka berdoa dan di amini oleh Nabi. Giliran ketiga pada Abu Hurairah berdoa sebagai berikut: "Ya Allah semua yang diminta sahabat yang pertama, aku mohon juga. Begitu pula yang diminta sahabat yang kedua aku mohon juga Sekarang aku mohon untuk diriku sendiri. Ya Allah sejak kecil aku ini pelupa, aku mohon agar dapat hafal semua yang diajarkan Nabi". Doa Abu Hurairah inipun di amini Nabi, maka sejak itulah la menjadi penghafal/perawi Hadits terbanyak. Ini karena dorongan amin Nabi yang langsung di terima Allah".
Pengajian Dzikrul Ghafilin ini semakin lengkap dan dilkuti oleh ribuan muslimin/muslimat, setelah digabung dengan sema'an Al-Qur'an Mantab" yang dirintis oleh Gus Mik, dan kini dikoordinasi oleh KH. Farid Wajdi (putra Sulung Kyai Achmad). Pengajian "Dzikrul Ghafillin dan Istima'ul Qur'an" ini tidak hanya dilakukan di Jember, bahkan hampir semua Kabupaten di Jawa Timur dan Jawa Tengah (ternasuk Kraton Yogya dan kantor�kantor pemerintah pun) sudah mengadakan kegiatan ini secara rutin.
Kedekatan KH. Achmad Shiddiq dengan Gus Mik tidak hanya pada penggabungan Dzikrul Ghofilin dengan sema' an Qur' an Mantab saja. Bahkan eratnya hubungan itu terikat rapat setelah kedua tokoh itu "besanan". Putra Kyai Achmad (Gus Hisyam Rifqi) menikah dengan putri Gus Mik (Tahta Alfina Pagelaran) sedang Ning Nida Dusturia (Putri Kyai Achmad) Dinikahkan dengan Gus Robert Syaifun Nuwas (putra Gus Mik), lebih dari itu Gus Firjaun (putera Bungsu Kyai Achmad) menikah dengan Ning Sofratul Lailiyah (Ponaan Gus Mik).
Dengan dzikrul ghafilin Kyai Achmad berikhtiar menciptakan suasana religius guna membentengi masyarakat dalam memasuki kehidupan modern, karena modernisasi menurut Kyai Achma cenderung membawa mudirrunisasi. yakni suatu proses yan mengarah kepada sesuatu yang memudharatkan, sehingga pengembangan suasana religius merupakan kondisi yang harus mendapatkan prioritas.
D. BINTANG KYAI ACHMAD
Pada Munas Ulama NU di Situbondo pada bulan Desember 1983, KH. Achmad Shiddiq menjelaskan makalahnya tentang "Penerimaan Azas Tunggal Pancasila bagi NU". Beliau menyampaikan pokok-pokok fikiran dan berdialog tanpa kesan apolog: Beliau ungkap argumentasi secara mendasar dan rasional dari segi agama, historis maupun politik. "Pancasila dan Islam adalah hal yang dapat sejalan dan saling menunjang. Keduanya tidak bertentangan dan jangan dipertentangkan",kata Kyai Achmad.
Lebih lanjut ditegaskan: "NU menerima Pancasila berdasar pandangan syari�ah. bukan semata-mata berdasar pandangan politik. Dan NU tetap berpegang pada ajaran aqidah dan syariat Islam. Ibarat makanan, Pancasila itu sudah kita makan selama 38 tahun, kok baru sekarang kita persoalkan halal dan haramnya katanya setengah bergurau penuh diplomatic. Sungguh luar biasa, ratusan kyai yang sejak awal menampik Pancasila sebagai satu�-saatunya Azas organisasi, berangsur-angsur berobah sikap dan menyepakatinya. Sejak saat itulah, sejarah mencatat NU menjadi ormas keagamaan yang pertama menerima Pancasila sebagai satu-satunya Azas.
Nama Kyai Achmad melejit bak "Bintang Kejora", dalam Munas NU itu. Dan tak heran, dalam Muktamar NU ke 27 di Situbondo itu, Kyai Achmad Shiddiq terpilih sebagai Ro'is Aam PBNU, sedang KH. Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum Tanfidziahnya, bentuk pasangan yang, ideal.
Duet Kyai Achmad dan Gus Dur temyata marnpu mengangkat pamor NU ke permukaan. Beberapa. kali NU bisa selamat ketika menghadapi setiap persoalan besar dan pelik berkat kepemim�pinan keduanya. Semisal goncangan, ketika Kyai As' ad yang kharismatik mengguncang NU dengan sikap mufaroqohnya terhadap kepemimpinan Gus Dur. Dalam Munas NU di cilacap tahun 1987, Kyai As' ad menginginkan Gus Dur dijadikan agenda Munas, dan diganti. Namur demikian, Kyai Achmad Shiddiq dan Kyai Ali Ma'shum tampil membelanya.
Kyai Achmad dalam posisi sulit dan menentukan itu mampu meyakinkan warga NU untuk tetap kukuh dengan khittah NU 1926. Pada Muktamar ke-28 di Yogyakarta pada tahun 1989 Kyai Achmad menegaskan pendiriannya tentang Khittah. "NU ibarat kereta, api, bukan taksi yang bisa, dibawa, sopirya, ke mana, saja. Rel NU sudah tetap", ujarnya bertamsil. Dengan tamsil ini pula Muktamar Yogyakarta dapat mempertahankan duet Kyai Achmad dengan Gus Dur.
Dan kepulangan Kyai Achmad dari Muktamar Yogyakarya, Kyai Achmad sakit Diabetes Melitus (kencing manis yang parsh). Kyai Achmad dirawat di RS. Dr. Sutomo, Surabaya.
"Tugasku di NU sudah selesai", kata Kyai Achmad Shiddiq pada rombongan PBNU yang membesuknya di RSU Dr. Sutomo, Ternyata isyarat itu benar. Tanggal 23 Januari 1991, Kyai Achmad Shiddiq wafat. Rois Aam PBNU yang berwajah sejuk itu menanggalkan beberapa jabatan penting:
1. Anggota DPA (Dewan Pertimbanzan Agung)
2. Anggota BPPN (Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional)
KH Achmad Shiddiq dimakamkan di kompleks makam Auliya, Tambak Mojo, Kediri. Di makam itu juga sudah dimakamkan 2 orang Auliya sebelumnya. "Aku seneng di sini Besok kalau aku mati dikubur sini saja", wasiat Kyai Achmad pada istri dan anak-anaknya. Walaupun berat hati karena jauhn dari Jember, keluarganyapun merelakannya sebagai penghormatan pada bapak yang sangat di cintainya
Ribuan muslimin dan muslimat melayat ke pemakaman Kyai Achmad Shiddiq. Jenazah terlebih dulu disemayamkan di rumah duka (kompleks Pesantren Ashtra. Talangsari) dan keesok harinya, barulah beriring-iringan mobil yang berjumlah seratus itu mengantarkannya di tempat yang jauh, tetapi menyenangkannya. Sang Bintang Kejora itu jauh dari Jember tetapi sinarnya tetap cemerlana dari pemakaman Tambak nun jauh.
Sekitar 5 tahun setelah wafatnva, tepatnya pada tanggal 9 Nopember 1995, Kyai Achmad masih mendapatkan penghargaan "Bintang Maha Putera NARARYA, dari Pemerintah dan beliau tercatat sebagai Pahlawan Nasional Mantan Tokoh NU (Sumber ; Buku Biografi Mbah Shidd
Langganan:
Postingan (Atom)
